Duduk di Angkutan umum sudah terlalu mainstream

Duduk memang lebih nyaman daripada berdiri, itu mungkin pendapat hampir semua orang, buktinya ketika naik KRL atau angkutan umum seperti busway dan lainnya kebanyakan orang lebih memilih terburu-buru untuk berebut kursi kosong, padahal sebagian di fasilitas itu begitu jelas terpampang gambar dan kata “Untuk Ibu Hamil, Ibu dan Balita, Lansia atau Orang Cacat”. Bahkan belum lama ini kita pernah dimarakkan dengan sosok Dinda yang marah-marah di Path karena tempat duduk yang sedang ditempatinya di KRL dipinta oleh seorang Ibu hamil. Sebagian orang yang masih muda+lelaki bahkan rela menempati tempat duduk yang sebenarnya bukan haknya dengan berpura-pura tidur+pakai masker+headset di kupingnya, ya kalau tidak ditegur ya mereka beruntung, bisa sampai ketujuan dengan nyaman tanpa harus berdiri lama-lama. Saya sering sekali mendapati hal demikian, laki-laki masih muda, duduk dengan menggunakan masker dan pura-pura tertidur, kalau ditegur baru deh mereka merasa hidup Hihiii.. persis seperti HP jadul yang kalo digetok baru dapat sinyal, Hehhe.. Perjalanan pulang pergi ke kantor dengan menggunakan KRL+Kopaja setiap hari membuat saya dipertemukan dengan banyak hal, ya semoga saja banyak hal itu membawa berkah, apalagi kalau sampai menikah, ehh emang jodoh ya, tetapi siapa tahu ketemu jodohnya di perjalanan pulang pergi, kan bisa saja kan. Ahh beruntung sekali saya. Tetapi baiklah, cukup, cukup deh ngelamunnya. Kembali kepada duduk menduduki, bagi saya pribadi duduk di KRL atau kendaraan umum lainnya bukanlah sesuatu yang salah jika menurut kaidahnya, yang pertama mengutamakan apa yang sudah ditentukan “Ibu Hamil, Ibu dan Balita, Lansia atau Orang cacat” atau boleh juga kalau-kalau kita tambahkan wanita muda sebagai salah satu yang berhak diantaranya, karena lelaki harusnya merasa akan lebih gagah jika berdiri dan memberikan tempat duduk kepada wanita ya walaupun wanitanya masih muda, ini bukan masalah supaya wanita itu jatuh cinta, bukan itu.! Sama sekali bukan, itu hanya kemungkinan kesekian yang seharusnya tidak terlintas. Tetapi coba deh rasain kalau kita duduk dan tepat di depan kita ada wanita berdiri, dan saya sebagai lelaki merasa gagah jika memberikannya kepada wanita baik muda maupun tua, ada kepuasan tersendiri deh pokoknya. Dan sebenarnya bagi saya pribadi duduk di KRL, Busway atau Kopaja bukanlah pioritas sama sekali, tak masalah jika saya berdiri pulang pergi, ya memang begitu, kalau naik KRL rasa-rasanya saya memang belum pernah ngerasain yang namanya duduk pulang atau pergi jika pada saat hari kerja, kalau kopaja kadang saya dapat tempat duduk tetapi jika ada wanita pasti saya relakan untuknya, siapapun itu, baik wanita yang sudah tua maupun yang masih muda, jadi jangan salah pikir ya, saya tidak mendiskriminasikan wanita yang sudah tua kok.. Hihii.. Bisa jadi.. bisa jadi.. yang jelas di tempat kerja, saya sudah duduk berpegel-pegel ria, menatap kerjaan yang gagah perkasa dan saya merasa lelah dan kadang jengah, saya pikir berdiri di Kopaja atau KRL adalah salah satu bentuk menghilangkan perasaan lelah dan jengah itu, kadang asik juga, saya bisa lebih terhibur dengan suasana perjalanan, kadang ada pengamen, tukang dagang, atau ngobrol dengan teman seperjalanan yang kadang baru kenal. Baik-baik dari pada saya ngelantur kemana-mana baiknya saya tutup saja, intinya duduk di Kendaraan umum itu ya wajar-wajar saja asal mengikuti ketentuan yang sudah ditentukan dan bagi yang ngerasa laki “Ngerasa pakai rok ngga si Loe” Kalau di depannya ada wanita sedangkan kita asik duduk tiada peduli sama sekali. Hihii.. Peace…

Ada teman yang pernah bilang kalo ada laki muda yang masih tetep egois duduk dengan bergaya ngga peduli walau di depannya ada cewek atau lansia atau apalah yang berhak itu, tanya aja begini “Mas Anda cacat ya?” Cacat Mental… Hihiiii… Jleb kan ituh..

Salam hangat

 

news_19_1397715587

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

5 Balasan ke Duduk di Angkutan umum sudah terlalu mainstream

  1. rudi berkata:

    Saya sebenernya cari keyword lain, tp nyasar ke sini. dan tdk suka dg artikelnya yg (maaf) sok gentle. Yg wajib diutamakan duduk adl ibu hamil, lansia, bayi dan org cacat/sakit berat. Bukan wanita muda. Pemikiran anda hanya membuat wanita muda tambah manja, semakin byk dinda2 yg lain, dan area khusus wanita mubazir krn wanita tdk mau berdiri di sana. Pdhl semua sudah sepakat penumpang prioritas adl ibu hamil, lansia, org cacat/sakit dan anak kecil itu sudah cukup. Bknnya wanita muda yg kuat berdiri ber jam2 buat nonton artis. Jgn merasa berhak menambah aturan seenaknya. kadang2 laki2 jg hrs naik dr ujung stasiun, krn butuh tempat duduk, knp wanita2 yg msh sehat itu tdk melakukan hal yg sama. Anda jg tdk tau kalau laki2 yg duduk itu sedang sehat atau tdk. Kalau saya ada di sana anda pasti tdk tau kalau saya punya darah rendah. Hanya krn tubuh anda kuat tdk berarti anda berhak menghina pria lain yg tubuhnya tdk sekuat anda. ingat roda anda berputar. Kebaikan bkn dilihat dr kebaikan thd 1 gender saja, tp utk kemaslahatan seluruh manusia. Yg pasti saya nilai artikel ini baik di awal ttp SANGAT Buruk di bagian tengah ke akhir. Terima kasih.

    • Irman berkata:

      Terima kasih atas masukannya ya pak. Ini sudut pandang saya semata, jika tidak setuju ya tidak apa-apa, hanya saja saya sering melihat dalam kenyataannya melihat laki-laki yang masih muda duduk di bangku pioritas dengan tertidur dan ketika dibangunkan baru ia bangun dan memberikan tempat duduk kepada wanita yang berhak, menurut saya wanita lebih berhak mendapat tempat duduk terutama yang lansia atau Ibu-ibu setengah baya, ya tentunya bukan yang seperti dinda yang saya maksud di situ. Terima kasih atas masukannya dan saya selaku penulis mohon maaf jika artikel ini menyinggung perasaan Anda. 🙂

    • rian berkata:

      Saya setuju dengan saudara Rudi, komentarnya yang menyebutkan artikel ini terkesan sok gentle pun saya setuju. Adanya kata-kata “Ngerasa pakai rok ngga si Loe” dan “Mas Anda cacat ya?” penulis artikel terkesan terlalu cepat mengambil kesimpulan/menghakimi orang lain. Sepertinya saudara Rudi sudah cukup mewakili opini yang ingin saya sampaikan. Terima kasih kalau komentar saya juga ditampilkan.

  2. rudi berkata:

    Kalau anda pria gentle jgn loloskan komentar saya. Thx.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s