Nenek tua di Statiun Kereta

Semalam di Statiun Kereta, setelah saya mengambil motor di sebuah penitipan, seorang nenek berjalan sangat pelan, kemudian saya menyapanya, “Nek..! Mau bareng ngga?” kemudian orang yang sedang duduk di depan rumah yang malah menjawab “Tau rumahnya ngga, Haji Karim” katanya pada saya “wah.! saya ngga tau”, kemudian si nenek berucap “Haji karim itu suami saya, dan udah meninggal, Saya pengen banget ke rumah anak mau ngendong (nginap) tetapi ngga ada yang nganterin, anak ngga ada yang mau nganterin” katanya lirih..

Di jalan, ketika nenek itu membonceng dengan saya, beliau terkesan menangis, “begini neng kalau udah tua, anak susah banget dimintanya, nenek pengen banget ngendong dirumah anak yang satunya tapi malah cuma dikasih duit goceng tapi ngga mau nganterin”

Saya menepuk-nepuk kaki nenek tersebut, dengan memberi wejengan “sabar ya nek, sabar” Akhirnya saya anterin sampai depan rumah anaknya walau saya harus berbeda arah, dan ketika ucapan terima kasih itu berulang-ulang dilantunkan, saya cuma berucap iya, dan beliau bilang “hati-hati neng”.

Hm… Saya yakin ini semua bukan sebuah kebetulan, Tuhan ingin saya belajar dari peristiwa tersebut, Tuhan menginginkan saya peka, yaa bagaimana jadinya jika saya yang berada di posisi sang nenek, sungguh sangat menyedihkan bukan, padahal ketika kita masih kecil pernahkah orang tua menghiraukan kita, mungkin sebagian ada, tetapi mayoritas orang tua kasih sayangnya tidak terbatas, setidaknya itu yang saya pribadi alami, terutama sosok Ibu.

Sekarang saya ingin berpikir terbalik, bagaimana jika saya yang berada di posisi sang anak, sungguh sangat menyedihkan pula, dengan berbagai alasan kesibukan, anak dan sebagainya saya lebih memilih menghiraukan sosok Ibu, sungguh sangat menyedihkan bukan, semoga Allah melindungi saya dan semua orang yang membaca ini dari sikap demikian

Ini cuma renungan pribadi dari peristiwa sehari-hari.

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di Curhat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s