Arsip Bulanan: Mei 2014

Menjadi Ateis

Lelautan memudar dalam hening yang kejam, langit-langit basah bersimba darah seakan menjadi pelayaran akhir zaman, bocah yang keningnya merah itu memanggil sosok ibu yang entah ke mana, siapa bocah itu? Entahlah, Aku hanya bisa menyaksikan beribu kekhawatiran dalam gelap dan terang memang apa bedanya antara gelap dan terang, Aku kira sama saja? Semua hanya masalah persepsi otak kita bukan, pada kenyataannya semua mahluk membutuhkan gelap dan terang, Apa jadinya dunia ini jika tiada salah satu di antara keduanya, tidak mengasyikan lagi bukan..!

Bocah kecil itu masih memanggil ibunya dalam dunia antah berantah yang ku kunjungi, “tiada yang muskyil bukan..!” seorang berpakaian putih yang hampir ku kira perempuan bersayap itu bergumam, kemudian aku masih menatap tanpa bisa berkata apapun,” ini bukan duniaku, aku ingin kembali, tolong kembalikan aku tuan” pintaku pada sosok bersayap itu, “tidak, tidak,..! Aku cuma utusan yang mengantarmu sampai sini, sampai kau mampu membaca akan petunjuk yang diturunkan, dan ketika semua pintu telah terbuka, maka saat itulah kau boleh kembali, dan jika kau tak mampu menemukannya maka kau akan pergi ke alam lain lagi, yang jelas alam yang lebih menakutkan dari pada alam ini” lalu setelah berkata demikian sosok itu hilang entah ke mana, dan Aku kebingungan, dalam sisi antara gelap dan terang, dalam persepsi antara kebenaran atau jangan-jangan cuma gurauan, Aku bingung untuk menentukan jalan, “Apa maksudnya semua ini? Ini cuma permainan imajinasi, otakku sedang mengalami perjalanan jauh dalam alam bawah sadar” pikirku menyakinkan, dan segera kucubit lengan bawah tanganku, dan hasilnya memang mengejutkan, sakit, sakit sekali, “ini bukan imajinasi, ini bukan mimpi, ini alam nyata” Teriakku sendirian, ku coba untuk menarik napas pelan, untuk menenangkan jiwaku yang telah berantakan, kuhembuskan dengan santai, dan kuulangin dengan mencubit pipi sebelah kananku dengan lebih keras, tetapi hasilnya masih sama, sakit, sakit sekali, dan pertanyaannya ada di mana aku sekarang? Siapa yang membawaku ke sini? Dan siapa sosok berjubah putih yang mengaku hanya sebagai utusan itu? Dan Bocah kecil yang mencari ibunya itu siapa? beribu pertanyaan meranjak pada otak kiriku, logikanya tidak pernah mungkin Aku berada di sini, “tidak mungkin, ini tidak mungkin, apa ini Akherat yang orang beragama bilang sebagai alam pembalasan bagi orang-orang yang tak mau tunduk kepada tuhan, Ahhk, jangankan tunduk kepada Tuhan mempercayai adanya Tuhan saja Aku tidak mau” pikirku keras.

Aku adalah orang yang mengaku tidak bertuhan, Ateis, sesuatu yang menurut keluargaku kafir, yaa mungkin itu yang sering orang kampungku dengungkan terhadapku, kafir, tidak bertuhan, bagiku Tuhan itu hanyalah tokoh fiktif dalam imajinasi manusia, yaa mungkin mirip Supermen atau batman, superhero yang cuma berada di film semata, tokoh fiksi yang diciptakan oleh otak manusia, buktinya tidak ada yang pernah melihat Tuhan, kalaupun ada hanya cerita-cerita dahulu yang tidak bisa dibuktikan dengan logika manusia, cerita kitab suci yang tidak diketahui entah siapa pengarangnya, semua hanya cerita demi cerita, tak ada sama sekali agama yang bisa memuaskan bagiku, semua cuma kekhawatiran yang diciptakan sendiri oleh manusia, seperti mitos yang jika dipercaya benar akan terjadi dan jika tidak dipercaya tidak akan pernah terjadi, sehingga kita harus melepaskan dari lingkaran mitos-mitos Agama itu, yaa begitulah logikaku bekerja, semua memang terjadi berdasarkan sistim yang berupa dunia, yaa sistim yang mengagumkan dan ini semua tercipta tanpa adanya Tuhan, kalaupun ada Aku kira semestalah Tuhan itu, bukan yang umat beragama sembah-sembah di rumah ibadah, Aku kira begitu.

Dulu, Aku adalah seorang muslim taat, yang mengerjakan shalat dan puasa, ya Aku menjalani semua itu, karena keyakinanku terhadap Tuhan, tetapi keberadaan sebuah halaman di facebook yang bernama “Anda bertanya Ateis menjawab” mengusik keyakinanku secara perlahan, keasyikanku dalam berdebat tentang konsep Tuhan, tentang kegelisahanku kepada umat manusia yang malah saling menjatuhkan dan saling bunuh atas nama agama, semua membuatku mengambil kesimpulan mantap “Aku menjadi Atheis” sesuatu yang paling aku takutkan sebelumnya, tetapi otakku melirih atas logika kebenaran pada saat itu, yaa kebenaran versiku dan setelah melakukan banyak konsultasi dengan teman-temanku yang atheis Aku semakin yakin, bahwa Tuhan itu benar-benar cuma hasil dari daya cipta manusia, pada hakekatnya memang, setiap manusia merindukan ke pahlawanan tokoh hebat, dan dengan itulah Tuhan tercipta, yaa hasil daya cipta manusia, yaa apa hebatnya bukan..!

“Duarr ..!” Suara dahsyat itu mengagetkan lamunanku,” tetapi mengapa Aku belum juga bangun?” pikirku, harapanku masih sama, bahwa semua ini cuma mimpi, ya cuma mimpi, sesuatu yang terhipnotis oleh alam bawah sadar, tetapi api yang mulai menjalar ke tubuhku merusak pikiranku, “Panass.. panass..” teriakku sejadi-jadinya, Apa ini neraka..! Yaa Tuhan Ampuni Aku, tidak, tidak, Aku belum mati, Ampuni aku ya Rabb, Ampuni Aku.. Ampuni Aku..! Astagfirollohuladzim.. Astagfirollah…..

Alunan Surah Yasin terdengar samar di telingaku, Alat pernapasan yang terpasang di hidungku menyadarkan bahwa Aku berada di ruang ICU rumah sakit, peristiwa yang ku ingat, terakhir Aku sedang mengendarai sepeda motor.. Ahh sudahlah, bagaimanapun ini adalah cara Tuhan untuk menyadarkanku kembali. “Ibu..! Ibu..” kata yang pertama kali keluar dari mulutku, yaa, Aku sekarang mengerti, Anak kecil yang berteriak mencari Ibunya itu adalah Aku, Aku mengerti, bukan ibu yang pergi melainkan Aku yang pergi meninggalkannya karena Aku meninggalkan Tuhan, Aku mengerti maksud mahluk putih bersayap itu, mungkin mahluk bersayap itu adalah utusan Tuhan karena Ibuku yang selalu bangun tengah malam untuk mendoakanku, yaa mungkin itulah wasilahnya, Aku mengerti, bahwa Aku harus kembali kepada Tuhan, “Igfirlana Yaa rabb, Igfirlana..” desahku pelan..

“Kadang ada sesuatu hal yang tak mampu dijelaskan oleh logika manusia dalam hal ini Tuhan dan beserta keajaiban-kejaibanNya” itulah yang orang ateis belum mampu mempercayainya padahal itu nyata ada bukan hanya fiksi belaka. Semoga hidayah selalu menaungi kita semua. Aamiin

Iklan

Senja yang hilang

Kita sama-sama lupa, jika kau selalu mengagumi senja, dan Aku malah sebaliknya, mengagumi subuh fajar yang hening, “tetapi untuk hening senja juga hening bukan.!” katamu waktu itu, “yaa kita memang sama-sama mengagumi hening, tetapi tidak untuk senja, “jawabku pelan, ” mengapa Mas?” tanyamu lagi, di senja Aku melihat sebuah akhir di sebuah perjalanan, sementara di fajar Aku melihat kehidupan, ketika laki-laki dengan bersemangatnya beranjak dari tempat tidur dan kemudian membawa cangkul ke sawah yang digarapnya, Aku merasa ada kehidupan di situ, Aku melihat harapan-harapan yang memuai, bukankah Tuhan telah menganugerahi manusia ketika pagi hari, ketika langit-langit cerah kembali, ketika mentari bersemilir bersama kicau burung atau ayam yang berkokok, dan bukankah Tuhan menganugerahi fajar dengan pahala yang menjanjikan dunia beserta isinya, begitukan..! dan Aku tidak menyukai akhir dari sebuah perjalanan karena itu akan selalu menyakitkan” jawabku sekenanya, “tidak, tidak, bukan seperti itu mas, Aku akan tetap mengagumi senja karena di situ Aku bisa melihat akhir sebuah perjalanan, bukankah setiap yang awal pasti akan berakhir dan bukankah tujuan dari awal adalah akhir, kita tidak bisa mengubah itu, senja akan tetap selalu datang walau kau tidak menyukainya lagi, mungkin memang sudut pandang kita selalu berbeda untuk hal ini, tetapi kita sama-sam pengagum hening, mungkin itu yang menyatukan antara awal dan akhir, hening, lirih, sama seperti puisi yang kau lantunkan di setiap pagi. Dan satu yang kau harus ingat mas, Aku mengagumi senja karena di situ Aku bisa melihat Tuhan, yaa bukankah akhir itu adalah sesuatu yang membuat kita bisa kembali kepadaNya, sampai saat ini Aku ingin selalu melihat senjaku di pangkuanmu, tetapi itu tidak mungkin, karena kau pengagum fajar bukan senja” katamu tegas, Dan pernyataanmu kali ini membuatku merasa semakin bersalah, karena tidak bisa menemanimu untuk melihat senja sore itu, andai kau mengetahui alasanku untuk tidak melihat senja, mungkin kau akan mengerti, tetapi bagaimana mungkin Aku mengatakannya, satu yang membuatku takut untuk melihat senja, karena di sana Aku takut kehilanganmu, yaa kehilanganmu, cuma itu, sesuatu yang Aku tau akan benar-benar terjadi, mungkin ketakutan itu sudah mendarah daging di dadaku, setidaknya setelah vonis dokter itu, dan kini, di senja yang kau cintai, aku berhasil menghadapi ketakutan itu, dan memilih memelukmu dalam pangkuan, tetapi mataku mulai gelap mengkilap, nafasku semakin pelan, dan sama seperti yang pernah kau dengungkan, bukankah setiap yang awal akan berakhir, Aku kira, inilah saat Akhirku, yaa kali ini Aku merasa begitu merindukan Tuhan, selamat tinggal sayang..

Bocah Keluhan

Sudah berapa kali bocah itu mempertanyakan keadilan Tuhan padaku, waktu itu awal musim penghujan, dan dalam kedinginan di sebuah rumah pagar tempat kami berteduh, ia menanyakan kembali padaku tentang kegalauannya kepada Tuhan “Bagaimana mungkin Tuhan disebut Maha pengasih tetapi kenapa ia malah pilih kasih” katanya sore itu,
“Wah mengapa bilang seperti itu?”Jawabku sekenanya,
“Tetap saja Aku tak lagi bisa bersekolah karena memang harus berjualan dan mencari ikan untuk dimakan, kalau bukan begitu ya dari mana?” katanya melanjutkan.
Aku memilih diam dan hanya menatap rintik hujan yang jatuh membasahi daganganku yang sudah ku tutup plastik.
“Sedang di sana, di sekolah-sekolah yang bertingkat, bocah-bocah lain sedang asyik belajar dan bermain, diantar berangkat dan pulangnya dijemput dengan mobil mewah, dan Aku hanya bisa bermain panas-panasan, mencoba mencari ikan di sungai, tanpa sepatah kata lelah di dada, jika keluhan itu datang aku lebih memilih menelannya bulat-bulat, karena aku tau, ibuku di rumah sedang terbaring menantiku pulang, boro-boro buat berobat untuk makan saja Aku sudah kualahan” bocah ini kembali bergumam, mungkin sedang menunggu satu patah pembelaan dariku, tetapi bagaimana mungkin Aku ikut menyalahkan Tuhan, rasa-rasanya yang bersalah di sini adalah Aku, mengapa juga belum mampu berdaya dan bisa membantu bocah-bocah seperti dia, Ahhk Aku sangat menyesal berada di sini, sedangkan ustadz-ustadz yang ku temui hanya memberikan pelajaran ritual belaka sambil menyuruh semuanya bersabar, bersabar, dan bersabar, Apa setiap masalah akan selesai dengan bersabar? Padahal banyak bocah seperti ini yang membutuhkan pertolongan, bersabar dalam suatu kemiskinan adalah suatu kebodohan, pikirku waktu itu, maka tanpa sepatah kata lagi yang ku keluarkan pada bocah itu, Aku mengambil pisang Ambon daganganku, harapanku besok ia akan bercerita tentang manisnya pisang Ambon pemberianku, bukan keluhan hidup yang membuat hatiku teriris.
“Besok kalau Aku bertemu lagi pada bocah itu Akan Aku ceritakan tentang orang kaya yang tidak bisa merasakan nikmatnya makan yang manis-manis” pikirku dalam hati, mungkin dengan begitu keluhannya akan berhenti dan akan Aku pertanyakan nikmat Tuhan lainnya kepadanya, supaya ia belajar sedikit rasa syukur, bersabar memang bukan solusi tetapi akan memperbaiki suasana hati, maka, sambil bersabar dan berikhtiar kita akan memikirkan nasib-nasib bocah seperti ini, dan sudah kuputuskan keesokan harinya jika ia sudah berhenti mengeluh, bocah ini akanku berikan seragam dan membawanya kembali menikmati bangku sekolah, kemudian akanku tagih kepada penduduk di sini untuk masalah biayanya, sungguh berdosa jika orang-orang lebih memilih membiarkannya.

Memilih lupa

Heyy gadis, apa kabarmu sekarang? Hmm.. Apa kau mau tahu bagaimana caraku untuk melupakanmu kali ini?, tidak, tidak, bukan seperti apa yang kau pikirkan, Aku sama sekali tidak menyentuh racun itu, Alkohol dan rokok, sesuatu yang pernah kau bilang sebagai candu, padahal mencintaimu saja aku sudah lebih dari sekedar mencandu racun itu, bukan pula dengan exstasi yang membuat banyak orang direhabilitasi dan terlihat gila, bukan itu gadis, sekali lagi bukan itu. Kali ini Aku lebih memilih membiasakan diriku untuk bangun lebih awal dari pada biasanya, ku coba untuk lebih mendekati DIA yang Maha Agung, Kepada DIA yang menguasai dan sempat menyatukan hati kita, yaa hati kita, hingga akhirnya masing-masing kita memutuskan terluka, dan kemudian, dalam hening yang dingin itu ku panjatkan kebaikan untukku dan untukmu, karena kamu dan Aku sudah tak lagi menjadi kita, sudah tak lagi bersama, tetapi ya sudahlah, Aku tak mau lagi membahasnya di sini. Kau tau berapa kali Aku melakukannya gadis? Hingga saat ini gadis, hingga saat ini, ketika luka-luka sudah tak lagi tak kasat mata, mungkin kau tidak sepertiku, berlama-lama mengunjungi ruang kosong yang kehilangan pemiliknya, Aku tahu, akan ada pemiliknya yang baru, tetapi tidak akan pernah sama, dan Akupun tahu kau sedang menanti sosok yang berbeda di sana, karena kau telah berjanji tak akan pernah kembali. Dan ketika hening menyambutku kali ini, kuputuskan untuk berdoa tentang hal yang paling Aku takutkan, melupakanmu, yaa, melupakanmu, dan kemudian dalam hatiku berujar “Wahai diri sesungguhnya gadismu itu akan berjodoh dengan sosok yang lebih baik dari pada kau, dan kau diri, akan berjodoh dengan sosok yang lebih baik dari pada gadis” Kemudian tangispun datang, tangisan kebahagiaan, karena Aku sudah memutuskan untuk lupa.