Bocah Keluhan

Sudah berapa kali bocah itu mempertanyakan keadilan Tuhan padaku, waktu itu awal musim penghujan, dan dalam kedinginan di sebuah rumah pagar tempat kami berteduh, ia menanyakan kembali padaku tentang kegalauannya kepada Tuhan “Bagaimana mungkin Tuhan disebut Maha pengasih tetapi kenapa ia malah pilih kasih” katanya sore itu,
“Wah mengapa bilang seperti itu?”Jawabku sekenanya,
“Tetap saja Aku tak lagi bisa bersekolah karena memang harus berjualan dan mencari ikan untuk dimakan, kalau bukan begitu ya dari mana?” katanya melanjutkan.
Aku memilih diam dan hanya menatap rintik hujan yang jatuh membasahi daganganku yang sudah ku tutup plastik.
“Sedang di sana, di sekolah-sekolah yang bertingkat, bocah-bocah lain sedang asyik belajar dan bermain, diantar berangkat dan pulangnya dijemput dengan mobil mewah, dan Aku hanya bisa bermain panas-panasan, mencoba mencari ikan di sungai, tanpa sepatah kata lelah di dada, jika keluhan itu datang aku lebih memilih menelannya bulat-bulat, karena aku tau, ibuku di rumah sedang terbaring menantiku pulang, boro-boro buat berobat untuk makan saja Aku sudah kualahan” bocah ini kembali bergumam, mungkin sedang menunggu satu patah pembelaan dariku, tetapi bagaimana mungkin Aku ikut menyalahkan Tuhan, rasa-rasanya yang bersalah di sini adalah Aku, mengapa juga belum mampu berdaya dan bisa membantu bocah-bocah seperti dia, Ahhk Aku sangat menyesal berada di sini, sedangkan ustadz-ustadz yang ku temui hanya memberikan pelajaran ritual belaka sambil menyuruh semuanya bersabar, bersabar, dan bersabar, Apa setiap masalah akan selesai dengan bersabar? Padahal banyak bocah seperti ini yang membutuhkan pertolongan, bersabar dalam suatu kemiskinan adalah suatu kebodohan, pikirku waktu itu, maka tanpa sepatah kata lagi yang ku keluarkan pada bocah itu, Aku mengambil pisang Ambon daganganku, harapanku besok ia akan bercerita tentang manisnya pisang Ambon pemberianku, bukan keluhan hidup yang membuat hatiku teriris.
“Besok kalau Aku bertemu lagi pada bocah itu Akan Aku ceritakan tentang orang kaya yang tidak bisa merasakan nikmatnya makan yang manis-manis” pikirku dalam hati, mungkin dengan begitu keluhannya akan berhenti dan akan Aku pertanyakan nikmat Tuhan lainnya kepadanya, supaya ia belajar sedikit rasa syukur, bersabar memang bukan solusi tetapi akan memperbaiki suasana hati, maka, sambil bersabar dan berikhtiar kita akan memikirkan nasib-nasib bocah seperti ini, dan sudah kuputuskan keesokan harinya jika ia sudah berhenti mengeluh, bocah ini akanku berikan seragam dan membawanya kembali menikmati bangku sekolah, kemudian akanku tagih kepada penduduk di sini untuk masalah biayanya, sungguh berdosa jika orang-orang lebih memilih membiarkannya.

Iklan

Tentang Irman

Absurd, tapi punya fisik nyata, bisa dilihat, diraba, diplototin, sekaligus bikin ngangenin banyak orang.. Ciyuss
Pos ini dipublikasikan di cerpen. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s