Di Penghujung Senja

Ku tatap rindu menawan ketika sore menunjukan warna yang tak biasa. Bayang mentari yang menguning mengantarkannya kepada senja. Aku selalu merindukan peristiwa ini, peristiwa yang sudah lama rasa-rasanya hilang entah kemana. Bukan senja yang menghilang tetapi kau ya kau, sosok yang berada di sampingku dan kemudian malah memberikan sebuah undangan pernikahan dengan cara tidak hormat, Aku pikir ini tidak sekedar kurangnya penghormatan tetapi lebih dari pada cara yang menyakitkan hati, dan akupun sama gilanya denganmu karena tidak mampu memberontak ketika tubuhmu merangkul dan memelukku, Ahhk aku merasa berdosa sekali kali ini, pelukan terakhir di penghujung senja itupun Cuma jadi sejarah yang rasa-rasanya membuatku berdarah-darah, dan Aku mengaku kalah, dengan airmata yang menjadikanku menjadi seorang wanita yang begitu lemah, dan kau sepertinya sedang menikmati raungan tangisanku, kejam, kejam sekali, mungkin ini memang sama kejamnya dengan sikapku kepadamu waktu itu yang menghiraukan dan menganggapmu tiada, Ahk rasa-rasanya lebih dari semua itu, karena aku tahu pembalasan selalu lebih menyakitkan dari pada peristiwa awal, padahal tadinya aku pikir akulah orang yang akan amat tegar di perpisahan ini, tetapi nyata-nyatanya akulah yang menangis di hadapanmu, Ahhk ini sesuatu yang memalukan, karena Aku sudah menolakmu untuk kesekian kali, tetapi kali ini mengapa aku yang merasa kesepian dan kehilangan, sial, aku terkena sial karena baru tersadar kalau sesuatu yang berharga akan terasa keberadaannya ketika ia pergi menghilang, dan senja sore itupun mati tertutup gelap malam bersamaan itu ku hempaskan tubuhku dari pelukanmu. Aku tidak ingin berlama-lama lagi berada di tempat ini, tempat yang hanya akan menyayatnyayat hatiku, Aku ingin berteriak kencang jika setiba di kamar rumahku, tidak butuh lagi pendengaranmu wahai pria yang tadinya mengaku kesepian, pria yang mengaku siap mengorbankan apapun untukku kala itu, Aku sudah terlampau keterlaluan terjebak pada perasaan yang tidak seharusnya, dan kali ini Aku meninggalkanmu dengan perasaan bersalah karena sudah memeluk sosok calon suami seorang wanita lain yang mempunyai perasaan cinta untukmu, dan Aku buru-buru mengusap pipiku yang masih basah dan memberikan ucapan selamat dengan menjulurkan tanganku ke hadapanmu, lalu Aku meninggalkanmu sendiri tanpa harus menengok kembali, dan Aku tidak mau ini kembali berulang di kehidupanku, cukup sekali sakit hati, cukup satu kali.

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di cerpen. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s