Menjajaki Gunung Menir

Di sudut lain, menelusuri gunung menir, walau tidak seterkenal dan sebesar gunung di sebelahnya yaitu gunung salak, tetapi sudah cukup membuat kaki kelelahan untuk menapaki terjal kulitnya. Kota dengan bangunan-bangunan yang menjulangnya terlihat kerlap kerlip di kejauhan. Tuhan memang demikian besar atas segala apa yang diciptakanNya.

Tanpa direncanakan sebelumnya, sabtu 27 desember kemarin saya diajak ke gunung menir oleh seorang kawan, kira-kira dua jam perjalanan kami tempuh dengan sepeda motor, dengan menelusuri jalan kemang ciampea dan sampailah ke pamijahan, kondisi jalan lumayan bagus, tetapi banyaknya tanjakan yang berkelok bikin adrenalin merinding, saya bersama teman berlima orang, tersenyum, bercanda dan tawa, foto-foto, melihat monyet liar, menapaki jurang dan kelelahan.

Ritual terakhir adalah pemandian air panas, menuju ciparay, melihat bebatuan yang sebesar tempayan, mandi di kali yang airnya deras, sungguh kehabisan kata-kata untuk mengagumi ciptaan Tuhan ini.

Pulang maghrib, kami bisa melihat kota dengan bangunan yang tingginya bercahaya kerlap kerlip. Indah nian, dan lagi-lagi terpana dalam pesona Sang Pencipta. Alhamdulilah, Allahuakbar
Gunung_menir

Gunung_menir2

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di Curhat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s