Kenangan Menyeruak di Kala IMLEK

Entah sejak kapan semua ini bermula, tetapi setiap IMLEK kampung sebelah tempat saya tinggal ini selalu ramai, bunyi petasan bersautan di pagi-pagi yang hujan, yaa memang begitu, karena memang kampung sebelah tempat saya tinggal yang hanya dibatasi sawah itu adalah kampung baru cina, di mana penduduknya mayoritas keturunan Tionghoa. Tunggu dulu, ternyata bukan hanya kampung sebelah yang ramai, tetapi kampung saya juga ramai, padahal kampung saya mayoritas penduduknya Muslim, ya memang ada satu dua keluarga Tionghoa yang tinggal, tetapi nyata-nyatanya mereka merayakan hari rayanya secara meriah dan yang paling penting adalah damai. Paginya suara petasan bersautan dan kemudian mereka pergi ke klenteng untuk sembahyang, dan setelahnya perayaan yang diisi musik cokek yang bahkan ketika saya menulis ini suaranya masih berkeliangan (jam 10 malam). Dulu waktu masih kecil, saya masih ingat bagaimana antusiasnya saya ingin melihat barongsay yang disajikan oleh warga Tionghoa di kampung saya dalam perayaan Imlek, sesuatu yang asing tetapi berhasil membuat saya pribadi penasaran, tetapi tahun ini Keluarga Tionghoa yang sering disebut warga sebagai Engko Enghan itu merayakan hari rayanya dengan memanggil kesenian cokek, semacam dangdut versi Tionghoa, nanti mereka akan bergoyang, saya yang tadi lewat di depan rumahnya cukup tertawa kecil melihat nenek-nenek joged bareng sinden, semua keluarga memakai pakaian merah, ya mungkin merah memang selalu dijadikan simbol oleh warga Tionghoa, dan beruntunglah buat para anak-anak, karena akan dibagikanlah uang amplop yang sering mereka sebut Angpao, sekiranya itu sekilas yang saya perhatikan.

Saya melihat bagaimana toleransi ini berjalan, tidak pernah ada perang karena sebuah kepercayaan, orang Tionghoa menghormati warga muslim, dan sebaliknya warga Tionghoa yang minoritaspun dihormati, ketika perayaan hari raya Imlek, warga Tionghoa bebas merayakan, bahkan dengan suara nyanyian cokek atau petasan di pagi-pagi buta, di kehidupan sehari-hari warga di sini juga membaur, dan bahkan sering belanja ke warung Engko Enghan yang memang salah satu warga Tionghoa di kampung saya, rasa-rasanya menghormati kepercayaan orang lain cukup dengan membiarkannya merayakan dengan apa yang mereka yakini bukan ikut dalam sebuah perayaan. Boleh membaur asal jangan melebur, sepertinya itu prinsip yang cocok untuk seseorang yang memegang benar-benar agamanya.

Perayaan IMLEK ini mengingatkan saya banyak hal, pertama adalah kenangan masa kecil saya, dulu waktu masih kecil saya pernah ikut dengan bapak ke rumah temannya yang memang di daerah kampung cina dan kebetulan juga warga Tionghoa. Ini memang bukan cerita tentang perayaan IMLEK tetapi ini pengalaman pribadi saya semata, waktu itu untuk pertama kalinya saya melihat babi yang benar-benar besar yang berada di kandang, di situ saya baru tahu kalau-kalau babi makannya ampas atau dedek. Kedua saya teringat dengan cerita tentang keponakan bapak yang dari Muslim berpindah agama ke Khong Hucu demi alasan pernikahan, dulu waktu keduanya pacaran bapak saya adalah termasuk yang paling geram mengancam, mengejar laki-laki cina yang suka main dengan sembunyi-sembunyi, walau akhirnya keponakan bapak itu benar-benar menikah dengan warga Tiong Hoa dan mengorbankan agamanya. Sesuatu yang menyedihkan, ya mungkin itu mengapa kalau-kalau keponakan bapak saya itu jarang berkunjung ke keluarganya yang muslim. Terakhir ketika Ibu saya berkunjung untuk mengundang di acara pernikahan saudara juga, di rumahnya banyak babi, bahkan suaminya menjadi tukang jagal babi, dan anjingnya juga di mana-mana.

Saya rasa itu saja yang spesial dari sebuah kenangan yang menyeruak di kala IMLEK yang menyenangkan adalah hari ini saya libur dari pekerjaan.

Kampung Karet Tajurhalang

19 Februari 2015

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di Curhat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s