Senja yang hilang

Aku menatap tajam senja sore itu, ruah, megah, merah, Jingga, tak hingga. Warnanya jelas berpacu dalam waktu, kemerahan yang tenggelam digantikan gelap menerjang, entah sejak kapan aku mulai memperhatikan senja disetiap sore, mungkin ini hanya de javu masa kecil yang berulang, yang jelas vonis dokter terakhir itu membuatku kembali berdiri di segenap mega merah yang tak pernah ku gapai, Ahkk tidak, tidak, tidak, Aku tidak mau memulainya, Almarhum kakek, benarkah ini terjadi kepadaku, filosofi yang selalu teriang dikepalaku, “kehidupan itu sebentar nak, seperti satu hari perjalanan diawali dengan subuh dan di akhiri dengan senja” begitulah kakek selalu berucap, tetapi benarkah aku sedang menatap senjaku itu, cukup, cukup, Aku tidak mau berfilosofi apapun tentang senja, semua terjadi begitu saja, berulang dan berulang ketika waktunya tiba maka ia datang tak terbantahkan dan memang tak akan ada yang mampu membantahnya, hidupku buykan vonis dokter yang menentukan tohh aku masih merasa begitu sehat dan merasakan genggaman Istriku yang begitu lekat, rasanya aku sampai merasakan setiap detak diurat nadinya….”Bersambung”

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s