Arsip Bulanan: Juni 2014

Melihat diri sendiri

Seorang pemuda datang dengan sempoyongan, menatap pagar yang membayangi tubuhnya, sesosok bocah sedang berdiri persis di hadapan pemuda itu, sang bocah sedikit mengerenyitkan dahi, “Adakah lelaki yang lebih bejat dari ini, menghabiskan waktu dengan bermabuk tanpa memikirkan anak istri” ketus … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di cerpen, Uncategorized | Meninggalkan komentar

Puisi menghentikan luka

Malam bersinergi maka jadilah pagi, gelap bersenggama maka datanglah rimba, Kita memulai lagi waktu itu, di saat malam-malam yang haru, ketika rindu menggebu, dan hatiku beku, meleleh bagai es bersuhu Mentari menyinari, jarum jam patah berhenti, kita mulai lagi kali … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Puisi | Meninggalkan komentar

Tangisan Kehidupan

Subuh menggema di kehidupan yang baru dimulai Langit-langit terhimpit fajar yang menerjang dan gelappun meninggalkan Langkah seorang bocah kecil itu menyayat hati seorang alim yang terperanjak untuk salat “Apa yang kau cari nak” kata seorang alim kepada bocah itu Tidak … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di cerpen | Meninggalkan komentar

Antara Kenangan Kehilangan dan Mendapatkan part 2

Pergantian antara gelap dan terang itu hanya berjarak 12 jam bernapas manusia,dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore, itu sesuatu yang sangat sistematis yang terjadi berulang dalam hidup kita, tetapi untuk hati tahukah kau bagaimana ia bisa berubah? Butuh … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Curhat | 1 Komentar

Antara Kenangan, Kehilangan dan Mendapatkan

Apa artinya kehilangan? Apa artinya mendapatkan? Apa artinya datang? Apa artinya pergi? Semua silih berganti. Ketika ada sesuatu yang kita anggap hilang dan pergi maka ketika itu pula kita harus bersiap-siap untuk sesuatu yang akan mendatangi, sesuatu yang baru yang … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Curhat | Meninggalkan komentar

Nenek tua di Statiun Kereta

Semalam di Statiun Kereta, setelah saya mengambil motor di sebuah penitipan, seorang nenek berjalan sangat pelan, kemudian saya menyapanya, “Nek..! Mau bareng ngga?” kemudian orang yang sedang duduk di depan rumah yang malah menjawab “Tau rumahnya ngga, Haji Karim” katanya … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Curhat | Meninggalkan komentar

Kenangan Berjualan Koran

Jika di kota orang berjualan koran di perempatan jalan atau lampu merah, atau boleh jadi di kereta atau bus kota, maka, di desa, koran di jual di tempat hiburan layar tancep, yaa tempat layar tancep, tempat orang-orang berjejer duduk manis … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Curhat | 1 Komentar