Gadisku yang hilang

Daun jatuh bersama tetes air hujan yang masih basah, sejenak memberikan suasana sejuk akan terik yang tadi siang begitu pengat. Aku masih di sini, di sisi jalan yang tak bernama, menemani setiap jejakmu yang hilang pergi, rasanya baru tadi pagi, padahal ini sudah hari kesekian atau mungkin bulan kesekian, semua terasa absurd di hati, burung-burung bernyanyi lirih, adakah kabar kamu di sana hari ini, di tempat yang tak pernah diizinkan aku menjengukmu sama sekali, dan anehnya masih saja aku mau menanti, masih saja aku mengharapkan balasan sms darimu entah untuk sekedar menanyakan kabar atau mungkin meminta dijemput pulang, tetapi semua itu sia-sia, berakhir di khayalanku yang masih tersamar rindu.
Angin bertiup pelan, luka-luka di hatiku rasanya masih saja basah, mungkin karena tak ada yang mengobati, dan akupun tidak berniat untuk mengobatinya lagi, karena aku lebih memilih menikmati, entah seberapa sakitnyapun itu. Kali ini Aku lebih memilih belajar arti setia dari matahari, ketikaku menyangka ia pergi, ternyata hanya bersembunyi, menantiku di belahan dunia lain, ketika waktunya tiba dia akan kembali menyinari, tetapi semua menjadi absurd ketika kabar pernikahanmu itu sampai pula di telingaku ini, tanpa undangan tetapi sudah mampu menghancurkan hatiku yang sedang resah, walaupun begitu aku tak akan mampu untuk membencimu barang sedikitpun, kaulah yang mengajarkanku arti menerima ikhlas, seperti bumi terhadap sesuatu yang berada di atasnya, walau aku belum juga paham apa itu maksudnya, ohw tidak,tidak..! logikaku sangat paham itu tetapi perasaanku tidak mampu menelisik lebih jauh dari sekedar kata-kata.
Aku tidak membencimu gadis tetapi aku membenci caramu yang seperti ini, tanpa kabar, tanpa pesan, tanpa menghiraukan, membiarkanku dalam pengharapan yang tak berujung, sebegitu bencinya kah kau kepadaku gadis? Kau telah pergi sejauh-jauhnya tanpa menengok kembali kearahku, bahkan di pernikahanmu itu kau sama sekali tidak menyediakanku kursi untuk sekedar hadir dan mengucapkan selamat.
Aku membenci caramu gadis tetapi Aku masih tetap mencintaimu, walau aku sadar bahwa semua ini hanyalah sebuah lelucon
Aku akan tetap mencintaimu gadis seperti cintanya gelap terhadap malam
Aku akan tetap mencintaimu gadis seperti cintanya api terhadap rasa panas
Tidak peduli walaupun ia gelap, tidak peduli walaupun itu terasa membakar
Aku akan tetap mencintaimu

Senin 31 Maret

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di cerpen. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s