Semisal Cinta Berhenti

“Sekali menengok ke belakang serasa ingin kembali, bukan untuk pulang karena kau tak pernah menjadi rumahku untuk berpulang”

 
Semestinya cerita cinta tak begini, berakhir dengan saling menepi, membuang rasa bahagia itu menjadi kenangan di tong sampah, semakin dikenang senyum itu malah semakin menyakitkan. Ohw demikian rasanya

 
Kau tahu May, ketika siang ini aku memesan pecel pada satu warung makan, wajahmu seakan melayang di depan mataku, seraya menggelengkan kepala, dan berkata

“Ngga mau pecel, ngga suka sayur-sayuran yang digituin”

 
Dan biasanya aku terkekeh, menahan geli sambil menatap matamu yang bersikap manja

 
Tetapi semua obrolan dan sikap manjamu itu kini menjadi sampah yang harus kubuang dan kukuras habis dari alam pikiran, demi hatiku yang sudah berlama-lama menahan perih.

 
Menyengaja untuk mengenang itu menyakitkan tetapi yang lebih menyakitkan lagi adalah tanpa menyengaja kenangan itu datang merasuk pikiran dan mengobrak-abrik hati yang patah.

 
Siang ini akupun menyengaja untuk memilih menu pecel, ini bukan berarti aku benar-benar menyukai pecel, tetapi pecel ini sebagai pelampiasanku sembari ingin melawan rasa rindu di dada, belajar untuk melepaskan untuk yang ke sekian kali.
Kau mengerti maksudku bukan?

Aku mengerti, bahwa yang paling bisa mengobati hati itu sendiri adalah dengan mengikhlaskan semua kenangan itu bukan melupakan dengan penuh kebencian. Dan untuk kesekian kali akupun belajar untuk ikhlas, walau aku adalah pembelajar yang buruk untuk kata “ikhlas” itu.

 
Bagaimana aku bisa melepaskan sementara senyummu masih berada di otak bawah sadarku, dan aku masih mencari cara untuk membunuhi pikiran itu. Dan kau tahu bagaimana cara membunuh dirimu di otakku, sungguh, itu serasa menyakitkan.

Adalah sebuah kesalahan untukku menjatuhkan hati padamu dan sayangnya tipikal orang feeling sepertiku sekali jatuh hati maka sulit untuk berhenti, dan aku merasa sedih untuk itu, terutama ketika banyak luka mulai membantaiku.

 
Aku masih ingat betul, bagaimana laki-laki yang membonceng di sepeda motorku itu berbasahan karena kehujanan bersamaku, setelah pemakaman sepupumu, dan aku masih ingat betul bagaimana matamu memandang dan seraya menawarkan baju keringmu kepadanya, sementara kepadaku kau bermarah-marah, memandang dengan mata sinis karena berdalih membenci caraku untuk cemburu. Padahal bagaimana aku tak cemburu ketika itu?

 
Di bagian itu aku sangat sadar bahwa kau jatuh hati dengan laki-laki penulis itu dan aku menyadari bahwa aku telah kehilangan hatimu, kehilangan segenap apa yang sudah aku miliki sebelumnya. Cintamu.

 
Sungguh itu bagian yang menyakitkan untukku, bagian yang membuatku harus ikhlas melepaskan sesuatu yang sudah aku genggam dengan kuat, dan mungkin terlalu kuat hingga ia koyak dan memberontak.

 
Bahkan ketika usia perpisahan ini mencapai satu tahun aku masih sempat untuk merayakannya di sebuah warung pecel, memekik kerinduan dalam, dan menjatuhkannya pada tong sampah kehidupan. Satu tahun mengenangmu aku menghabiskan waktu untuk bergalau-galau, mendengarkan lagu-lagu patah hati, membuat dan membaca sajak patah hati, dan aku tidak merasa lebih baik dari semua itu.

Maka di bulan maret ini, ketika bulan semesra februari terlewati, aku ingin sekali membuang sampah kenangan itu, membasmi semua partikel-partikel terkecilnya, hingga benar-benar aku ikhlas atas semua yang sudah terjadi.

Dalam kenangan

Semisal cinta berhenti

 

 

 

 

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di cerpen. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s