Kenangan Berjualan Koran

Jika di kota orang berjualan koran di perempatan jalan atau lampu merah, atau boleh jadi di kereta atau bus kota, maka, di desa, koran di jual di tempat hiburan layar tancep, yaa tempat layar tancep, tempat orang-orang berjejer duduk manis untuk menyaksikan film yang dinantikan. Jika di kota koran dijual di pagi atau sore hari, maka, di desa koran dijual pada malam hari, yaa malam hari, ketika orang-orang kota sedang asyik dengan kota penuh cahaya. Jika di kota koran dijual untuk dibaca, maka, jika di desa koran dijual untuk alat sarap duduk, yaa tempat sarap duduk pada waktu nonton layar tancep bersama teman atau keluarga, atau boleh jadi orang yang berpacaran, memang bukan koran baru yang dijual, tetapi koran bekas sisa-sisa bacaan orang kota, yang kami beli ditoko sembako seorang chines di pinggir kampung yang sering kami panggil engko

Begitulah dulu kehidupan di desa Kampung Karet Desa Tajurhalang, tempat saya dilahirkan, tempat saksi bisu para penjual koran yang kini sudah beranjak dewasa, mungkin banyak yang sudah lupa kalau dulu pernah berjualan koran di tempat layar tancep, tetapi kali ini saya hanya ingin bernostalgia, yaa bernostagia dengan segala kenangan-kenangannya, banyak pengalaman-pengalaman menarik ketika saya berjualan dulu, yang membelipun kadang tetangga, atau setidaknya orang kampung yang sudah kami kenal semua, atau kadang memang ada pula sosok asing, yaa paling warga desa tetangga, karena begitulah kehidupan di desa, hampir semua warga kita saling kenal, karena asas kekeluargaan yang masih sangat kental.

Saya masih sedikit ingat tentang bagaimana dulu awalnya saya berjualan koran, ketika umur saya mungkin sekitar 5-6 tahun, awal saya berani berjualan, mengambil dagangan teman, dengan nada cadel “kolan-kolan” orang yang mendengar tertawa, dan akhir dibelinya juga, dan ada lagi cerita ketika saya berjualan, yang beli saudara saya yang sedang pacaran, karena saudara saya yang perempuan, dipaksalah sosok lelaki yang tak begitu saya kenal itu membeli koran, kalau ingat sekarang saya jadi malu.

Tetapi, kini semua sudah tiada, tak ada lagi anak-anak yang berjualan koran ketika layar tancep berlaga, jangankan bocah yang berjualan koran, layar tancepnya pun sekarang hampir musnah, tergerus goyangan dangdut yang membahana di desa, jika anak dulu bisa berjualan ketika ada hiburan layar tancep, anak sekarang diajarkan untuk bergoyang dengan saweran uang pada artis yang berpakaian setengah sopan, ternyata seperti itulah dahsyatnya gerusan zaman, yang diperlukan adalah kesadaran individu, ingat sebuah kata manis dari guru mahfuzot saya dulu “utruki saro yatrukuka” tinggalkanlah keburukan maka ia akan meninggalkanmu.
Sekian kenangan masa kecil saya
Terima kasih

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di Curhat. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kenangan Berjualan Koran

  1. Gert berkata:

    With all these silly wesestib, such a great page keeps my internet hope alive.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s