Syukur Adam yang pudar

Adam namanya, lelaki berusia muda yang baru merantau di kota tua Jakarta mencari penghidupan diri dan keluarga. Jika sosok lain setelah lulus SMA sibuk mau kuliah dimana, maka berbeda dengan Adam, dia lebih memilih mencari kerja, Ahh mungkin kata tepatnya bukan memilih karena memang Adam tidak punya pilihan menyangkut hal demikian.
“Siapa sih yang tidak ingin kuliah, tetapi boro-boro untuk kuliah untuk makan saja saya dan Ibu masih sekenanya, malah kadang dibantu tetangga dan saudara” Gumam Adam bercerita perih kepada bang Madun rekan sesama loper koran.
“Hahahaaaa.. Bukan begitu dam cara menjalani hidup, kau masih terlalu muda untuk berputus asa” Bang Madun tertawa sambil menjawab sekenanya.
Adam terdiam sambil tertawa kecut dan ia memilih untuk tidak melanjutkan curhat colongannya di kala itu, baginya semua nasehat hanya angin lewat yang ujung-ujungnya hanya sebagai penghakiman pribadi tanpa mahkamah keadilan yang berdiri. Ahh Keadilan? Yaa Keadilan, sesuatu yang ia pertanyakan sepanjang perjalanan hidupnya, entah kapan dan dimana ia akan mendapat jawaban.
Enam bulan sudah ia berada di Ibukota, rutinitas loper koran sudah serasa membosankan baginya, kini Adam kembali mempersiapkan surat lamaran mencari lowongan sana sini, mengamati sejenak koran yang akan dibawanya ke pelanggan. Rubrik Lowongan Pekerjaan di koran menjadi santapan paginya dan kemudian dicatatlah setiap lowongan yang menurutnya menarik dan memenuhi kriteria, tetapi tiada di nyana, surat lamaran yang disebarkan hanya sebagian yang memanggilnya Interview dan sadisnya itupun gagal. Ahh seorang Introvert yang pemurung memang sulit untuk mendapatkan sebuah pekerjaan. Tetapi Tuhan berkhendak lain, Adam malah ditawari pekerjaan baru oleh pelanggan korannya. “Menjadi Satpam” memang bukan suatu pekerjaan yang diidam-idamkannya tetapi sudah cukup memberi kegembiraan pada hatinya yang resah. Malam itu, ia terkenang pada impian-impiannya yang seakan pupus, impian-impian yang menyingkap otaknya untuk mengingat kembali tentang sosok Bapak yang sudah tiada
“Bapak jahat, mengapa pergi lebih dahulu sebelum semuanya menjadi lebih baik” Gumam Adam sendiri..
“Ahh tidak, tidak, Bapak tidak mungkin sejahat ini yang jahat itu taqdir dan yang mengizinkannya terjadi” Keluh Adam, dalam hatinya ingin menyalahkan Tuhan, tetapi tak mampu berucap gamblang.
“Apa pantas Aku menyalahkan Tuhan kali ini?” pikirnya lagi.
“Ahh sudahlah, yang jelas Aku marah atas kebijakanNya mengambil Bapak lebih dahulu di Usia yang masih sangat muda” Desah Adam terakhir..
Percakapan antara dia dengan dirinya itu berakhir setelah bunyi telpon nokia polyponic jadul kesayangannya.
” Ibu…” katanya sedikit berteriak sambil menyambar nokia jadulnya.
“Assalamualaikum, piye kabare dam?” Ibunya Adam membuka pembicaraan.
“Waalaikumsalam Bu,Alhamdulilah apik-apik wae, Ibu sehatkan?” Adam menjawab sopan.
“Alhamdulilah sehat dam, bagaimana kerjaannya lancar dam?” Sang Ibu balik bertanya.
“Adam mau pindah kerja bu, ditawari sama pelanggan koran Adam, jadi satpam bu, gajinya lumayan, Adam minta doa Ibu ya..!”
Percakapan berlangsung panjang, Adam menceritakan banyak hal kepada Ibunya, tentang teman kerjanya, tentang Bang Madun, tentang bosnya, kehidupan di Jakarta, tentang tempat tinggalnya di mes yang sempit dan bau dan segala macam lainnya yang membuat sang Ibu kadang merasa prihatin atau bahkan tertawa dan manggut-manggut.
Adam seperti mendapatkan sebuah kejutan besar ketika sang Ibu menceritakan amanat terakhir bapak kepadanya.
“Dam, pesan terakhir bapak ke Ibu sesaat sebelum ajalnya ketika itu adalah jika kau sudah lulus SMA, bapak meminta Ibu untuk memperkenalkan satu sosok saudara jauh bapak yang ada di Jakarta, nanti kau akan bisa banyak belajar darinya” Ucap Ibu perlahan.
“Siapa dia bu? Dan dimana?” Tanya Adam penasaran.
“Ibu hanya bisa menceritakan sedikit tentangnya kepadamu, karena dia adalah saudara jauh bapak dan bahkan Ibu juga belum pernah bertemu dengannya, tetapi dari cara bapakmu bercerita, ibu tahu ada kekaguman yang luarbiasa dari bapak kepada sosoknya itu”.
Setelah bercerita panjang lebar, percakapan merekapun berakhir , Adam sudah mencatat alamat lengkap saudara jauhnya itu, besok rencananya ia akan langsung mencarinya. Bintaro ujung Jakarta Selatan sana. Ahh rasa-rasanya masih terasa asing untuk dijelajahi baginya, tetapi rasa penasaran seakan mengalahkan semua rasa yang ada di dalam dada.
“Semoga belum pindah” Dalam hatinya bergumam.
Kini, beribu tanya yang ada di benaknya, siapa? Dan Sosok seperti apa yang sampai-sampai menggugah sang bapak untuk memperkenalkannya kepada sosok itu.

“bersambung”

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di cerpen. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s