Senja yang hilang

Kita sama-sama lupa, jika kau selalu mengagumi senja, dan Aku malah sebaliknya, mengagumi subuh fajar yang hening, “tetapi untuk hening senja juga hening bukan.!” katamu waktu itu, “yaa kita memang sama-sama mengagumi hening, tetapi tidak untuk senja, “jawabku pelan, ” mengapa Mas?” tanyamu lagi, di senja Aku melihat sebuah akhir di sebuah perjalanan, sementara di fajar Aku melihat kehidupan, ketika laki-laki dengan bersemangatnya beranjak dari tempat tidur dan kemudian membawa cangkul ke sawah yang digarapnya, Aku merasa ada kehidupan di situ, Aku melihat harapan-harapan yang memuai, bukankah Tuhan telah menganugerahi manusia ketika pagi hari, ketika langit-langit cerah kembali, ketika mentari bersemilir bersama kicau burung atau ayam yang berkokok, dan bukankah Tuhan menganugerahi fajar dengan pahala yang menjanjikan dunia beserta isinya, begitukan..! dan Aku tidak menyukai akhir dari sebuah perjalanan karena itu akan selalu menyakitkan” jawabku sekenanya, “tidak, tidak, bukan seperti itu mas, Aku akan tetap mengagumi senja karena di situ Aku bisa melihat akhir sebuah perjalanan, bukankah setiap yang awal pasti akan berakhir dan bukankah tujuan dari awal adalah akhir, kita tidak bisa mengubah itu, senja akan tetap selalu datang walau kau tidak menyukainya lagi, mungkin memang sudut pandang kita selalu berbeda untuk hal ini, tetapi kita sama-sam pengagum hening, mungkin itu yang menyatukan antara awal dan akhir, hening, lirih, sama seperti puisi yang kau lantunkan di setiap pagi. Dan satu yang kau harus ingat mas, Aku mengagumi senja karena di situ Aku bisa melihat Tuhan, yaa bukankah akhir itu adalah sesuatu yang membuat kita bisa kembali kepadaNya, sampai saat ini Aku ingin selalu melihat senjaku di pangkuanmu, tetapi itu tidak mungkin, karena kau pengagum fajar bukan senja” katamu tegas, Dan pernyataanmu kali ini membuatku merasa semakin bersalah, karena tidak bisa menemanimu untuk melihat senja sore itu, andai kau mengetahui alasanku untuk tidak melihat senja, mungkin kau akan mengerti, tetapi bagaimana mungkin Aku mengatakannya, satu yang membuatku takut untuk melihat senja, karena di sana Aku takut kehilanganmu, yaa kehilanganmu, cuma itu, sesuatu yang Aku tau akan benar-benar terjadi, mungkin ketakutan itu sudah mendarah daging di dadaku, setidaknya setelah vonis dokter itu, dan kini, di senja yang kau cintai, aku berhasil menghadapi ketakutan itu, dan memilih memelukmu dalam pangkuan, tetapi mataku mulai gelap mengkilap, nafasku semakin pelan, dan sama seperti yang pernah kau dengungkan, bukankah setiap yang awal akan berakhir, Aku kira, inilah saat Akhirku, yaa kali ini Aku merasa begitu merindukan Tuhan, selamat tinggal sayang..

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di cerpen. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s