Menjadi Ateis

Lelautan memudar dalam hening yang kejam, langit-langit basah bersimba darah seakan menjadi pelayaran akhir zaman, bocah yang keningnya merah itu memanggil sosok ibu yang entah ke mana, siapa bocah itu? Entahlah, Aku hanya bisa menyaksikan beribu kekhawatiran dalam gelap dan terang memang apa bedanya antara gelap dan terang, Aku kira sama saja? Semua hanya masalah persepsi otak kita bukan, pada kenyataannya semua mahluk membutuhkan gelap dan terang, Apa jadinya dunia ini jika tiada salah satu di antara keduanya, tidak mengasyikan lagi bukan..!

Bocah kecil itu masih memanggil ibunya dalam dunia antah berantah yang ku kunjungi, “tiada yang muskyil bukan..!” seorang berpakaian putih yang hampir ku kira perempuan bersayap itu bergumam, kemudian aku masih menatap tanpa bisa berkata apapun,” ini bukan duniaku, aku ingin kembali, tolong kembalikan aku tuan” pintaku pada sosok bersayap itu, “tidak, tidak,..! Aku cuma utusan yang mengantarmu sampai sini, sampai kau mampu membaca akan petunjuk yang diturunkan, dan ketika semua pintu telah terbuka, maka saat itulah kau boleh kembali, dan jika kau tak mampu menemukannya maka kau akan pergi ke alam lain lagi, yang jelas alam yang lebih menakutkan dari pada alam ini” lalu setelah berkata demikian sosok itu hilang entah ke mana, dan Aku kebingungan, dalam sisi antara gelap dan terang, dalam persepsi antara kebenaran atau jangan-jangan cuma gurauan, Aku bingung untuk menentukan jalan, “Apa maksudnya semua ini? Ini cuma permainan imajinasi, otakku sedang mengalami perjalanan jauh dalam alam bawah sadar” pikirku menyakinkan, dan segera kucubit lengan bawah tanganku, dan hasilnya memang mengejutkan, sakit, sakit sekali, “ini bukan imajinasi, ini bukan mimpi, ini alam nyata” Teriakku sendirian, ku coba untuk menarik napas pelan, untuk menenangkan jiwaku yang telah berantakan, kuhembuskan dengan santai, dan kuulangin dengan mencubit pipi sebelah kananku dengan lebih keras, tetapi hasilnya masih sama, sakit, sakit sekali, dan pertanyaannya ada di mana aku sekarang? Siapa yang membawaku ke sini? Dan siapa sosok berjubah putih yang mengaku hanya sebagai utusan itu? Dan Bocah kecil yang mencari ibunya itu siapa? beribu pertanyaan meranjak pada otak kiriku, logikanya tidak pernah mungkin Aku berada di sini, “tidak mungkin, ini tidak mungkin, apa ini Akherat yang orang beragama bilang sebagai alam pembalasan bagi orang-orang yang tak mau tunduk kepada tuhan, Ahhk, jangankan tunduk kepada Tuhan mempercayai adanya Tuhan saja Aku tidak mau” pikirku keras.

Aku adalah orang yang mengaku tidak bertuhan, Ateis, sesuatu yang menurut keluargaku kafir, yaa mungkin itu yang sering orang kampungku dengungkan terhadapku, kafir, tidak bertuhan, bagiku Tuhan itu hanyalah tokoh fiktif dalam imajinasi manusia, yaa mungkin mirip Supermen atau batman, superhero yang cuma berada di film semata, tokoh fiksi yang diciptakan oleh otak manusia, buktinya tidak ada yang pernah melihat Tuhan, kalaupun ada hanya cerita-cerita dahulu yang tidak bisa dibuktikan dengan logika manusia, cerita kitab suci yang tidak diketahui entah siapa pengarangnya, semua hanya cerita demi cerita, tak ada sama sekali agama yang bisa memuaskan bagiku, semua cuma kekhawatiran yang diciptakan sendiri oleh manusia, seperti mitos yang jika dipercaya benar akan terjadi dan jika tidak dipercaya tidak akan pernah terjadi, sehingga kita harus melepaskan dari lingkaran mitos-mitos Agama itu, yaa begitulah logikaku bekerja, semua memang terjadi berdasarkan sistim yang berupa dunia, yaa sistim yang mengagumkan dan ini semua tercipta tanpa adanya Tuhan, kalaupun ada Aku kira semestalah Tuhan itu, bukan yang umat beragama sembah-sembah di rumah ibadah, Aku kira begitu.

Dulu, Aku adalah seorang muslim taat, yang mengerjakan shalat dan puasa, ya Aku menjalani semua itu, karena keyakinanku terhadap Tuhan, tetapi keberadaan sebuah halaman di facebook yang bernama “Anda bertanya Ateis menjawab” mengusik keyakinanku secara perlahan, keasyikanku dalam berdebat tentang konsep Tuhan, tentang kegelisahanku kepada umat manusia yang malah saling menjatuhkan dan saling bunuh atas nama agama, semua membuatku mengambil kesimpulan mantap “Aku menjadi Atheis” sesuatu yang paling aku takutkan sebelumnya, tetapi otakku melirih atas logika kebenaran pada saat itu, yaa kebenaran versiku dan setelah melakukan banyak konsultasi dengan teman-temanku yang atheis Aku semakin yakin, bahwa Tuhan itu benar-benar cuma hasil dari daya cipta manusia, pada hakekatnya memang, setiap manusia merindukan ke pahlawanan tokoh hebat, dan dengan itulah Tuhan tercipta, yaa hasil daya cipta manusia, yaa apa hebatnya bukan..!

“Duarr ..!” Suara dahsyat itu mengagetkan lamunanku,” tetapi mengapa Aku belum juga bangun?” pikirku, harapanku masih sama, bahwa semua ini cuma mimpi, ya cuma mimpi, sesuatu yang terhipnotis oleh alam bawah sadar, tetapi api yang mulai menjalar ke tubuhku merusak pikiranku, “Panass.. panass..” teriakku sejadi-jadinya, Apa ini neraka..! Yaa Tuhan Ampuni Aku, tidak, tidak, Aku belum mati, Ampuni aku ya Rabb, Ampuni Aku.. Ampuni Aku..! Astagfirollohuladzim.. Astagfirollah…..

Alunan Surah Yasin terdengar samar di telingaku, Alat pernapasan yang terpasang di hidungku menyadarkan bahwa Aku berada di ruang ICU rumah sakit, peristiwa yang ku ingat, terakhir Aku sedang mengendarai sepeda motor.. Ahh sudahlah, bagaimanapun ini adalah cara Tuhan untuk menyadarkanku kembali. “Ibu..! Ibu..” kata yang pertama kali keluar dari mulutku, yaa, Aku sekarang mengerti, Anak kecil yang berteriak mencari Ibunya itu adalah Aku, Aku mengerti, bukan ibu yang pergi melainkan Aku yang pergi meninggalkannya karena Aku meninggalkan Tuhan, Aku mengerti maksud mahluk putih bersayap itu, mungkin mahluk bersayap itu adalah utusan Tuhan karena Ibuku yang selalu bangun tengah malam untuk mendoakanku, yaa mungkin itulah wasilahnya, Aku mengerti, bahwa Aku harus kembali kepada Tuhan, “Igfirlana Yaa rabb, Igfirlana..” desahku pelan..

“Kadang ada sesuatu hal yang tak mampu dijelaskan oleh logika manusia dalam hal ini Tuhan dan beserta keajaiban-kejaibanNya” itulah yang orang ateis belum mampu mempercayainya padahal itu nyata ada bukan hanya fiksi belaka. Semoga hidayah selalu menaungi kita semua. Aamiin

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di cerpen. Tandai permalink.

4 Balasan ke Menjadi Ateis

  1. Candra Wiguna berkata:

    Untung anda tidak bermimpi menjadi salah satu murid Hogwarts yang mendapat kutukan cruciatus, jika tidak, bisa jadi anda sudah menyembah Voldemort. 🙂

    • Irman berkata:

      “Kadang ada sesuatu hal yang tak mampu dijelaskan oleh logika manusia dalam hal ini Tuhan dan beserta keajaiban-kejaibanNya” itulah yang orang ateis belum mampu mempercayainya padahal itu nyata ada bukan hanya fiksi belaka. Semoga hidayah selalu menaungi kita semua. Aamiin

      • Candra Wiguna berkata:

        Tidak tidak.
        Poin dari komentar saya adalah mengenai apa yang anda anggap sebagai BUKTI yang ternyata hanya sebuah mimpi. Jelas disini anda tidak menganut pembuktian ala ateis yang umumnya menggunakan pendekatan logika ilmiah, dalam artian anda tidak pernah menjadi ateis sebelumnya karena untuk menjadi ateis setidaknya anda harus mengerti konsep dan menganut dasar pendekatan yang mereka gunakan.

        It’s fine untuk menjadi teis, tapi saya pikir tidak perlu berbohong mengaku-ngaku pernah menjadi ateis untuk menunjukkan bahwa anda begitu meyakini kepercayaan anda sekarang, seperti halnya seorang backpacker yang tidak perlu mengaku-ngaku sempat tersesat hanya untuk membuat cerita petualangannya terdengar hebat.

        Btw, tulisan yang benar itu ateis, bukan atheist, judul mungkin sempat anda ralat (walau di permalink masih salah), namun kesalahan di bagian artikel masih banyak, dan ya, soal tulisan di profile gravatar anda, tidak benar sperma saling bersaing untuk bisa membuahi, itu hanya cerita bohong para motivator, yang benar adalah mereka saling bekerja sama, namun hanya satu sperma yang berhasil membuahi, kenapa kerjasama? karena butuh banyak sperma untuk menembus dinding sel telur, karenanya mereka yang jumlah sel spermanya sedikit kesulitan punya anak.

        Ini komentar terakhir saya, salam.
        PS: saya bukan ateis, 🙂

  2. Irman berkata:

    Mohon maaf ini katagorinya cerpen, bukan cerita pengalaman pribadi saya, saya tidak mengaku-ngaku, ini murni cerpen. Dan menyebarkan link cerpen saya ini teman saya.

    Terima kasih atas ralatnya yang lumayan banyak. =D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s