Merayakan 10 Februari

Februari tanggal 10 Pukul 03.00 Dinihari.

Hari ini waktu seperti berhenti sejenak buat saya, langit-langit seperti membawa pesan hikmah yang belum mampu saya terka sepenuhnya, bumi seperti bergetar menselujuri seluruh jasad saya yang masih menghela napas. Seperempat abad, itu bukanlah waktu yang sebentar, tepat 10 Februari 25 tahun silam sesosok bayi lelaki lahir dengan berat entah berapa, di sebuah rumah pagar yang waktu itu belum ada listrik, di cahaya penerangan yang seadanya, subuh itu, seorang perempuan mengais kesakitan melahirkan, dibantu oleh seorang dukun beranak yang tidak lain adalah Ibunya sendiri, melahirkan anak ke 6 yang membawa banyak harapan, karena yang lahir merupakan anak laki-laki, yang memang sudah dinanti-nanti, dan ini anak laki-laki pertama untuknya dari ke 5 anak perempuan lainnya.

Maka, subuh itu genaplah doa-doa sang suami yang menanti anak lelaki, berbangga dan berbahagia mewarnai, merekahi dada sosok itu, hingga setelahnya, sosok bayi lelaki itulah yang memang menjadi anak terakhirnya. Dan kini bayi itu sudah dewasa, bahkan beratnya melebihi sosok Ibu yang melahirkannya atau bahkan bapak yang hatinya merekah itu. Doa-doa bernisbi, hujan gerimis membasahi, air mata sayapun mencoba meresapi hari ini, basah di ujung subuh, sama seperti peristiwa 25 tahun silam, 10 Februari 1990, terima kasih dan rasa syukur saya panjatkan untuk AllahuRabbi yang memberikan kesempatan ini, kesempatan untuk menghirup udara di usia 25 tahun ini, karena saya mengerti bahwa sebagian lain banyak orang yang tak sampai di usia 25 sudah dipanggil olehNya.

Ketika saya masih dalam kandungan, pernah suatu malam, ibu saya mendengar suara aneh di kolong tempat tidur, karena penasaran beliau mengambil pelita, mengecek bawah tempat tidurnya dan ternyata suara itu berasal dari desir ular yang sedang berhadapan dengan kedua kucing, ketika itu satu kucing mati terkena bisanya, dan satu kucing lagi matanya menjadi cacat sebelah, sang ularpun dikeluarkan oleh bapak saya dan dipukul hingga tewas, beruntungnya kucing yang matanya cacat itu berumur panjang, dan saya diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengenal dan merawat kucing itu hingga dia mati ketika umur saya 10 tahun, dan mungkin itu menjadi alasan mengapa keluarga saya selalu memelihara kucing sampai sekarang, karena di dalamnya banyak keberkahan. 

Setelah ibu saya melahirkan, beliau sempat dihinggapi mimpi aneh, kepalanya dipatuk ular dan anehnya setelah itu ibu benar-benar sakit kepala berkepanjangan, beruntungnya saya punya banyak kakak perempuan, yang membantu merawat saya ketika ibu sakit, sakit kepala ibu saya bukan barang sebentar, setelah berobat sana-sini dan bapak sampai jual tanah akhirnya Allah memberikan kesembuhan dengan seorang Kiayi di pasir gaok. Maklum, katanya bukan penyakit medis tetapi guna-guna, atau hal gaib semacamnya.

Ketika berumur 7 tahunan saya pernah dibonceng sepeda dengan bapak, dan ketika itu kaki saya terjepit ban depan, bapak saya panik, dan saya meraung kesakitan, sampai sepedanya akhirnya dibongkar untuk menyelamatkan kaki saya yang terjepit. Dan luka bekas terjepitnya kaki saya itu masih ada sampai sekarang, sebagai pesan kenangan atau pesan kejadian yang saya harus ambil hikmahnya.

Pernah juga waktu kecil, ketika ibu saya selesai masak air gayung yang isinya air panas saya sundul dan membasahi sekujur tubuh saya, waktu itu saya sedang di dapur main api dan kayu bakar, syukurnya luka terseduh itu tidak menimbulkan bekas di badan saya, kalau saja membekas, sebagian wajah sayapun pasti terkena imbas, dan saya bersyukur untuk itu.

Mengenang peristiwa-peristiwa itu membuat saya mengingat, kalau-kalau waktu berjalan sangat cepat, bapak dan ibu saya sudah beruban, wajah mereka sudah keriput di makan zaman, walau kasih mereka tidak pernah pudar, bahkan di usia saya yang sudah 25 tahun ini mereka masih saja khawatir kalau-kalau saya belum juga pulang di jam 10 malam. Ada peristiwa yang membuat saya sedikit terhenyak, ketika kemarin bapak saya menyampaikan keinginannya untuk menikahkan saya, alasannya logis, umurnya sudah menua, sedangkan anak laki satu-satunya belum juga menikah, maka setelah itu wacana perjodohan saya menyeruak dengan seorang perempuan yang masih tetangga pula, sayangnya perjodohan itu gagal, dan sayapun tidak mengambil hati tentang perjodohan itu. Semoga jodoh saya segera dibertemukan supaya saya bisa membuat bapak dan ibu saya tidak khawatir lagi tentang anak laki-laki satu-satunya ini.

Ditulis 10 Februari walaupun diposting 06 maret 2015 dengan sebelumnya diwarnai pergulatan hati antara diposting atau cukup diendapkan dalam pc.

Irman rahman

Tajurhalang

Iklan

Tentang Irman

Absurd, tapi punya fisik nyata, bisa dilihat, diraba, diplototin, sekaligus bikin ngangenin banyak orang.. Ciyuss
Pos ini dipublikasikan di Curhat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s