Mencintaimu

Hari ini ada yang bertambah dan ada pula yang berkurang. Adalah kau yang bersamanya, bercumbu dalam sebuah pelaminan yang megah, adalah sosok lelaki itu yang beruntung, sosok yang terakhir kau bilang seseorang yang bekerja pada perusahaan pertambangan, sosok dia yang terakhir kau bilang sebagai orang yang lebih dewasa, dan lebih mapan dariku. Cuma itu penjelasan terakhir yang aku dapatkan tepat dua bulan yang lalu, dan ketika itu aku tak mampu berucap apapun kecuali butiran-butiran doa dan ucapan selamat kepadamu. Karena bagiku kebahagianmu adalah yang utama walau bukan disisiku, aku tau betul posisiku sebagai orang yang mencinta dan bukan sebagai yang dicinta, entah apa yang terjadi hingga rasa cintamu itu mengapung di samudera biru tanpa menyisakan sedikitpun untukku, yaa tanpa sedikitpun sisa-sisanya, semua terjadi begitu saja, yaa begitu saja. Ketika aku mengaku semakin mencinta engkau malah sebaliknya, ketika aku menawarkan sebuah pernikahan kamu malah tertawa geli, memangnya kamu udah siap..! memang kamu udah punya uang berapa..! begitu engkau sering bergumam, dan bodohnya masih saja aku betah berada disisi orang yang tidak mengukir namaku dihatinya, setidaknya tidak sekarang pikirku, aku pernah berada di hatimu maka kenapa tidak kucoba kembali ke hati itu, tetapi sosok yang berdiri disampingmu itu menjadi jawaban kelabu bagiku.
Maka di pelaminanmu kali ini aku hanya bisa mengenang dalam, ketika kenangan-kenangan itu terbayang dan kemudian aku melihat sosok tinggi tegap itu disampingmu, aku memilih menunduk pelan, seakan hati berkecamuk, dan aku tahu kamu terus memperhatikanku kali ini, mungkin sedang menguji pertahananku untuk tidak menjatuhkan air mata, sama seperti yng terakhir kau lakukan ketika kau nyatakan akan menikah. Entah mengapa rasa itu begitu lekat walau dinding hati tempatnya berparasit runtuh tak bertuan. Pernah pula kamu bertanya “mengapa aku begitu mencintaimu, maka aku hanya bisa menyusun kalimat yang sama dari kebanyakan orang, karena aku mencintaimu, itu saja, tanpa alasan apapun kataku, dan setelah itu selalu saja kamu tersipu malu dengan pipi merona merah, dan aku menikmati senyummu itu, walau akhirnya senyum itu bukan lagi untukku meninggalkan ruang harapan yang kini terlihat kosong melompong karena ditinggalkan pemilik lamanya.

Karena cinta tak pernah beralasan, dia tidak stagnan, dia selalu ada pada kadar naik turun, walau setitik atau sejengkau ataupun sebesar gunung, dan ketika semua pintu terbuka disitulah dia menemukan hakekat, hakekat yang sebenarnya, hakekat yang mengajarkan arti hidup dan cinta, bahwa sejatinya cinta baik dari langit maupun dari bumi semua hanya menuju pada yang Maha Kuasa, sandaran diatas sandaran, dan tidak ada sebaik-baik pengemablain kecuali kepada-NYA.

Maka di hadapanmu kali ini aku memilih untuk beristigfar mengikhlaskan segenap rasa mengapung bersama udara luas diatas sana.

*yang mencintaimu semoga kamu bahagia dunia dan akhirat

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di cerpen. Tandai permalink.

2 Balasan ke Mencintaimu

  1. hanni hj berkata:

    lohhh ini cerpen ato curhatan? garuk garuk kepala bedainnya

  2. Irman berkata:

    Halahh.. ini masa lalu han.. ngga penting sih… Hihiii

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s