Arsip Bulanan: Agustus 2014

Di bulan tsabit malam ini

Aku sedang terkekeh tertawa sendiri.
kau tahu kenapa? Karena bulan itu, bulan tsabit itu sendiri dan ia tetap bersinar dalam kesendirian, Ahhkk memang selalu begitu, orang yang terpojok pada suatu keadaan selalu memandang dari sudut pandangnya sendiri, menghibur diri sendiri, supaya bisa tertawa dalam duka, sebagai pelipur lara dalam jiwa yang seperti baru ditinggal mati. Salahkah? Ahhk sebenarnya tidak juga, kadang pura-pura bijak mengajarkan kita bijak yang sesungguhnya.

Di subuh yang hening, kutatap langit kembali, tetapi percuma, langit tak peduli, kali ini Aku lebih memilih mengadukan semua keluhan, menyampaikannya dengan lebih khusyu, tentang umat-umat di bawah sini yang gaduh meributkan HAM, meributkan kekuasaan, meributkan berbagai macam permasalahan, katanya waktu ini adalah waktu mustajab untuk Tuhan mendengarkan, tentang diriku, saudara2ku, ayah ibuku, dan semua orang yang mengenalku, atau orang yang aku kenal, perang palestina semoga sudah tiada, orang sakit semoga segera disembuhkan atas namaNya, orang lapar semoga dikenyangkan atas namaNya, orang susah semoga dilapangkan atas AsmaNya. Ingat perkataan seseorang “Tidak ada yang Musykil bagiNya, menidakmungkinkan sesuatu sama saja kau telah menidakmungkinNya”
Adzan Subuh berkumandang sampai jumpa lagi kawan

Iklan

Renungan

Tentang malam yang datang menyelimuti,
akankah kedatangannya memberi pelajaran berarti
Tentang hidup yang silih berganti
Apakah hanya menjadi sebuah cerita yang datang dan pergi.

Di gelap dinihari, ketika mata tak mau lagi terpejam, ketika bintang-bintang menampakan keberadaannya. Bulan tersenyum sipu, bukan untuk apa-apa, tetapi kau tau ini tanggal berapa? Yaa.. syawal sudah lewat 20 hari, dan anehnya kau masih berada di titik yang sama, menangisi banyak hal dan menyesalinya di kemudian hari.

Rasa resah seakan terobati, rasa susah hilang dan datanglah ketenangan yang menghujam diri, bukankah kita akan kembali kepadaNya? Lalu mengapa masih khawatir dengan ketidakpastian hati, soal rezeki, pintalah dan kemudian wujudi, soal jodoh ulurkan tanganmu dengan hati,lalu serahkan kepada Tuhan Sang Maha yang tak seharusnya kau berputus asa di hadapanNya.

Untuk diri yang mengaku ingin menaati Tuhannya, renungkan.. Jangan-jangan kau sudah zindiq atau boleh jadi munafik…

Tentang Sahabat

Apa makna sahabat bagi teman-teman sekalian? Baik-baik, di sini saya hanya ingin sedikit mengungkap pengalaman pribadi tidak akan banyak bertanya hal yang demikian. Jujur, saya memang punya lumayan banyak kenalan tetapi untuk sahabat intim terus terang hanya beberapa, ada teman yang hanya say hello good bye, ada yang cukup bersalam-salaman terus hilang, dan sebagainya. Beda kepala beda cerita, saya yakin setiap kita punya karakter yang bermacam-macam. Jadi, tidak semuanya harus sama dengan pemahaman saya pribadi mengenai ini.

Bagi saya sahabat itu adalah pelepas dahaga ketika maghrib tiba, oase di padang pasir yang panas, tempat saling berbagi dan melepas dahaga, tempat berbagi cerita hidup baik dan buruk, tempat menjinakkan harimau yang marah di kala gundah, lepas, terbuka dan sebagainya (silahkan tambahkan pengertian sendiri sesukanya). Saya tekankan pada kata “saling” ya, saling berarti sama-sama membina, sama-sama memupuk, dan jika tidak saling maka kita hanya akan diperdaya oleh cinta buta, cinta yang hanya menjadi pengabaian sejati. Dasar sahabat itu tetap saja cinta, kasihan, empati, dan sebagainya, yang jelas setiap sosok tempat kita berbagi maka itu adalah sahabat, baik orang tua, kekasih atau teman seperjuangan senasib sepenanggungan dan sebagainya, saudara, sahabat, teman ahh itu semua mengandung pengertian yang rancu, yang saya rasakan ada sahabat yang rasa-rasanya lebih dari sekedar menjadi saudara hubungan darah, dan adapula saudara yang seakan-akan jauh dan terkesan hanya berstatus saudara belaka.

Karena status saya yang masih single, maka masalah pasangan hati saya masih meraba-raba pada Ilahi, belum mempunyai sahabat seumur hidup yang menemani, tetapi saya menjadikan beberapa orang sahabat intim, tentu sahabat itu lelaki. Dengan sahabat saya sering jalan bersama, tuker-tukeran pinjem buku, makan bareng berburu kuliner kaki lima, nginep bersama, dan yang paling penting kita saling berbagi masalah pribadi, dari mulai masalah ekonomi klasik sampai dengan masalah cinta yang belum terdeteksi sampai saat ini, tetapi saya tekankan saya tidak saling menyukai sesama lelaki, jangan salah sangka oke.! Hihiii.. Jumlahnya sahabat intim saya hanya beberapa, ya beberapa, tidak banyak, tetapi keintiman membuat semuanya serasa ramai dan damai. Satu-satunya sahabat perempuan yang paling dekat dengan saya adalah sosok ibu yang selalu menasehati, berbagi pengalaman, kebijakan hidup, cerita ini itu dan sebagainya, kadang beliau menyinggung saya dengan masalah hati, Huf.. biasanya kalau ditanya itu saya menadi kikuk setengah mati.. Hihiii

Ada sahabat yang hilang ya mungkin begitu memang ya, datang dan pergi, hanya beberapa yang tetap terjalin komunikasi, tetapi bagi saya sosok-sosok yang pernah mengisi hidup saya adalah sahabat yang tak mungkin terlupa begitu saja, semua berada di ingatan walau berada di bilik masing-masing, ketika waktu mempertemukan kita lagi, memori itu akan menyeruak memuntahkan ingatannya, mengenang masa-masa bersama, tetapi Wallahualam, Allahlah yang mempertemukan dan DIA pula yang memisahkan.

Untuk sahabat-sahabat saya terima kasih sudah menemani sampai saat ini, dan untuk mereka yang sudah lama tak berkomunikasi semoga kita tetap bisa saling berbagi kembali.

Thanks a lot