Renungan

Tentang malam yang datang menyelimuti,
akankah kedatangannya memberi pelajaran berarti
Tentang hidup yang silih berganti
Apakah hanya menjadi sebuah cerita yang datang dan pergi.

Di gelap dinihari, ketika mata tak mau lagi terpejam, ketika bintang-bintang menampakan keberadaannya. Bulan tersenyum sipu, bukan untuk apa-apa, tetapi kau tau ini tanggal berapa? Yaa.. syawal sudah lewat 20 hari, dan anehnya kau masih berada di titik yang sama, menangisi banyak hal dan menyesalinya di kemudian hari.

Rasa resah seakan terobati, rasa susah hilang dan datanglah ketenangan yang menghujam diri, bukankah kita akan kembali kepadaNya? Lalu mengapa masih khawatir dengan ketidakpastian hati, soal rezeki, pintalah dan kemudian wujudi, soal jodoh ulurkan tanganmu dengan hati,lalu serahkan kepada Tuhan Sang Maha yang tak seharusnya kau berputus asa di hadapanNya.

Untuk diri yang mengaku ingin menaati Tuhannya, renungkan.. Jangan-jangan kau sudah zindiq atau boleh jadi munafik…

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di Puisi. Tandai permalink.

2 Balasan ke Renungan

  1. Fasya El-Syahid berkata:

    yuk mari kita renungi dan berbenah diri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s