Apakah Lelaki Bukan Pilihan?

Lapangan Merdeka Monas, Akhirnya Kita duduk di sebuah bangku kayu di sana, bukan di puncak Jaya Wijaya Papua, bukan pula di sebuah pulau tak bernama di daerah perbatasan Indonesia – Filipina, seperti yang pernah Kita nujumkan dulu di Yogyakarta tempat pertama kita bertemu.
Aku masih ingat betul bagaimana Kamu diam mematung di bawah payung seraya menatap Istiqlal dan Katedral yang saling bersinggungan, waktu itu awal hujan di bulan mei, jalan di merdeka barat tampak dipenuhi kendaraan mobil dan motor yang bermacet-macetan, tetapi itu sama sekali tidak mengubah pandanganmu, Menjelang senja gerimis jatuh membasahi Kubah Istiqlal yang megah dan Menara Katedral yang tampak berdiri tegak di kejauhan.
Di depan lapangan merdeka itulah jejak Sejarah Indonesia ditulis dengan tinta – tinta darah, seperti namanya Lapangan merdeka adalah saksi bisu perjuangan masyarakat Indonesia dalam menggapai Kemerdekaan, 350 Tahun lamanya Negeri ini terjajah oleh Belanda, jepang, dan Inggris, dan Sejak 17 Agustus 1945 Indonesia telah menyatakan Kemerdekaannya dari penjajahan, dan dentum Proklamasi itupun masih tersimpan rapi dan kita bisa mendengarkannya di sini di sebuah gedung berbalut Emas api itu, Sementara di bangunnya Istiqlal adalah tanda Syukur Masyarakat atas Kemerdekaan yang sudah diraih, sejalan dengan Maknanya Istiqlal yang berarti adalah “Kemerdekaan”, dan letaknya yang berdampingan dengan Katedral Merupakan Simbol Keberagaman dan Kerukunan antar Umat beragama di Indonesia.
Tapi Aku tahu hatimu tak sedang menikmati pemandangan menakjubkan itu, dari pembaharuan status FB yang kamu tuliskan tadi pagi Aku tahu betapa berat langkahmu meninggalkan Surabaya demi sebuah Pekerjaan meliput sebuah Event di lapangan Merdeka Monas, dan Aku pun sama sepertimu berada di sini demi sesi Liputan yang harus Aku selesaikan.
Menatap Senja itu bagiku Seperti menatap masa depan di ujung sana, seperti hari-hari yang selalu berlalu dengan di akhiri senja, entah dengan matahari yang bulat pasang dan mega merah,pelangi ataupun badai,petir, angin,yang menyeramkan itu.
Menatapmu kali ini sepertiku menatap senjaku, ini tentangmu, Aku melihat matahari begitu cerah tak ragu menampakan wujudnya yang kemerah-merahan, mega merah tampak begitu menjanjikan, namun kehadirannya (kekasihmu) itu bagiku adalah badai, badai yang merenggut segalanya, badai yang meneggelamkan warna cintaku, serpihan hatiku bertaburan di langit tak bertuan sore itu, bayang mentari itupun gugus, sirna menusuk bola mataku, seiring tenggelamnya senja hatiku menerima catatan asmara yang kelam.

Bertemu dan bekerjasama dalam sebuah pekerjaan jelas bukan gagasan yang bagus, Kita sama-sama tak pernah mengingankannya, terutama aku mungkin sejak kamu meninggalkanku demi lelaki yang tak pernah Aku kenal itu, “Cinta itu tidak bisa dipaksa Mas” perkataan itu yang masih teriang-iang di kepalaku, lalu apa artinya ungkapan cintamu yang dulu, apa artinya pelukan dan kecupan itu, apa artinya kebersamaan kita di masa itu, tanyaku di kala itu, tetapi sampai sekarang aku tak pernah tahu jawabanmu.
“Aku lelaki tak mungkin menerimamu bila ternyata kau mendua membuatku terluka”
Lagu Iwan Fals itulah yang selalu menghiburku di malam-malam yang gelisah, jika aku mengingatmu dan dia, maka aku putuskan aku ini lelaki bukan untuk dipilih, lagu itu selalu mampu menyakinkanku, kamu memang telah menentukan pilihan tetapi aku ini lelaki punya harga diri seperti lagu Iwan Fals itu Aku ini Lelaki bukan pilihan, Aku tak akan mengemis meminta cintamu itu, Toh sampai saat ini kita baru bertemu lagi setelah 2 tahun setelah peristiwa itu.
Maka ditepi Lapangan Merdeka sore itu, aku memilih diam dan membiarkanmu tenggelam dalam lamunan, Aku tahu pikiranmu tengah mengembara ke satu sosok nan jauh disana, aku lebih suka kesunyian ini terdiam di udara mengalir bersama hujan gerimis di awal bulan mei, telah aku putuskan dalam hatiku Aku lelaki bukan untuk dipilih seperti senandung Iwan Fals yang pedih itu.

Inspired by Bukan lelaki pilihan ( Iwan Fals )

Iklan

Tentang Irman

Absurd, tapi punya fisik nyata, bisa dilihat, diraba, diplototin, sekaligus bikin ngangenin banyak orang.. Ciyuss
Pos ini dipublikasikan di cerpen. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s