Arsip Bulanan: Maret 2015

Menolong kucing atau menolong diri sendiri?

Kemarin ketika pulang kerja, di jalan ada dua ekor anak kucing yang berlarian, hampir-hampir kucing itu terlindas motor yang ada di depan saya, Alhamdulilah motor itu sempat mengerem di waktu yang tepat, dan sayapun yang berada di belakang motor itu memilih untuk berhenti, dan melihat sambil menerka-nerka, apa yang akan dilakukan sang pengendara motor itu, ternyata si pengendara motor meminggirkan anak kucing yang malah lari ke bawah kolong motornya, dan setelah itu sang pengendara itu langsung meneruskan perjalanannya.

Karena kucing itu berada di tempat yang jauh dari rumah, saya curiga anak kucing itu sengaja dibuang oleh seseorang, dan dengan kecurigaan itu saya akhirnya memilih untuk membawa kedua anak kucing itu, bukan membawa ke rumah saya, karena perjalanan saya masih lumayan jauh, dan saya punya alasan kuat untuk tidak membawanya ke rumah, hehehee.. di rumah udah ada 5 kucing. Dan akhirnya kedua anak kucing itu saya tepikan pada sebuah pesantren terdekat yang saya temui, yaa semoga saja keputusan saya itu tepat, semoga di pesantren itu ada seseorang yang menyayangi mereka sehingga bisa melanjutkan hidup yang lebih baik.

Di lain sisi, karena menolong kucing itu saya merasa ada perasaan bahagia, ada kepuasan batin tersendiri, sama seperti setelah menolong seorang manusia, jadi saya akhirnya berpikir, ini sebenarnya bukan kucing itu yang saya tolong melainkan kucing itu yang menolong saya untuk merasakan perasaan bahagia, menolong saya merasakan perasaan batin yang tinggi, dan kesimpulannya ketika kita sedang menolong sesuatu maka itu sebenarnya kita sedang menolong diri kita sendiri.

Pelajaran dari Tuhan memang datang dalam berbagai bentuk, ada dari rasa sakit, ada dari orang lain, dan bahkan dari makhluk lain sekalipun, makhluk seperti kucing dan yang lainnnya, yang kita butuhkan adalah kemampuan untuk melihat sudut pandang dan membaca tanda-tanda dariNya, maka benarlah apa yang telah difirmankanNya, tidak ada yang sia-sia dari setiap apa yang telah diciptakan. Lalu bagaimanalah kita semua tidak beriman.

Tajurhalang, 11 maret 2014

Iklan

Semisal Cinta Berhenti

“Sekali menengok ke belakang serasa ingin kembali, bukan untuk pulang karena kau tak pernah menjadi rumahku untuk berpulang”

 
Semestinya cerita cinta tak begini, berakhir dengan saling menepi, membuang rasa bahagia itu menjadi kenangan di tong sampah, semakin dikenang senyum itu malah semakin menyakitkan. Ohw demikian rasanya

 
Kau tahu May, ketika siang ini aku memesan pecel pada satu warung makan, wajahmu seakan melayang di depan mataku, seraya menggelengkan kepala, dan berkata

“Ngga mau pecel, ngga suka sayur-sayuran yang digituin”

 
Dan biasanya aku terkekeh, menahan geli sambil menatap matamu yang bersikap manja

 
Tetapi semua obrolan dan sikap manjamu itu kini menjadi sampah yang harus kubuang dan kukuras habis dari alam pikiran, demi hatiku yang sudah berlama-lama menahan perih.

 
Menyengaja untuk mengenang itu menyakitkan tetapi yang lebih menyakitkan lagi adalah tanpa menyengaja kenangan itu datang merasuk pikiran dan mengobrak-abrik hati yang patah.

 
Siang ini akupun menyengaja untuk memilih menu pecel, ini bukan berarti aku benar-benar menyukai pecel, tetapi pecel ini sebagai pelampiasanku sembari ingin melawan rasa rindu di dada, belajar untuk melepaskan untuk yang ke sekian kali.
Kau mengerti maksudku bukan?

Aku mengerti, bahwa yang paling bisa mengobati hati itu sendiri adalah dengan mengikhlaskan semua kenangan itu bukan melupakan dengan penuh kebencian. Dan untuk kesekian kali akupun belajar untuk ikhlas, walau aku adalah pembelajar yang buruk untuk kata “ikhlas” itu.

 
Bagaimana aku bisa melepaskan sementara senyummu masih berada di otak bawah sadarku, dan aku masih mencari cara untuk membunuhi pikiran itu. Dan kau tahu bagaimana cara membunuh dirimu di otakku, sungguh, itu serasa menyakitkan.

Adalah sebuah kesalahan untukku menjatuhkan hati padamu dan sayangnya tipikal orang feeling sepertiku sekali jatuh hati maka sulit untuk berhenti, dan aku merasa sedih untuk itu, terutama ketika banyak luka mulai membantaiku.

 
Aku masih ingat betul, bagaimana laki-laki yang membonceng di sepeda motorku itu berbasahan karena kehujanan bersamaku, setelah pemakaman sepupumu, dan aku masih ingat betul bagaimana matamu memandang dan seraya menawarkan baju keringmu kepadanya, sementara kepadaku kau bermarah-marah, memandang dengan mata sinis karena berdalih membenci caraku untuk cemburu. Padahal bagaimana aku tak cemburu ketika itu?

 
Di bagian itu aku sangat sadar bahwa kau jatuh hati dengan laki-laki penulis itu dan aku menyadari bahwa aku telah kehilangan hatimu, kehilangan segenap apa yang sudah aku miliki sebelumnya. Cintamu.

 
Sungguh itu bagian yang menyakitkan untukku, bagian yang membuatku harus ikhlas melepaskan sesuatu yang sudah aku genggam dengan kuat, dan mungkin terlalu kuat hingga ia koyak dan memberontak.

 
Bahkan ketika usia perpisahan ini mencapai satu tahun aku masih sempat untuk merayakannya di sebuah warung pecel, memekik kerinduan dalam, dan menjatuhkannya pada tong sampah kehidupan. Satu tahun mengenangmu aku menghabiskan waktu untuk bergalau-galau, mendengarkan lagu-lagu patah hati, membuat dan membaca sajak patah hati, dan aku tidak merasa lebih baik dari semua itu.

Maka di bulan maret ini, ketika bulan semesra februari terlewati, aku ingin sekali membuang sampah kenangan itu, membasmi semua partikel-partikel terkecilnya, hingga benar-benar aku ikhlas atas semua yang sudah terjadi.

Dalam kenangan

Semisal cinta berhenti

 

 

 

 

Merayakan 10 Februari

Februari tanggal 10 Pukul 03.00 Dinihari.

Hari ini waktu seperti berhenti sejenak buat saya, langit-langit seperti membawa pesan hikmah yang belum mampu saya terka sepenuhnya, bumi seperti bergetar menselujuri seluruh jasad saya yang masih menghela napas. Seperempat abad, itu bukanlah waktu yang sebentar, tepat 10 Februari 25 tahun silam sesosok bayi lelaki lahir dengan berat entah berapa, di sebuah rumah pagar yang waktu itu belum ada listrik, di cahaya penerangan yang seadanya, subuh itu, seorang perempuan mengais kesakitan melahirkan, dibantu oleh seorang dukun beranak yang tidak lain adalah Ibunya sendiri, melahirkan anak ke 6 yang membawa banyak harapan, karena yang lahir merupakan anak laki-laki, yang memang sudah dinanti-nanti, dan ini anak laki-laki pertama untuknya dari ke 5 anak perempuan lainnya.

Maka, subuh itu genaplah doa-doa sang suami yang menanti anak lelaki, berbangga dan berbahagia mewarnai, merekahi dada sosok itu, hingga setelahnya, sosok bayi lelaki itulah yang memang menjadi anak terakhirnya. Dan kini bayi itu sudah dewasa, bahkan beratnya melebihi sosok Ibu yang melahirkannya atau bahkan bapak yang hatinya merekah itu. Doa-doa bernisbi, hujan gerimis membasahi, air mata sayapun mencoba meresapi hari ini, basah di ujung subuh, sama seperti peristiwa 25 tahun silam, 10 Februari 1990, terima kasih dan rasa syukur saya panjatkan untuk AllahuRabbi yang memberikan kesempatan ini, kesempatan untuk menghirup udara di usia 25 tahun ini, karena saya mengerti bahwa sebagian lain banyak orang yang tak sampai di usia 25 sudah dipanggil olehNya.

Ketika saya masih dalam kandungan, pernah suatu malam, ibu saya mendengar suara aneh di kolong tempat tidur, karena penasaran beliau mengambil pelita, mengecek bawah tempat tidurnya dan ternyata suara itu berasal dari desir ular yang sedang berhadapan dengan kedua kucing, ketika itu satu kucing mati terkena bisanya, dan satu kucing lagi matanya menjadi cacat sebelah, sang ularpun dikeluarkan oleh bapak saya dan dipukul hingga tewas, beruntungnya kucing yang matanya cacat itu berumur panjang, dan saya diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengenal dan merawat kucing itu hingga dia mati ketika umur saya 10 tahun, dan mungkin itu menjadi alasan mengapa keluarga saya selalu memelihara kucing sampai sekarang, karena di dalamnya banyak keberkahan. 

Setelah ibu saya melahirkan, beliau sempat dihinggapi mimpi aneh, kepalanya dipatuk ular dan anehnya setelah itu ibu benar-benar sakit kepala berkepanjangan, beruntungnya saya punya banyak kakak perempuan, yang membantu merawat saya ketika ibu sakit, sakit kepala ibu saya bukan barang sebentar, setelah berobat sana-sini dan bapak sampai jual tanah akhirnya Allah memberikan kesembuhan dengan seorang Kiayi di pasir gaok. Maklum, katanya bukan penyakit medis tetapi guna-guna, atau hal gaib semacamnya.

Ketika berumur 7 tahunan saya pernah dibonceng sepeda dengan bapak, dan ketika itu kaki saya terjepit ban depan, bapak saya panik, dan saya meraung kesakitan, sampai sepedanya akhirnya dibongkar untuk menyelamatkan kaki saya yang terjepit. Dan luka bekas terjepitnya kaki saya itu masih ada sampai sekarang, sebagai pesan kenangan atau pesan kejadian yang saya harus ambil hikmahnya.

Pernah juga waktu kecil, ketika ibu saya selesai masak air gayung yang isinya air panas saya sundul dan membasahi sekujur tubuh saya, waktu itu saya sedang di dapur main api dan kayu bakar, syukurnya luka terseduh itu tidak menimbulkan bekas di badan saya, kalau saja membekas, sebagian wajah sayapun pasti terkena imbas, dan saya bersyukur untuk itu.

Mengenang peristiwa-peristiwa itu membuat saya mengingat, kalau-kalau waktu berjalan sangat cepat, bapak dan ibu saya sudah beruban, wajah mereka sudah keriput di makan zaman, walau kasih mereka tidak pernah pudar, bahkan di usia saya yang sudah 25 tahun ini mereka masih saja khawatir kalau-kalau saya belum juga pulang di jam 10 malam. Ada peristiwa yang membuat saya sedikit terhenyak, ketika kemarin bapak saya menyampaikan keinginannya untuk menikahkan saya, alasannya logis, umurnya sudah menua, sedangkan anak laki satu-satunya belum juga menikah, maka setelah itu wacana perjodohan saya menyeruak dengan seorang perempuan yang masih tetangga pula, sayangnya perjodohan itu gagal, dan sayapun tidak mengambil hati tentang perjodohan itu. Semoga jodoh saya segera dibertemukan supaya saya bisa membuat bapak dan ibu saya tidak khawatir lagi tentang anak laki-laki satu-satunya ini.

Ditulis 10 Februari walaupun diposting 06 maret 2015 dengan sebelumnya diwarnai pergulatan hati antara diposting atau cukup diendapkan dalam pc.

Irman rahman

Tajurhalang

Menemukan Kartu COMMET E-Ticketing Kereta Jabodetabek

COMMET Commuter Electronic TicketingCOMMET_e-tiketing-karcis-kereta

Kartu ini saya temukan kemarin tanggal 03 maret 2015 di bawah fly over kalibata sekitar pukul 17:45.

Berhubung kartu saya yang sama persis begini ini juga hilang sekitar 3 hari lalu, sempat terlintas dalam hati
“Alhamdulilah, kartu saya yang hilang ada gantinya nih, ngga harus beli lagi” Hehehee..

Pikiran liar itupun terlintas sejenak, sampai sisi baik diri saya berkata

“Ehh ini kan punya orang, harus dibalikin dong” Saya mikir lagi

“Gimana balikinnya, kartunya aja tergeletak di jalan pas puter arah fly over kalibata, dan ada sedikit rusak karena terlindas mobil atau motor mungkin”

Perdebatan antara saya dan saya itu berakhir hingga akhirnya saya tulis di sini, saya berpikir, siapa tahu ada yang merasa kehilangan kartu beginian dan nyarinya di Google atau Medsos lainnya. Hehehee… (ngga nyambung tapi boleh aja disambungin)

Sampai statiun, saya coba cek saldo pada kartu, ohw ternyata tak terbaca, kartunya bener-bener rusak, walau tak sampai patah. Akhirnya saya konsultasi sama petugas, setelah bolak balik plus antri akhirnya saya di arahkan ke ruang khusus petugas dan “tereeengg…” Ternyata bisa ditukar dan akhirnya saya tahu isi saldonya berapa.. Bahagia dong.. walau sesaat setelah menyadari “ini tuh punya orang”

Hmmm.. Baiklah karena ini bukan milik saya, yaa bolehlah hubungi saya kalo ada yang merasa kehilangan kartu sejenis ini, di sekitar statiun kalibata dan saldonya saya rahasiakan ya, jika ada yang mau ngakuin pasti saya tanya dulu jumlah isi saldonya berapa, supaya saya yakin kalo yang ngaku ini bener-bener yang punya ini kartu.

Siapa tahu kartu ini masih jodoh sama pemiliknya..

Boleh hubungi saya di 085714078512 cukup no itu aja atau boleh inbox langsung.