Mengenang Rina Shu

“Harus ikhlas menerima perubahan-perubahan, kadang dalam hidup ini ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan walau seberapa kerasnyapun kita berusaha”

Saya masih teriang-iang dengan kata-kata di atas, kata-kata tersebut saya copas dari status  facebook terakhir dari sahabat Saya yang bernama Rina Shu, sebelum fisiknya lusuh tak mampu menopang semangat hidupnya.Yaa, kemarin tepatnya hari kamis 20 maret 2014 Rina sahabat saya menghembuskan nafas terakhir, hari berkabung buat keluarga dan bagi siapapun yang mengenalnya.

Saya ingin berbagi sedikit tentang sosok Rina. Lahir dan tumbuh besar dengan membawa serta sebuah penyakit muscullar distropy (kelainan otot) sehingga kamar tidur dan kursi roda menjadi dunianya sehari-hari. Bahkan, untuk sekedar bangun dari tempat tidurnya pun Rina butuh bantuan orang lain, tetapi semua itu tidak pernah membuat semangatnya padam untuk mengejar mimpi-mimpinya. Menulis adalah kebiasaan yang digandruminya setelah ia putus sekolah ketika SMA, impian menjadi Psikolog dan ahli bahasa seakan runtuh waktu itu, tetapi Rina berkeyakinan tetap bisa maju meski keluar dari sekolah. Tujuan hidupnya adalah memberi arti ke sesama, dia pernah bilang betapa takutnya dirinya akan hidup yang berakhir begitu saja, tidak memberi arti apapun bagaikan seonggok daging yang jatuh ke bumi lalu hilang ditelan masa. Mengawali karir menjadi seorang penulis bukanlah hal yang mudah, Rina sempat mogok menulis, merasa tidak berbakat menulis karena penolakan-penolakan dari redaksi majalah yang ia kirimi, tetapi keyakinannya tumbuh kembali, dan ia pun menulis novel yang akhirnya bisa terbit melalui Divapress dengan sebelumnya diterbitkan lebih dulu melalui selfpublishing Nulisbuku.com. Setelah novel pertamanya terbit, buku-buku lain yang berupa antologi, cerpen, dan buku yang ia tulis bersama temannyapun menyusul terbit. Bahkan yang saya ketahui Rina sempat membuat sebuah penerbit selfpublishing bersama teman-temannya yang diberikan nama Jentera Pustaka.

Saya mengenal Rina dari seorang sahabat yang waktu itu adalah rekan kerja saya, mayang namanya yang merupakan sepupu dari Rina, karena saya sering ke rumahnya saya jadi akrab dan bercerita banyak hal, bahkan Rina tidak jarang memberikan saya support ketika saya merasa down, dan momen yang tidak mungkin saya lupakan adalah pekerjaan saya sekarang sebagai layouter penerbit indie yang berawal info lowongannya dari Rina, bahkan Rina mensupport saya berkali-kali untuk supaya saya segera melamar pekerjaan ini walau saya tak begitu pede ketika itu. Maklum, saya belum bisa design layout ketika itu. Dan alhamdulilah, tak terasa hampir 3 tahun berjalan, dan sekarang saya sudah jago layouter dengan Indesign. Bukan hanya soal pekerjaan, saya juga sering curhat masalah asmara dengan Rina, bercanda ini itu dan ledek-ledekan meski via online di fb. Rina bagi saya adalah kakak yang dipertemukan ketika saya sudah dewasa, sosok yang begitu periang, asik buat ngobrol, penyemangat. Saya bersyukur sempat memberikan hadiah ketiga buku untuknya sebagai ucapan terima kasih waktu itu karena saya diterima di tempat kerja.

Mengenal Rina bagi saya adalah sebuah pembuktian dari Tuhan bahwa benarlah firmanNya jika kita bersyukur maka akan diberikan lebih banyak lagi kelebihan-kelebihan, kemudahan-kemudahan bahkan dengan sesuatu yang kita bilang tak masuk akal, Rina dalam kondisi difabel mampu menjadi penulis, menginspirasi banyak orang, menjadi orang yang begitu percaya diri, dan semua itu karena rasa syukur bukan dengan kesibukan mengeluhi keadaan dan mengutuki kekurangannya. Tidak, tidak pernah keluhan itu keluar dari mulutnya.

Saya jadi ingat apa yang dikatakan Rina dalam antologi Berjalan Menembus Batas bersama Ahmad fuadi dan kawan-kawan, begini kira-kira:

“Yang aku butuhkan bukan kaki untuk berjalan tetapi yang aku butuhkan adalah semangat untuk berjuang, bahkan dengan semangat aku bisa menjelajahi tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh sepasang kaki. Aku yakin itu”

Untukmu Rina, kami yakin kamu sedang berlari dan menari-nari di Taman surga sambil tersenyum, sesuatu yang tak pernah bisa kau lakukan di alam nyata. Doa-doa terbaik selalu menyertaimu.

Alfatihah….

 

Salam

Irman

 1972485_745280318816652_282995044_n

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di Curhat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s