Refleksi setelah Ramadan

Hari Idul Fitri, hari dimana momentum kebahagiaan merekah ruah, kue-kue berjejer di setiap rumah, dari mulai ketapang yang murah sampai dengan nastar ala kastengel yang megah. Kini momen itu mulai berjalan meninggalkan kita, detik demi detik, hari demi hari, semua akan terlewati, suasana hari raya paling seminggu sudah pergi, hingga akhirnya kita dihadapkan rutinitas sehari-hari, ramadan memang akan kembali, tetapi apakah kita masih ada kesempatan untuk menikmati bulan suci? Siapa yang bisa menjamin demikian, kita akan dihadapkan 11 bulan kemudian, dimana pertarungan iman jauh lebih hebat dibanding di bulan pelatihan, bulan pembakaran, bulan di mana maksiat diminta untuk pergi untuk sementara, ya, walau cuma sementara, rumah bordil ditutup ya setidaknya untuk menghargai bulan suci, dangdutan atau hiburan apapun berhenti, hampir semua menghargai bulan suci, tetapi, pertaruhan berikutnya adalah dimulai ketika kita sedang mengaku suci, kembali kepada fitrah ruhiah, seperti bayi yang lahir kembali, begitu para ustadz mengatakan, hingga dimulai hari itu banyak kita melakukan hal yang berlebihan, makan berlebihan, bermegah-megah dengan petasan dan yang paling menyakitkan masjidpun mulai ditinggalkan, malam takbiran seakan tanda kebebasan dari ramadan untuk sebagian orang, ahh sedih sekali hal demikian, tetapi itulah kenyataan, banyak pula yang merayakan dengan bermabuk-mabukan ada lagi yang berjudi semalaman, sebagian sangat bersemangat menyambut lebaran yaa mungkin alasannya demikian, bebas dari ramadan, tetapi wallahualam, yang jelas DIA memang sudah menjanjikan fitri sebagai fitrah untuk mereka yang beribadah, hari kemenangan untuk mereka yang berpuasa, bersusah payah dari pagi buta, menahan lapar dan haus sampai menjelang senja, dan untuk kegembiraan sebagai tanda kebebasan untuk orang yang sudah bosan dengan ramadan, Ahh semoga kita bukan katagori yang demikian, semoga kita orang yang merindukan ramadan bahkan ketika hari itu baru terlampaui satu hari. Semoga kita termasuk orang yang bergembira di hari kemenangan karena kembali kepada fitrah seperti bayi yang dilahirkan, dan semoga kita di dalam golongan orang yang tetap merindu ramadan, dan bukan orang yang terkesan merindu kebebasan karena bosan dengan ramadan yang menurutnya mengekang. Aamiin… 

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s