Bapakku sang pembuka jalan kebenaran

Tubuhku tersekat, napas tersenggal dalam, ku tatap kembali wajahku di cermin spion motor yang terparkir di pinggir jalan, air mata terlihat mengatup, memaksa keluar, sementara sifat kelaki-lakianku berucap jangan, memaksa berlaku gagah, walau akhirnya mengalah. Apakah lelaki tidak boleh menangis? Aku rasa tidaklah demikian, menangis itu ungkapan emosi yang wajar, bukan hanya milik kaum perempuan bukan? Tuhan menciptakan air mata dan kini aku mempunyai kesempatan untuk menikmatinya, menikmati sejadi-jadinya. Siapa yang mau protes? Tidak peduli dengan lalu lalang orang-orang lewat yang dari tadi memperhatikanku. Akupun menangis sejadi-jadinya di gerimis yang menyayat hati. Bingung? Apa yang sudah terjadi demikian menyiksa hati. Dan aku terkesan malah menikmati sayatan itu, dengan emosi berbalut air mata. Begitulah memang jika sesuatu disikapi tanpa sabar, masalah terlihat amat besar.

“Ohw Tuhan ajari aku untuk bersabar kali ini” decakku dalam hati.

Adalah pagi itu, sekiranya waktu bisa kuberhentikan sejenak, akan ku perbaiki diriku di waktu yang kemarin, kau tahu kawan, aku terjerumus dalam dunia yang salah, dunia male escort, gay, lesbi,bar, ganja, hura-hura, dan apalah itu namanya, semua menjadi bagian hidupku selama ini, dunia hitam kelam yang membuat ketertarikan sexku menyimpang. Aku memang sama sekali tidak menjadi banci, sama sekali tidak, Aku masih menyukai perempuan tetapi lebih nyaman dengan sesama lelaki. Adalah pagi itu, ketika teman SMA ku menawarkan sebuah pekerjaan di sebuah hotel di Ibukota yang ku terima begitu saja.

“Sial.. itulah yang menjadi awal segalanya.” Delikku lagi mengingat dalam hati.

Mulutku terkatup lagi, menahan gigi graham yang mengangnga karena deras air mata. Bunyi telpon tadilah yang membuatku memilih berhenti dan memarkirkan sepeda motor di keramaian tepi taman makam pahlawan kalibata.

Suara itu, suara bapak yang memaksa pulang, ohw bukan, tepatnya suara ibu yang mewakili perasaan rindu seorang bapak yang memaksaku untuk pulang ke rumah. Tetapi ini bukan masalah rindu, bukan masalah pulang ke rumah. Tetapi masalah pertanyaan yang aku belum tahu bagaimanaku harus menjawabnya.
“Bapak sakit payah le, pulanglah cepat le.. dan satu lagi, dia minta kau segera menikah le.., itu yang dimintanya, kalau sudah ada calon bawalah ke rumah” ucap Ibu pelan seraya menenangkanku tentang keadaan bapak.

Suara itu seperti sedang menghakimi semua perbuatanku selama ini. “Sesat” bukan, bukan sesat tepatnya lebih kepada sesuatu yang dimurkaiNya, karena aku mengerti bahwa terjebak di dunia hitam kelam seperti ini adalah sebuah dosa yang teramat besar, perbuatan yang dimurkai. Sementara sesat itu sama dengan jika aku membenarkan perbuatanku sendiri tanpa merasa bersalah. Mungkin itu mengapa dalam ayat terakhir alfatihah antara jalan yang dimurkai dengan jalan yang sesat dibedakan dengan sangat jelas. Kira-kira itu makna sesat dan dimurkai yang aku pahami dari guru ngajiku dulu.

Permintaan yang membingungkan untuk duniaku sekarang ini, tubuhku sudah terjebak dunia hitam sementara menikah adalah ibadah sunah NabiNya bagaimana aku bisa menjalankan keduanya sekaligus, sementara itupun satu hal yang menjadi pertanyaan besar. Wanita mana yang mau menerima laki-laki penuh dosa ini? Ahhk.. Aku berputus asa.

Ku putar balik arah sepeda motorku, di perjalanan cuma air mata yang bercampur gerimis yang membasahi pipiku. Aku tidak menyangka bapak yang sudah kepayahan masih memikirkan anak laki-laki terakhirnya ini. Pikiranku terbaluti kenangan bersamanya, bagaimana aku diajari bermain gundu, bermain lumpur di sawah, merawat dan bermain bersama ayam dan kambing di belakang rumah. Semua seakan meluluh lantahkan pertahananku.

Ku siapkan tas besar untuk menyiapkan pakaian untuk pulang. Tanpa mengabari lebih dahulu semua. Pekerjaan itu, teman-teman itu, dunia hitam itu, ku ingin keluar dari semuanya. Demi bapak, cuma itu yang tertanam dalam hatiku sekarang. Yaa demi bapak, yang sedang berjuang dalam kepayahan, yang tidak tahu bagaimana dunia anaknya sekarang.

Sesampai di rumah ku lihat sosok orang tua yang ku hormati itu benar-benar sudah kepayahan, bapakku tidak mau dirawat di rumah sakit, entah mengapa jadinya, sejak kakaku meninggal di rumah sakit ketika pasca operasi, bapak bersikeras tidak akan ke rumah sakit lagi, bahkan ke klinikpun tidak, kepercayaannya terhadap dokter atau rumah sakit itu telah sirna sejak kakaku yang katanya sehat dalam versinya itu meninggal pasca operasi tumor di bahunya. Dan obat-obatan herbal menjadi acuan bapak selama ini, dengan refrensi dari temannya yang menjadi terapis herbal dan bekam. Tetapi keadaan ini membuat semuanya berbeda, bapak benar-benar sudah kepayahan, aku memaksanya untuk segera di rawat ke rumah sakit. Tetapi sore itu, di sore yang mendung, bapak akhirnya memilih tak ikhlas jika di bawa ke rumah yang katanya bau obatnya itu membuat hidungnya tak mampu bernapas. Matanya terpejam, napas di tenggorokanpun sudah selesai tepat setelah membisikkan sesuatu untukku.

“Yaa Rabb, apa aku sedang bermimpi kali ini” Seraya batinku berucap.
Acara pemakaman selesai, tetapi bisikan terakhir itu membuatku serasa diamanahi hal yang begitu berat.

”Menikah? Dengan siapa?” Pikirku keras.

“Menikah” Kira-kira kalimat yang pertama itu yang ku dengar dari bapak sebelum berucap kalimat tauhid di telingaku.
Tanpa kuketahui semua sudah direncanakan bapak dan sahabat lamanya. Pak Amin, sosok terapis obat herbal itu mendekatiku setelah pemakaman, seraya menyampaikan amanah bapak kepadanya. Dan aku tertegun dibuatnya. Menikah? Dengan anaknya. Ohw Tuhan, apa yang harus aku sampaikan kepada bapak ini. Apa aku harus jujur dengan kekotoranku selama ini. Atau bagaimana…

Berjalan waktu keadaan semakin membaik, aku sudah memutuskan semua kontak dengan teman-teman yang berhubungan dengan dunia hitam itu, no hp sudah ku ganti, facebook twitter sudah ku non aktifkan, semua serasa baru untukku. Adalah bapak Amin teman bapakku itu yang menyakinku untuk menikahi anaknya, semua sudah ku ceritakan, duniaku, dunia hitam itu. Semua sudah ku buang jauh-jauh, dan mengikhlaskan atas semua yang sudah terjadi seraya sebagai pertobatan. Alhamdulilahnya hari ini aku akan berucap ijab kabul. Ada rasa haru di hatiku. Sungguh Tuhan selalu punya cara dan memberi kesempatan kepada hamba-hambaNya untuk kembali ke jalanNya. Dan Aku berucap syukur atas itu. Benarlah jika doa dari orang tua memang tak berjarak dengan Tuhan. Sungguh doa kebaikan dari ibu dan bapaklah yang membuatku kembali ke jalanNya. Hadiah pertobatan yang indah dengan berupa ijab dan mempelai wanita yang cantik jelita.

Aku tahu bahwa tidak semua kisah seindah seperti kisahku. Tetapi Aku tahu, bahwa Tuhan selalu memberikan jalan untuk orang yang berusaha menuju kepada kebaikan, menuju kepadaNya.
Cerita ini fiksi yang terinspirasi dari kisah seorang teman yang terjebak dalam dunia itu.

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di cerpen. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s