Untuk Gadis (cerpen)

Akhirnya kita bertemu di sini, di sebuah tempat yang membuat kulit mengigil, tepat di pemakaman sepupumu itu, waktu berjalan sangat cepat, mengalahkan rasa yang sudah tertinggal jauh di belakang, Kamu telah kehilangan sepupumu itu dan Akupun begitu, air mata yang jatuh waktu itu menandakan betapa membekasnya jejak yang dibuat olehnya, di pemakaman kala itu akupun tanpa ragu masuk keliang lahat, kau tau gadis di sana Aku melihat terakhir kali sosok sepupumu itu, cantik, cantik sekali, mungkin jika waktuku yang tiba, Aku juga ingin dikenang baik, sama dengan sepupumu itu, dia itu orang yang mengenalkanku kepada dunia tulis menulis, dia itu orang yang paling getol memotivasiku ketika Aku merasa terpuruk, dan dia itu adalah sosok wasilah yang membuatku berada di tempat kerjaku sekarang, lalu bagaimana mungkin Aku melupakannya gadis? Mana mungkin?
Hujan membasahi, gugusan bintang hari ini tak akan kembali, janji-janji cinta yang terucap pun kini sudah basi, mungkin sejak kamu bilang sudah tak punya rasa lagi kepadaku, dan ini saat yang sangat tepat, senyumanmu kepada sosok yang berada di sampingku menambahkan keyakinanku, ini waktunya, ya ini waktunya, maka di tepi pemakaman kala itu bukan hanya jasad sepupumu yang terkubur, Akupun memaksa rasa, untuk tinggal di kotak segi empat itu, meninggalkan setiap kenangan yang sudah mati, dari status facebook dan sikapmu kepada sosok lelaki yang berada disampingku itu, Aku tahu, kamu sedang jatuh hati, dan sikapmu kepadaku waktu itu, acuh, acuh sekali, dan ketikaku mendekatimu Aku hanya mendapat sebuah muka masam yang mengarah kepadaku dengan sebuah kata yang membuat hatiku terkikis, dan waktu itu aku tersadar bahwa keberadaanku tiada lagi diinginkan, dan Akupun menyerah pulang, semua kenangan sudah terkubur bersama sepupumu, foto-foto dan surat darimu ku buang ke kali ciliwung yang entah berujung kemana, bukan sebagai ritual tetapi lebih kepada sugesti supaya aku bisa melupakanmu cepat, kau tau gadis di setiap pagi Aku melakukan shalat hajat meminta kepada Yang Maha Kuasa untuk membunuh rasa, jodohku denganmu memang sampai disini tepat sampai di pemakaman sepupumu itu, tidak lebih, dan kali ini Aku sudah memilih untuk lupa

Iklan

Tentang Irman

Absurd, tapi punya fisik nyata, bisa dilihat, diraba, diplototin, sekaligus bikin ngangenin banyak orang.. Ciyuss
Pos ini dipublikasikan di cerpen. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s