Arsip Bulanan: Juni 2014

Melihat diri sendiri

Seorang pemuda datang dengan sempoyongan, menatap pagar yang membayangi tubuhnya, sesosok bocah sedang berdiri persis di hadapan pemuda itu, sang bocah sedikit mengerenyitkan dahi, “Adakah lelaki yang lebih bejat dari ini, menghabiskan waktu dengan bermabuk tanpa memikirkan anak istri” ketus dalam hati bocah itu. Pemikiran yang jarang terlintas dari seorang bocah seusianya, tetapi pengalaman telah mengajarkan banyak hal terhadap anak itu, ditinggal Ayahnya pergi, hidup hanya dengan seorang ibu yang sendiri, membuatnya mampu banyak berfilosofi, yaa, walaupun baru sekedar ideologi dalam hati.

Sosok pemuda manatap beler pandangan sang bocah, dan kemudian ia berkata
“Heyy bocah, Apakah kau tahu apa arti cinta dunia itu?”

“Kau sedang mencintainya bukan, karena kau sedang menikmati duniamu sendiri” Jawab bocah itu menyakinkan.
“tidak, tidak, Aku sedang meninggalkan duniaku itu, bukankah yang dikatakan Tuhan dalam kitab suci dunia itu berupa harta dan anak istri, dan aku hanya punya sebotol minumal beralkohol ini, lalu bagaimana mungkin aku sedang mengejar dunia dari sudut pandangmu itu” kelu sosok pemuda itu dengan tertawa lepas.

“Bukankah minuman itu haram, sementara anak istri adalah anugerah Tuhan, lalu mengapa kau memilih yang diharamkan, bukankah Tuhan tidak pernah mengharamkan dunia kecuali sebatas sesuatu yang tak manfaat seperti minuman yang kau pegang itu, bukankah demikian” tegas sii bocah sambil tersenyum

“Tidak, haii bocah, tidak begitu, kau belum menjadi tua untuk memahami problematika orang sepertiku, kau belum cukup umur untuk paham akan arti sebuah kehidupan, kelak kau akan tahu jika kau sudah bertambah dewasa dan menghadapi masalah yang sama” cetus lelaki muda itu

Sang bocah tertunduk Dia tahu bahwa seorang defensif tidak perlu dinasehati, karena setiap apa yang keluar dari orang lain akan hanya menjadi mentah, karena dia selalu punya pembenaran dengan segala apa yang dilakukan, dan si bocah pun pergi menghindar dan tersenyum pasi.

Kadang kita menjadi sosok pemabuk yang membela diri sendiri dan melakukan banyak hal dengan pembenaran pribadi, padahal semua itu cuma alibi yang tak berpondasi, cuma emosi sesaat yang teralat, bukankah Imam Ali telah mengatakan “Undzur mangkola wala tangjur mangkola” (Lihatlah perkataannya dan jangan kau lihat siapa yang berkata)

Catatan pribadi

Iklan

Puisi menghentikan luka

Malam bersinergi maka jadilah pagi,
gelap bersenggama maka datanglah rimba,

Kita memulai lagi waktu itu, di saat malam-malam yang haru, ketika rindu menggebu, dan hatiku beku, meleleh bagai es bersuhu

Mentari menyinari, jarum jam patah berhenti, kita mulai lagi kali ini, mulai mengambil jarak menepi, memulai ego yang terselisihi

Dan Aku mendebu, hilang tanpa abu, maka tinggallah kaku, berdiam dalam relung hatiku

Jiwa-jiwa bertebaran kesana-sini, menari-nari dalam luka di hati, dan sesak mulai menyiksa diri, dan hidup kembali mengajari, bahwa semua akan berjalan kembali, entah ada maupun tiada kau di sisi

Tangisan Kehidupan

Subuh menggema di kehidupan yang baru dimulai

Langit-langit terhimpit fajar yang menerjang dan gelappun meninggalkan

Langkah seorang bocah kecil itu menyayat hati seorang alim yang terperanjak untuk salat

“Apa yang kau cari nak” kata seorang alim kepada bocah itu

Tidak ada jawaban yang ada hanya senyuman ketulusan

Karena si bocah tau seorang alim tidak membutuhkan jawaban untuk usaha memenuhi kehidupan

Jika sampah menjadi limbah bagi sebagian orang, tetapi tidak untuk bocah yang subuh-subuh buta sudah berjalan

Mencari uang untuk sekedar makan, dan di mana negara yang dibilang berdaulat dan sejahtera

Jangan-jangan kita belum merdeka, atau hanya sebagian orang saja yang merasakannya

Seorang alim tadi terburu-buru untuk pulang, mengambil kain sarung yang masih bersih

Memberikannya kepada si bocah yang masih bersimbah sampah itu

Dan dituntunnya untuk salat bersama, “Bukankah kita harus berdaya” celetuk di hati seorang alim

Lalu bagaimana mungkin seorang alim hanya menyuruh anak itu untuk bersabar

“Saya harus menjadi wakil Tuhan di muka bumi, sesuatu yang belum saya mulai, padahal hidup sudah sedemikian panjang” hatinya kembali membatin
Maka seorang alim memutuskan untuk membawa sang bocah pulang, memberikan seragam sekolah dan membawa si bocah kembali bersekolah.

“Di sini tempatmu nak, bukan lagi di jalan pengharapan yang kau bilang sebagai sumber kehidupan, belajarlah dan kemudian sejahterakan orang-orang di bumi, kau adalah wakil-wakil Tuhan di muka bumi” tepuk seorang alim pada pundak bocah itu untuk mengakhiri

Bogor 06 Juni 04:44

Antara Kenangan Kehilangan dan Mendapatkan part 2

Pergantian antara gelap dan terang itu hanya berjarak 12 jam bernapas manusia,dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore, itu sesuatu yang sangat sistematis yang terjadi berulang dalam hidup kita, tetapi untuk hati tahukah kau bagaimana ia bisa berubah? Butuh waktu berapa lama? Apalagi untuk hati yang terluka, terlalu banyak alibi untuk berhenti meninggalkan, begitukan kita..!

Setiap orang akan belajar dari setiap kehilangan, semua akan merasakan itu, karena itu proses alam yang sangat umum dan wajar, jika ada orang yang mengaku bahwa dia tidak pernah merasakan yang namanya kehilangan,itu jelas bohong, begitu pula jika ada orang yang mengaku tidak pernah mendapatkan sesuatu apapun, itu juga jelas kebohongan, karena fitrah manusia adalah merasakan kehilangan dan mendapatkan.

Dahulu, ketika saya kelas satu SMP, Saya kehilangan seorang nenek, Saya menangis untuk setiap momen yang telah saya lalui bersamanya, karena saya tahu nenek tak akan pernah kembali, sedangkan kenangan bersama nenek masih menggumpal di memori otak, kenangan lucu, sedih, gembira, semua terekam tiba-tiba ketika kenangan itu tahu bahwa sesuatu yang sudah dilewati tak akan berulang.

Saya juga pernah kehilangan seekor kucing yang mati karena sakit, dan saya lagi-lagi menangis untuk kenangan-kenangan itu, begitu mudahnya menyingkap kenangan, cukup tekan on pada tombol hati kita, semua terbayang dan kemudian mengajarkan banyak hal,termasuk kesedihan.

Dan baru-baru ini, saya kembali kehilangan, seorang mantan tetangga yang meninggal dunia, dulu, ketika rumahnya masih di samping rumah,saya sering sekali bersamanya,untuk bekerja, mencari keong, mencari kijing, mencari cacing sutera, membuat empang dan sebagainya, lumayan buat tambahan saya yang masih bersekolah waktu itu, beliau tinggal bersama anaknya yang sering saya panggil teteh, dan ketika saya sudah lulus sekolah, beliau memutuskan untuk berpindah tempat tinggal, dan sejak itu saya tidak pernah bertemu lagi, mungkin sekitar 7 tahun lamanya, dan kemarin tanggal 8 Juni, di hari minggu,ada seorang datang mengabarkan bahwa beliau meninggal dunia, dan berangkatlah saya bersama seorang teman ke daerah Cibogo, sampai di tujuan, saya hanya bisa melihat maqamnya yang baru saja dikebumikan.

Kehilangan yang paling menyakitkan itu adalah kehilangan hati, ketika kau telah diacuhkan, ketika kau malah didiamkan oleh orang-orang tersayang, bukan malah dimarahi atau diperhatikan karena 2 hal itu merupakan bentuk kasih sayang, tetapi diacuhkan dan tidak dipedulikan adalah pengabaian yang pasti. Jika terjadi demikian ikhlaskan pada Illahi, sungguh DIA Maha berkhendak.

Catatan sehari-hari

Antara Kenangan, Kehilangan dan Mendapatkan

Apa artinya kehilangan? Apa artinya mendapatkan? Apa artinya datang? Apa artinya pergi? Semua silih berganti. Ketika ada sesuatu yang kita anggap hilang dan pergi maka ketika itu pula kita harus bersiap-siap untuk sesuatu yang akan mendatangi, sesuatu yang baru yang sebelumnya tak terpikirkan. Pun begitu pula sebaliknya. Jika sesuatu itu datang dan memberikan seribu harapan baru yang terlihat indah, maka ketika itu juga seharusnya kita harus siap untuk melepaskan. Begitukan? Kehilangan bukan hanya milik dua pasangan, tetapi lebih dari itu. Ada yang tahu tentang cerita GengisKhan yang kehilangan sahabat seekor rajawali yang dibunuhnya sendiri, yang padahal telah menyelamatkan nyawanya ketika itu. Gengishkhan memang tidak mendapatkan sahabat rajawali yang baru tetapi ia mendapat sebuah pemahaman baru tentang arti sahabat dan kejamnya angkara murka, hingga ia membuatkan sebuah patung rajawali untuk mengenang sahabat yang dibunuhnya sendiri. Kita sering kali terlena dari kehilangan dan mendapatkan, terlalu asik pada salah satunya, hingga tak mampu mengambil pesan dari apa yang sudah terjadi, yaa kadang irrasionalitas mempengaruhi perasaan manusia hingga kebanyakan kita melupa. Lupa kalau-kalau semua akan pergi. Lupa kalau-kalau semua pasti akan kembali kepada Ilahi. Karena salah meletakan sesuatu yang seharusnya dilepaskan.

Kehilangan adalah hal yang menyakitkan dan mendapatkan adalah hal yang menggembirakan, kira-kira begitu sudut pandang kita, padahal keduanya tidak mungkin ada tanpa ada salah satunya, sama seperti siang dan malam yang silih berganti, keduanya saling melengkapi, jika tidak ada siang mungkin malampun tak ada, dan jika tiada keduanya mana mungkin ada yang namanya hari, mana mungkin ada yang namanya waktu, kita tidak pernah memikirkan hal itu bukan.

Jadi cara yang tepat untuk menyikapi keduanya adalah seperti apa yang dikatakan sang Utusan “Khoiru Umuri Awsatuha” Sebaik-baik pekerjaan adalah pertengahannya. Jika sedih maka bersedihlah tetapi cukup secukupnya, pun demikian bila bahagia, ingatlah kepada Sang Pemberi Kebahagiaan dan kemudian bersyukur, semoga pernyataan ini bisa saya aplikasikan bukan hanya menjadi sebuah catatan.

Dahulu, ketika masih bocah, saya pernah menangisi gundu yang hilang, ngambek seharian pada Ibu Bapak yang tidak tahu menahu tentang itu, pernah pula saya berkelahi dengan seorang teman demi sebuah gambaran Power Ranger idola, pernah pula menangisi kucing kesayangan yang mati tercebur sumur. Sesuatu yang lebay, kalau mengingat itu semua saya tertawa, menyeka jeda senyuman jiwa, sepertinya begitulah kenangan demi kenangan terangkai, kehilangan dan mendapatkan sesuatu yang mengagumkan jika diingat dengan rangkaian cerita pengalaman hidup, dan tanpa terasa kita sudah melangkah maju, jika tidak melangkahpun maka waktu yang akan melangkahinya bukan?

Minggu ini saya kehilangan kembali, salah satu sosok di masa lalu saya, Kang Dadang, atau yang sering saya sapa dengan nama Bang Maman, seorang perantau dari Tasikmalaya. Dulu, rumahnya tepat di samping di rumah saya, seorang yang menurut saya berkarakter misterius, aneh bin ajaib, seorang PNS yang kerjanya cuma seminggu sekali, saya memang sudah lama tidak bertemu dengannya, tetapi, kenangan-kenangan ketika bekerja dengannya membuat saya menggigil hebat ketika tahu bahwa ia meninggal dunia hari minggu kemarin.

Dahulu, setiap pulang sekolah saya sering mencari daun sente, atau mencari keong, kijing dan cacing, yang hasilnya saya jual ke Bang Maman, pernah pula saya bekerja membuat empang di belakang rumahnya, saling berbagi cerita tentang sosoknya, meminta petuah dan sebagainya, ya walau saya tahu dia tidak jujur sepenuhnya, di rumahnya ada balkon seperti rumah pohon, di situlah biasanya dia mengurung diri, entah mengapa, saya juga tak begitu mengerti, sosoknya terlalu misterius untuk dikenali. Saya sering inap di rumahnya, atau bahkan saya pernah disuruh membeli Al-Quran dan kemudian di malam-malam awal ia sering membacanya dan mengajarkan saya bagaimana bayati mengayun. Hal yang paling sering dilakukan adalah menyendiri di atas rumah pohon, kadang ia mengaji di situ bahkan sampai tertidur pulas.

Sejak beliau pindah 7 tahun lalu, saya tidak pernah bertemu lagi, beliau menghilang seperti ditelan bumi, dan hari minggu kemarin ada seorang datang mengunjungi rumah saya, yang menginformasikan bahwa beliau meninggal, dan karena saya yang mempunyai kontak anaknya yang ada di Tasikmalaya, maka segera saya hubungi anaknya tersebut, yang membuat saya haru adalah sang Anak tidak bisa melihat lagi sosok bapaknya yang sudah 7 tahun tidak bertemu, karena wasiat sang bapak minta dikebumikan di kampung tempat sekarang ia tinggal, di Cibogo, kampung yang menurut saya agak pedalaman di daerah kabupaten bogor, dan ketika saya berangkat ke Cibogo kemarin saya cuma bisa melihat maqamnya yang masih bertanah merah, yaa cuma itu, dan kenangan-kenangan sejak dulu mengenalnya berhamburan tak bertuan, dan kali ini saya hanya bisa mendoakan kebaikan kepada beliau.

Saya mengerti begitulah kenangan hati bekerja, menerka jejak-jejak yang sudah terlampaui, tidak ada yang paling menyakitkan selain kehilangan orang-orang yang tersayang, dan tidak ada yang menyakitkan selain ditinggalkan oleh kenangan-kenangan itu. Sungguh saya masih bersedih dengan banyak hal, bukan hanya menyangkut kehilangan tetapi tentang mendapatkan.

Catatan harian
Bogor 11 juni 2014

Nenek tua di Statiun Kereta

Semalam di Statiun Kereta, setelah saya mengambil motor di sebuah penitipan, seorang nenek berjalan sangat pelan, kemudian saya menyapanya, “Nek..! Mau bareng ngga?” kemudian orang yang sedang duduk di depan rumah yang malah menjawab “Tau rumahnya ngga, Haji Karim” katanya pada saya “wah.! saya ngga tau”, kemudian si nenek berucap “Haji karim itu suami saya, dan udah meninggal, Saya pengen banget ke rumah anak mau ngendong (nginap) tetapi ngga ada yang nganterin, anak ngga ada yang mau nganterin” katanya lirih..

Di jalan, ketika nenek itu membonceng dengan saya, beliau terkesan menangis, “begini neng kalau udah tua, anak susah banget dimintanya, nenek pengen banget ngendong dirumah anak yang satunya tapi malah cuma dikasih duit goceng tapi ngga mau nganterin”

Saya menepuk-nepuk kaki nenek tersebut, dengan memberi wejengan “sabar ya nek, sabar” Akhirnya saya anterin sampai depan rumah anaknya walau saya harus berbeda arah, dan ketika ucapan terima kasih itu berulang-ulang dilantunkan, saya cuma berucap iya, dan beliau bilang “hati-hati neng”.

Hm… Saya yakin ini semua bukan sebuah kebetulan, Tuhan ingin saya belajar dari peristiwa tersebut, Tuhan menginginkan saya peka, yaa bagaimana jadinya jika saya yang berada di posisi sang nenek, sungguh sangat menyedihkan bukan, padahal ketika kita masih kecil pernahkah orang tua menghiraukan kita, mungkin sebagian ada, tetapi mayoritas orang tua kasih sayangnya tidak terbatas, setidaknya itu yang saya pribadi alami, terutama sosok Ibu.

Sekarang saya ingin berpikir terbalik, bagaimana jika saya yang berada di posisi sang anak, sungguh sangat menyedihkan pula, dengan berbagai alasan kesibukan, anak dan sebagainya saya lebih memilih menghiraukan sosok Ibu, sungguh sangat menyedihkan bukan, semoga Allah melindungi saya dan semua orang yang membaca ini dari sikap demikian

Ini cuma renungan pribadi dari peristiwa sehari-hari.

Kenangan Berjualan Koran

Jika di kota orang berjualan koran di perempatan jalan atau lampu merah, atau boleh jadi di kereta atau bus kota, maka, di desa, koran di jual di tempat hiburan layar tancep, yaa tempat layar tancep, tempat orang-orang berjejer duduk manis untuk menyaksikan film yang dinantikan. Jika di kota koran dijual di pagi atau sore hari, maka, di desa koran dijual pada malam hari, yaa malam hari, ketika orang-orang kota sedang asyik dengan kota penuh cahaya. Jika di kota koran dijual untuk dibaca, maka, jika di desa koran dijual untuk alat sarap duduk, yaa tempat sarap duduk pada waktu nonton layar tancep bersama teman atau keluarga, atau boleh jadi orang yang berpacaran, memang bukan koran baru yang dijual, tetapi koran bekas sisa-sisa bacaan orang kota, yang kami beli ditoko sembako seorang chines di pinggir kampung yang sering kami panggil engko

Begitulah dulu kehidupan di desa Kampung Karet Desa Tajurhalang, tempat saya dilahirkan, tempat saksi bisu para penjual koran yang kini sudah beranjak dewasa, mungkin banyak yang sudah lupa kalau dulu pernah berjualan koran di tempat layar tancep, tetapi kali ini saya hanya ingin bernostalgia, yaa bernostagia dengan segala kenangan-kenangannya, banyak pengalaman-pengalaman menarik ketika saya berjualan dulu, yang membelipun kadang tetangga, atau setidaknya orang kampung yang sudah kami kenal semua, atau kadang memang ada pula sosok asing, yaa paling warga desa tetangga, karena begitulah kehidupan di desa, hampir semua warga kita saling kenal, karena asas kekeluargaan yang masih sangat kental.

Saya masih sedikit ingat tentang bagaimana dulu awalnya saya berjualan koran, ketika umur saya mungkin sekitar 5-6 tahun, awal saya berani berjualan, mengambil dagangan teman, dengan nada cadel “kolan-kolan” orang yang mendengar tertawa, dan akhir dibelinya juga, dan ada lagi cerita ketika saya berjualan, yang beli saudara saya yang sedang pacaran, karena saudara saya yang perempuan, dipaksalah sosok lelaki yang tak begitu saya kenal itu membeli koran, kalau ingat sekarang saya jadi malu.

Tetapi, kini semua sudah tiada, tak ada lagi anak-anak yang berjualan koran ketika layar tancep berlaga, jangankan bocah yang berjualan koran, layar tancepnya pun sekarang hampir musnah, tergerus goyangan dangdut yang membahana di desa, jika anak dulu bisa berjualan ketika ada hiburan layar tancep, anak sekarang diajarkan untuk bergoyang dengan saweran uang pada artis yang berpakaian setengah sopan, ternyata seperti itulah dahsyatnya gerusan zaman, yang diperlukan adalah kesadaran individu, ingat sebuah kata manis dari guru mahfuzot saya dulu “utruki saro yatrukuka” tinggalkanlah keburukan maka ia akan meninggalkanmu.
Sekian kenangan masa kecil saya
Terima kasih