Lelaki cermin (Cerpen)

Lelaki itu menatap wajahnya tepat di depan cermin, kemudian ia bergumam “Adakah manusia penyepi selain diriku di dunia ini?, Tentu saja ada” kemudian ia menjawab sendiri seakan-akan lelaki yang di dalam cerminlah yang menjawabnya, begitu setiap harinya berulang dan berulang, kadang ia menasehati lelaki yang berada dalam cermin itu, kadang ia malah memarahinya, kadang tersenyum sipu atau malah tertawa terbahak-bahak, ia selalu membagikan apapun yang ada pada dirinya pada lelaki yang berada pada cermin, yang tidak lain adalah dirinya, lelaki cermin begitulah ia memberi gelar kepada dirinya sendiri, sesuatu yang abnormal dan begitulah memang ia. Pernah suatu ketika ia marah besar kepada lelaki yang berada dalam cermin, tahukah apa yang di lakukan, ia mengambil barbel ukuran kecil yang berada di bawah tempat tidurnya, dan kemudian ia memukul sekuat-kuatnya kepada lelaki itu, yang tidak lain adalah sebuah bayangan dari cermin, lalu apa yang terjadi, lelaki itu kemudian menggigil hebat dengan tangan yang masih bersimpah darah, mungkin ada perasaan bersalah, tetapi kekecewaan itu tidak lain adalah kepada dirinya sendiri bukan pada cermin yang sebenarnya bukan sesuatu apapun, pemuda itupun sadar bahwa cermin itu bukanlah sesuatu apapun, tetapi perasaan sepi mengabaikan logika itu. Dalam keadaan menggigil ia mengambil secarik kertas dan pulpen, sesuatu yang biasa ia lakukan, kemudian ia menuliskan sesuatu di atasnya. “Aku gila..! yaa aku gilaa..! mengapa aku jadi begini?,, akh siapalah aku?” hingga suara teriakannya memecah hening persis sama dengan apa yang ia tuliskan, marah, yaa mungkin ia marah sekali kepada dirinya, entah karena apa yang jelas pertempuran batin yang begitu kuat sedang menghantuinya, satu sisi ia ingin tetap hidup dengan normal di satu sisi lain ia merasa frustasi yang luar biasa. Bunuh diri, pikiran itu pernah terlintas, hampir saja ia melakukannya tetapi ternyata dunia masih menginginkannya untuk tetap bernapas walau dalam keadaan frustasi, ketika ia mencoba bunuh diri sebelum obat nyamuk yang sudah ia siapkan itu diminum, tiba-tiba suara HP yang berada di sakunya berdering, ibunya, yaa itu ibunya, sosok wanita yang paling ia sayang, walau ia tak mampu menceritakan apapun kepada sang bunda, tetapi suara bundanya yang hening mampu menggagalkan percobaan bunuh dirinya, dan sampai saat ini ia tak lagi mampu untuk merencenakan hal yang sama. Lelaki itu dulu adalah sosok periang, memang ia tidak akan mampu menyembunyikan sifat introvertnya kepada khalayak banyak, tetapi senyuman menyungging dari bibirnya itu siapalah yang tak tahu, hingga pada suatu ketika, ia memilih menyembunyikan senyum manisnya itu kepada siapapun kecuali pada lelaki yang berada pada cermin, itupun teramat jarang, kadang ia malah lebih banyak memarahinya, entah kemana senyuman itu, kemana semangatnya yang dulu ia bilang ingin menjadi psikolog, ingin ini dan itu, tetapi sekarang boro-boro menjadi psikolog mungkin lebih tepatnya ia yang harus dibawa ke psikiater, atau boleh saja sekalian dibawa kerumah sakit jiwa, segila itukah dia?? Ahh saya tidak tahu. Gadis berkacamata, semua ini sepertinya berawal dari gadis berkacamata itu, ohw bukan, bukan, lebih tepatnya ini semua berawal dari lelaki cermin itu sendiri, mengapa menjatuhkan hati teramat dalam pada sosok wanita yang tak mampu menghargainya, wanita yang mencampakkannya setelah lama menjalin kasih, karena apa? Mungkin tanyakan saja pada lelaki itu, yang jelas dia tidak pernah menceritakan apapun pada siapapun kecuali kepada lelaki yang berada dalam cermin atau sebuah buku diary yang selalu dibawanya kemana-mana. Jangan tanyakan lagi soal agama, soal cita-cita, atau soal minuman beralkohol sekalipun, semua sudah ia cicipi, tetapi semua berakhir hampa, ya hampa, tidak ada gairah hidup lagi berada pada jiwanya, fisiknya sehat tetapi jiwanya keruh, hatinya sudah musta’mal untuk menerima kebaikan-kebaikan dari Tuhan. Hari itu setelah memecahkan cermin di kamarnya ia terlelap dalam keadaan menggigil, iapun bermimpi aneh, pertama ditampilkan sosok dirinya yang sekarang, lelaki pecundang, putus asa, dan sampai berakhir pada bunuh diri ataupun kalau hidup penuh kesia-siaan, seperti mayat yang bernapas, tanpa kesan tanpa pesan, dan ditampilkan pula bagaimana orang mengenangnya, apakah meninggalkan jejak?, saya rasa tidak, yang kedua ditampilkan oleh mimpi itu sosok yang bersemangat mungkin persis dengan masa lalunya dulu sebelum mengenal gadis berkacamata itu, seorang energic yang tidak malu-malu berjualan di sekolahnya, pria yang mempunyai cita-cita tinggi, walau sekalipun gagal pria itu bangkit kembali, di mimpi itu diperihatkan pula kelebihan nikmat-nikmat yang sudah ia peroleh, dari mulai nikmat sehat, harta yang berkecukupan sampai pada sosok ibu yang begitu menyayanginya. Hingga datanglah sosok tua yang mengadilinya,” hayy anak muda kau mau pilih jalan mana? Jalan menyedihkan atau jalan perjuangan” katanya tegas, dan setelahnya pemuda itu kaget dan terbangun, “hanya mimpi” katanya dalam hati, kemudian ia kembali pada serpihan cermin yang masih berhamburan, dia melihat dari serpihan itu sosoknya yang lusuh sama persis dengan sosoknya yang berada di dalam mimpi tadi, kemudian ia membereskan serpihan itu, sama dengan kehidupannya yang sekarang, ia berniat membereskannya kembali seperti serpihan-serpihan cermin itu. “cermin bisa dibeli tetapi hidup hanya sekali, mau cari dimana lagi?” katanya dalam hati.. Kali ini Semoga ia benar-benar tersadar.

Senin di hari nyepi 31 Maret 2014

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di cerpen. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s