Melihat diri sendiri

Seorang pemuda datang dengan sempoyongan, menatap pagar yang membayangi tubuhnya, sesosok bocah sedang berdiri persis di hadapan pemuda itu, sang bocah sedikit mengerenyitkan dahi, “Adakah lelaki yang lebih bejat dari ini, menghabiskan waktu dengan bermabuk tanpa memikirkan anak istri” ketus dalam hati bocah itu. Pemikiran yang jarang terlintas dari seorang bocah seusianya, tetapi pengalaman telah mengajarkan banyak hal terhadap anak itu, ditinggal Ayahnya pergi, hidup hanya dengan seorang ibu yang sendiri, membuatnya mampu banyak berfilosofi, yaa, walaupun baru sekedar ideologi dalam hati.

Sosok pemuda manatap beler pandangan sang bocah, dan kemudian ia berkata
“Heyy bocah, Apakah kau tahu apa arti cinta dunia itu?”

“Kau sedang mencintainya bukan, karena kau sedang menikmati duniamu sendiri” Jawab bocah itu menyakinkan.
“tidak, tidak, Aku sedang meninggalkan duniaku itu, bukankah yang dikatakan Tuhan dalam kitab suci dunia itu berupa harta dan anak istri, dan aku hanya punya sebotol minumal beralkohol ini, lalu bagaimana mungkin aku sedang mengejar dunia dari sudut pandangmu itu” kelu sosok pemuda itu dengan tertawa lepas.

“Bukankah minuman itu haram, sementara anak istri adalah anugerah Tuhan, lalu mengapa kau memilih yang diharamkan, bukankah Tuhan tidak pernah mengharamkan dunia kecuali sebatas sesuatu yang tak manfaat seperti minuman yang kau pegang itu, bukankah demikian” tegas sii bocah sambil tersenyum

“Tidak, haii bocah, tidak begitu, kau belum menjadi tua untuk memahami problematika orang sepertiku, kau belum cukup umur untuk paham akan arti sebuah kehidupan, kelak kau akan tahu jika kau sudah bertambah dewasa dan menghadapi masalah yang sama” cetus lelaki muda itu

Sang bocah tertunduk Dia tahu bahwa seorang defensif tidak perlu dinasehati, karena setiap apa yang keluar dari orang lain akan hanya menjadi mentah, karena dia selalu punya pembenaran dengan segala apa yang dilakukan, dan si bocah pun pergi menghindar dan tersenyum pasi.

Kadang kita menjadi sosok pemabuk yang membela diri sendiri dan melakukan banyak hal dengan pembenaran pribadi, padahal semua itu cuma alibi yang tak berpondasi, cuma emosi sesaat yang teralat, bukankah Imam Ali telah mengatakan “Undzur mangkola wala tangjur mangkola” (Lihatlah perkataannya dan jangan kau lihat siapa yang berkata)

Catatan pribadi

Iklan

Tentang Irman

Absurd, tapi punya fisik nyata, bisa dilihat, diraba, diplototin, sekaligus bikin ngangenin banyak orang.. Ciyuss
Pos ini dipublikasikan di cerpen, Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s