Cermin Syukur

Duhai siapakah diri ini yang lebih banyak kufurnya di banding syukurnya,
Duhai siapakah diri ini yang lebih banyak tergesa-gesanya di banding sabarnya,
Duhai siapakah diri ini yang lebih banyak keburukannya daripada kebaikannya,
Duhai siapakah diri ini yang merasa putus asa dari sekian banyak Anugerah NYA,
Duhai siapakah diri ini yang mulai berani menyalahkan NYA, karena hanya ada satu doa yang belum terkabul,
Siapakah diri ini?? Duhai siapakah diri ini, siapakah diri ini..!

Apakah kau tak bercermin wahai diri, bercermin dari besarnya setiap dosa yang kau lakukan kemudian DIA mengampuninya ketika Engkau kembali, apakah kau tak bercermin wahai diri, dari kisah keluarga Yaseer yang menjadi syuhada awal dalam sejarah islam, karena keteguhannya menegakkan kalimat tauhid, Apakah kau tak bercermin wahai diri, dari ketegaran seorang Ibrahim melawan Raja Namrudz hingga dibakar hidup-hidup, Apakah kau tak bercermin wahai diri dari Kisah Nuh yang dikhianati kaumnya hingga anaknya, Apakah kau tak belajar wahai diri dari kesabaran seorang Nabi Zakaria yang mengharapkan seorang anak hingga hari tuanya, Apakah kau tak mengenal perjuangan seorang Muhammad Sallalah Alaihi wasalam, seorang yatim yang ketika besarnya menjadi seorang Agung yang dalam dakwahnya bukan cuma cacian dan hinaan yang didapat malah nyawa menjadi taruhan, Apakah sampai padamu wahai diri tentang kisah Ayub yang diberikan ujian penyakit Aneh hingga ditinggalkan kaum dan bahkan anak istrinya, Apakah sampai wahai diri kepadamu tentang kisah ketegaran Siti Masitoh, seorang tukang sisir Anak Raja Fir’aun yang tetep istiqamah walau ketika dimasak dalam air yang mendidih, ingatkah kau ketika itu pula anak bayinya mampu berbicara atas izin Allah, dan menyatakan keridhaannya untuk ikut dengan Ibunya dimasak dalam air tersebut. Apakah Engkau tak mampu bercermin dari seorang bayipun??

Lalu siapakah Engkau diri?? siapakah Engkau?? siapakah Engkau yang berputus asa dan menginginkan mati karena takut kenyataan belenggu dunia yang sementara dan kecil, kecil sekali, lalu siapakah engkau wahai diri yang terus menyalahkan dan marah kepada pencipta NYA,

Apakah sebatas itukah kau? hanya sebatas itu???

Hanya sebatas itukah Engkau diri??

Duhai Anak Adam yang lebih besar harap dunianya dari pada Cintanya kepada PenciptaNYA, Apakah tak sampai padamu kisah seorang Nabi Ibrahim yang berdoa terus menerus untuk mendapatkan seorang anak, dan ketika didapat Allah malah menyuruh untuk menyembelihnya, tak belajarlah Engkau wahai diri, Apakah hanya karena satu doamu belum terkabul Engkau malah memilih kufur, Dunia telah membelenggu hatimu wahai diri, dunia telah membelenggumu, Engkau telah menuhankan Dunia dan melupakan Sang Pencipta yang jauh lebih Agung dari sekedar harta benda, Duhai kembalilah wahai diri, kembali dalam syukur kembali dlam tobat kembali dalam sabar Sesungguhnya DIA Maha Penerima Tobat

*Untuk diri Pribadi Semoga semakin dan terus memperbaiki diri

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke Cermin Syukur

  1. dens berkata:

    temanya keren nih blog, puisinya introsfeksi diri, bagus, yg penting semangatnya tetap berkobar.salam sukses sob.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s