Antara Kenangan, Kehilangan dan Mendapatkan

Apa artinya kehilangan? Apa artinya mendapatkan? Apa artinya datang? Apa artinya pergi? Semua silih berganti. Ketika ada sesuatu yang kita anggap hilang dan pergi maka ketika itu pula kita harus bersiap-siap untuk sesuatu yang akan mendatangi, sesuatu yang baru yang sebelumnya tak terpikirkan. Pun begitu pula sebaliknya. Jika sesuatu itu datang dan memberikan seribu harapan baru yang terlihat indah, maka ketika itu juga seharusnya kita harus siap untuk melepaskan. Begitukan? Kehilangan bukan hanya milik dua pasangan, tetapi lebih dari itu. Ada yang tahu tentang cerita GengisKhan yang kehilangan sahabat seekor rajawali yang dibunuhnya sendiri, yang padahal telah menyelamatkan nyawanya ketika itu. Gengishkhan memang tidak mendapatkan sahabat rajawali yang baru tetapi ia mendapat sebuah pemahaman baru tentang arti sahabat dan kejamnya angkara murka, hingga ia membuatkan sebuah patung rajawali untuk mengenang sahabat yang dibunuhnya sendiri. Kita sering kali terlena dari kehilangan dan mendapatkan, terlalu asik pada salah satunya, hingga tak mampu mengambil pesan dari apa yang sudah terjadi, yaa kadang irrasionalitas mempengaruhi perasaan manusia hingga kebanyakan kita melupa. Lupa kalau-kalau semua akan pergi. Lupa kalau-kalau semua pasti akan kembali kepada Ilahi. Karena salah meletakan sesuatu yang seharusnya dilepaskan.

Kehilangan adalah hal yang menyakitkan dan mendapatkan adalah hal yang menggembirakan, kira-kira begitu sudut pandang kita, padahal keduanya tidak mungkin ada tanpa ada salah satunya, sama seperti siang dan malam yang silih berganti, keduanya saling melengkapi, jika tidak ada siang mungkin malampun tak ada, dan jika tiada keduanya mana mungkin ada yang namanya hari, mana mungkin ada yang namanya waktu, kita tidak pernah memikirkan hal itu bukan.

Jadi cara yang tepat untuk menyikapi keduanya adalah seperti apa yang dikatakan sang Utusan “Khoiru Umuri Awsatuha” Sebaik-baik pekerjaan adalah pertengahannya. Jika sedih maka bersedihlah tetapi cukup secukupnya, pun demikian bila bahagia, ingatlah kepada Sang Pemberi Kebahagiaan dan kemudian bersyukur, semoga pernyataan ini bisa saya aplikasikan bukan hanya menjadi sebuah catatan.

Dahulu, ketika masih bocah, saya pernah menangisi gundu yang hilang, ngambek seharian pada Ibu Bapak yang tidak tahu menahu tentang itu, pernah pula saya berkelahi dengan seorang teman demi sebuah gambaran Power Ranger idola, pernah pula menangisi kucing kesayangan yang mati tercebur sumur. Sesuatu yang lebay, kalau mengingat itu semua saya tertawa, menyeka jeda senyuman jiwa, sepertinya begitulah kenangan demi kenangan terangkai, kehilangan dan mendapatkan sesuatu yang mengagumkan jika diingat dengan rangkaian cerita pengalaman hidup, dan tanpa terasa kita sudah melangkah maju, jika tidak melangkahpun maka waktu yang akan melangkahinya bukan?

Minggu ini saya kehilangan kembali, salah satu sosok di masa lalu saya, Kang Dadang, atau yang sering saya sapa dengan nama Bang Maman, seorang perantau dari Tasikmalaya. Dulu, rumahnya tepat di samping di rumah saya, seorang yang menurut saya berkarakter misterius, aneh bin ajaib, seorang PNS yang kerjanya cuma seminggu sekali, saya memang sudah lama tidak bertemu dengannya, tetapi, kenangan-kenangan ketika bekerja dengannya membuat saya menggigil hebat ketika tahu bahwa ia meninggal dunia hari minggu kemarin.

Dahulu, setiap pulang sekolah saya sering mencari daun sente, atau mencari keong, kijing dan cacing, yang hasilnya saya jual ke Bang Maman, pernah pula saya bekerja membuat empang di belakang rumahnya, saling berbagi cerita tentang sosoknya, meminta petuah dan sebagainya, ya walau saya tahu dia tidak jujur sepenuhnya, di rumahnya ada balkon seperti rumah pohon, di situlah biasanya dia mengurung diri, entah mengapa, saya juga tak begitu mengerti, sosoknya terlalu misterius untuk dikenali. Saya sering inap di rumahnya, atau bahkan saya pernah disuruh membeli Al-Quran dan kemudian di malam-malam awal ia sering membacanya dan mengajarkan saya bagaimana bayati mengayun. Hal yang paling sering dilakukan adalah menyendiri di atas rumah pohon, kadang ia mengaji di situ bahkan sampai tertidur pulas.

Sejak beliau pindah 7 tahun lalu, saya tidak pernah bertemu lagi, beliau menghilang seperti ditelan bumi, dan hari minggu kemarin ada seorang datang mengunjungi rumah saya, yang menginformasikan bahwa beliau meninggal, dan karena saya yang mempunyai kontak anaknya yang ada di Tasikmalaya, maka segera saya hubungi anaknya tersebut, yang membuat saya haru adalah sang Anak tidak bisa melihat lagi sosok bapaknya yang sudah 7 tahun tidak bertemu, karena wasiat sang bapak minta dikebumikan di kampung tempat sekarang ia tinggal, di Cibogo, kampung yang menurut saya agak pedalaman di daerah kabupaten bogor, dan ketika saya berangkat ke Cibogo kemarin saya cuma bisa melihat maqamnya yang masih bertanah merah, yaa cuma itu, dan kenangan-kenangan sejak dulu mengenalnya berhamburan tak bertuan, dan kali ini saya hanya bisa mendoakan kebaikan kepada beliau.

Saya mengerti begitulah kenangan hati bekerja, menerka jejak-jejak yang sudah terlampaui, tidak ada yang paling menyakitkan selain kehilangan orang-orang yang tersayang, dan tidak ada yang menyakitkan selain ditinggalkan oleh kenangan-kenangan itu. Sungguh saya masih bersedih dengan banyak hal, bukan hanya menyangkut kehilangan tetapi tentang mendapatkan.

Catatan harian
Bogor 11 juni 2014

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di Curhat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s