Arsip Bulanan: April 2015

Sebaik-baiknya Pemberian

Tadi ketika pergi kerja, di perjalanan sekitar meruyung ada mobil serena berhenti yang malah membuat macet kendaraan lainnya. Dan saya pikir, nggapain ini mobil berhenti segala, loh orang saya di belakangnya toh.. Jadi ikut berhenti juga deh saya, Hmmm.. dan bukan cuma saya, tapi banyak kendaraan lain di belakang mobil itu juga pada berhenti.. Ohw ternyata di samping mobil putih itu ada seorang ibu membawa sampah di karung, nahh.. yang punya mobil serena ini menghampiri dan memberikan sesuatu kepada ibu tadi.. hmm.. takjub deh saya,.. melihat senyum merekah dari ibu yang membawa karung sampah itu, saya yakin itu nominal yang lumayan untuknya. Hehhee.. ngga jadi ngelakson deh saya.. Ademmm..

Saya jadi teringat sekitar 2 mingguan lalu, saya diberhentikan ibu-ibu masih lumayan muda, dan membawa anak yang didukungnya, nahh saya pikir ini ibu-ibu mau minta tumpangan atau ngapain nih.

Pas dia berhentiin, saya langsung tawarin aja, “mau ikut mbak?”

Ehh ternyata dijawab “bukan, bukan gitu bang, boleh minjem uangnya ngga Rp 10 ribu”

Weww.. Dibilang begitu saya langsung nanya kritis “Buat apa mbk?”

“Buat ongkos bang, ke margonda” jawabnya lagi

“Ohw memang dari mana mbk?” bukan malah ngasih saya malah makin kepo.. Hmm..

“Itu dari komplek pertanian citayam..” Jawabnya malu-malu..

“Ohw gituh, ya udah ini uang 10 ribunya” saya jawab sambil menyerahkan uangnya

Dengan wajah sumringah dia bertanya lagi ke saya “Makasih ya bang, ini mau diganti ngga?”

Sayapun tersenyum “Ngga usah mbk ngga apa-apa”

“Bener nih bang, makasih ya…” Jawab dia, sambil senyum..

“Iya mbk, ngga apa-apa” Jawab saya, sambil siap-siap ngacir lagi ngelanjutin perjalanan..

Nah, poinnya apah coba??..

Saya inget hadist atau entahlah, ungkapan yang mengatakan “Sebaik-baik pemberian adalah memberi sebelum diminta” Nah, berarti sosok orang yang membawa mobil serena tadi mendapat keutamaan itu, sementara saya? Hmmm.. saya tidak mendapatkan keutamaan itu, dan satu lagi, saya cukup menyesal mengapa cuma ngasih 10 ribu, mengapa tidak 20, 30 atau 50 ribu.. mengingat ibu tadi sedang mendukung membawa anak, yang saya tidak tahu apa sudah makan atau belum, 10 ribu cukup atau tidak, Hmm…

Yaah, yang sudah lewat ya memang sudah.. Semoga kita semua diberikan keluasan harta untuk berbagi ke sesame, dan satu lagi “keluasan hati” yang lebih penting dari itu supaya bisa berbagi ketulusan, tanpa harus diminta. Semoga..

Besok libur euy…. Semangatttttt

Iklan

Tentang Berjalan Kaki

Jalan kaki, aktivitas yang biasa banget sebenarnya, tak ada yang istimewa hanya saja kita lupa di tengah panas-panas atau jalan trotoar yang kurang bersahabat jalan kaki memberikan begitu banyak manfaat untuk kesehatan, coba aja googling sendiri, baca, pahami kemudian besok praktekan.. Hehee.. Dan yang tak bisa dilupakan adalah tak harus mengeluarkan uang untuk mempraktekan ini, tetapi manfaat bagi kesehatannya itu lebih utama dari keduanya. Saya tidak akan membahas secara mendetail mengenai manfaat dan pengaruh berjalan kaki bagi kesehatan, silahkan googling sendiri aja yaa, banyak banget tahu manfaatnya.

Terus, postingan ini bakalan bahas apa?? Hehehee…

Ini boleh dibilang curhatan hati saya, tentang jalan kaki.

Terbiasa naik motor ketika kemana-mana dan pulang pergi ngantor, membuat saya pengat, dan akhirnya sayapun memutuskan untuk mencoba hal baru yaitu naik kendaraan umum, nahh dengan naik kendaraan umum inilah saya punya kesempatan untuk berjalan kaki menuju kantor, dan kini itu sudah berjalan sekitar 8 bulan atau mungkin lebih, dan ternyata itu lebih mengasyikan.
Terus kalau naik angkutan umum, mana cerita tentang jalan kakinya? Hehehe…
Yeee sabar ya teman, ini baru mau saya bahas. Jalan kaki saya kira menjadi kegiatan anti mainstream di era sekarang ini, karena kebanyakan orang lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi motor atau mobil atau adapula yang memilih kendaraan umum sebagai tumpangan. Saya tidak mungkin kalau-kalau jalan kaki ke kantor karena jaraknya yang sekitar 40 kiloan Bogor- Jakarta boo… kalo jalan kaki jarak segitu sengkle lah sayah.. Hehehehee.

Selepas turun di statiun kereta, saya harus naik kopaja lagi untuk menuju kantor, dan setelah naik kopaja itupun saya harus naik angkot satu kali lagi, Hehee.. jauh kan ya tempat kerja saya, tetapi di sinilah saya bisa berjalan kaki, jadi turun dari kopaja itu saya lebih memilih untuk jalan kaki, jaraknya mungkin sekitar 1,5 kiloan, ya memang deket tapi lumayan buat manasin tubuh, di kondisi trotoar yang sempit plus kebringasan asap kendaraan, eh ternyata dengan jalan kaki dengan jarak dekat atau sedang seperti itu bikin semangat, hidup terasa bergairah tidak sedang dikejar-kejar waktu, santai aja… dan yang paling menyenangkan dari berjalan kaki adalah kita bisa melihat detail-detail kehidupan lain di sekitar, kebiasaan jalan kaki ini membuat saya sering bertemu seorang penjual sayur bersepeda yang sudah berumur cukup tua, naahhh.. di sinilah saya menemukan “sesuatu” dari yang lainnya, saya bisa membantu setiap nenek penjual sayur ini berada di tanjakan, saya dorong saja sekalian lewat menuju kantor dan itu adalah hal yang sangat membahagiakan buat saya.

Jadi manfaatnya dapet double banyak deh saya selain kesehatan saya bisa membantu nenek tukang sayur ketika menanjak dengan sepedanya dan itu adalah kebahagiaan buat saya.
Alhamdulilah..

Jalan kaki, kenapa ngga??

Tentang_Jalan_Kaki

Perjalanan Menuju Gunung Padang dari Bogor

Destinasi Gunung Padang Cianjur

Siapa yang belum tahu di mana gunung padang? Hayoo ngaku! Berminatkah ke sana? Mari merencanakannya dengan lebih matang. Kenapa? Kerana perjalanan saya kemarin sama sekali tidak direncanakan dengan baik. Akhirnya kehabisan tiket kereta deh, harus naik angkot deh, dan mengeluarkan uang lebih banyak deh buat ongkosnya, hehehe.. dan di situ kadang saya merasa bokek… hehehe.. lebih jelasnya akan saya bahas baiknya bagaimana kalau menuju ke gunung padang.

 

Karena dadakan maka rencana pergi kemarin memang serba mepet, mesen tiket kereta di pas hari keberangkatan dan ujung-ujungnya kehabisan, jadi saya dan 2 orang teman memilih untuk naik mobil L 300 angkutan yang dari bogor ke cianjur, mini bus ini dahsyat banget larinya, sodok sana sodok sini, adrenalin saya rasanya terpacu ketika naik mini bus ini, jadi boro-boro saya bisa tidur lewat jalur puncak yang serem dan curam dengan pembawaan sang supir yang menggas mobilnya dengan kecepatan yang tinggi ini, situasi seperti itu kadang jadi penting, sambil naik mini bus itu akhirnya saya jadi banyak zikir.. hehehehe… Inget mati saya..

 

Cukup deh curhatnya. Sekarang saya akan kasih rute terbaik menuju ke Gunung Padang(Cianjur) dari Bogor dan sekitarnya. Pertama kalau dari arah Jakarta kita cukup naik KRL Commuter yang ke Bogor, sampai statiun bogor coba tanya petugasnya “Kereta yang menuju Cianjur dan Sukabumi di mana?” Sebenarnya kereta Jurusan Bogor – Sukabumi – Cianjur ada di depan Statiun Bogor yaitu Statiun Bogor Paledang, kita tinggal menyeberang jalan dan masih lurus sekitar 100 meter ada statiun yang biasanya masih sepi nah beli tiketnya itu di situ ya, saran saya lebih jelasnya tanya sama petugas yang ada di Statiun bogor supaya lebih mudah untuk di arahkan. Ingetttt.. beli tiketnya jangan pas di hari keberangkatan, tapi rencanakan minimal 2 hari sebelumnya, belinya bisa lewat Al-famrt Indomart atau online atau datang saja ke TKP, silahkan dicoba. Soalnya resiko kehabisan apalagi ketika hari libur itu sangat tinggi (pengalaman) coba cek keberangkatannya di web kereta api di sini dan bilang atau beli tiketnya adalah tiket kereta BOGOR- LAMPEGAN, karena nanti kita berhenti di statiun lampegan bukan statiun cianjur. Inget ya, ini penting banget supaya perjalanan tidak nyasar sana sini.

 

Nah jika tiket kereta Bogor-Lampegan sudah di tangan silahkan nikmati keberangkatannya, Kita akan melewati sekitar 15 Statiun, hehehe… banyak pemandangan yang sayang kalau tidak dinikmati di sepanjang perjalanan, nah karena tujuan kita adalah Situs Gunung Padang maka sesampainya ke Statiun Lampegan silahkan cari ojek, tapi saran saya lebih baik berfoto ria saja dulu di statiun, ke arah depan statiun ada terowongan LAMPEGAN yang merupakan terowongan peninggalan Belanda di atas terowongan ada tahun pembuatan 1879-1882, Wahh sudah lama sekali ya.. terowongan sepanjang 686 Meter ini juga kita bisa nikmati ketika kita berada di dalam Kereta. Amazing bukan..

Situs Gunung Padang

Situs Gunung Padang

 

Puas dengan terowongan Lampegan silahkan nego dengan tukang ojek di Statiun untuk ke Situs Gunung Padang, biasanya sekitar Rp 30.000, jarak antara statiun dengan Situs Gunung Padang sekitar 8 Kilo, tetapi jalan yang menanjak dan lika-liku bikin kita merasakan rasanya kok jauh bangettt..

Pemandangan ketika naik ojek tak kalah menakjubkan, situasi pedesaannya dapet banget, dengan pemandangan perkebunan teh dan pohon-pohon lainnya. Dan kita bisa menyaksikan betapa megahnya bumi ini, Gunung Gede dan Gunung Pangrango yang bersisian terlihat paling perkasa dari kejauhan. Sampai menyentuh awan lohh.. pokoknya cuma bisa berucap kagum sama yang Maha Kuasa atas apa yang sudah bisa saya lihat. Hehehee..

Sampai ke Situs Gunung Padang, tinggal masuk biayanya Cuma Rp 5000 perak, silahkan menikmati tangga alam yang curam menuju puncak berundaknya. Akan saya ceritakan di sini Khusus membahas Situs Gunung Padang

Untuk keberangkatan kereta dari Statiun Bogor Paledang ke Cianjur biasanya hanya ada 2 kali perjalanan per hari. 07:55 dan 13:25, inget jadwalnya ya..

Dan kalau memang tidak menginap di sekitar Gunung Padang jangan sampai telat ya, kereta di Statiun Lampegan ada dua kali perjalanan juga untuk ke Statiun Bogor Pertama di Jam 09:05 dan di Jam 14:40.
Kalau sampai telat silahkan naik kereta menuju sukabumi di Jam 18:50.. Hehehee.. dan silahkan merasakan betapa amazingnya minibus L300 tujuan bogor dari pasar cisaat.. Heyheyy…

Sampai Jumpa lagi..

NB: Mohon maaf untuk foto-fotonya karena alasan jaringan yang memble jadi belum bisa diupload

Menjaga Pandangan Menjaga Hati

Sudah lama juga tidak ngepsot di sini, nah kali ini saya ingin bahas mengenai menjaga pandangan, sesuatu yang saya pribadi belum benar-benar mengamalkan. Ini hanya cerita pengalaman pribadi bukan bahasan teori sana-sini, silahkan disimak…

Sebenarnya, saya tidak bisa membohongi diri kalau-kalau kadang saya masih suka curi-curi pandang ke wanita cantik di gerbong-gerbong kereta, atau di jalan ketika berkendara, atau di manapun. Sungguh itu naluri lelaki kawan.

Saya jadi ingat perkataan seorang teman yang boleh dibilang “Sakit”

“Itu nikmat Tuhan yg harus loo syukuri karena gue malah merasa tak ada getar-getar apapun ketika lihat cewek cantik”

Di balik itu semua saya bersyukur, tetapi saya tahu ini tidak boleh dijadikan kebiasaan, karena jika tergoda ohw ini jadi malah persoalan, persoalan menuruti hawa nafsu berikutnya.

Kadang tertangkap mata wanita yg boleh dibilang Istriable banget, enak dipandang, adem kalem, cantik dan berpakaian sopan, dan sedang membaca mushaf Al-qur’an. “Ohw Tuhan Andai sosok itu menjadi istri saya”

Walau demikian saya sadar bahwa ketidakmampuan untuk menjaga pandangan atau dalam bahasa kerennya “Ghaddul Bashar” itu adalah sebuah kesalahan, dosa yang boleh dibilang mengotori hati seperti FirmanNya yang diabadikan Al-Qur’an dalam surat An-Nur ayat 30.

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”

Dan ada sebuah ungkapan yang lumayan membuat saya pribadi tersindir dari seorang Sufi Syeikh Abu Ali Ad-Daqaq RA

“Barangsiapa tidak mampu menjaga matanya maka ia tak mampu menjaga hatinya”

Maka benarlah ketika ada yg bilang salah satu fitnah besar laki-laki adalah perempuan.

Dan karena para wanita sudah tahu bagaimana sensitivnya laki-laki tentang hal yang seperti itu maka menjaga aurat bukan hanya sekedar kewajiban tetapi kebutuhan menjaga diri dari pandangan laki-laki.

Sensitivnya lelaki dengan hal yang begitu, itu sama persis dengan sensitivnya wanita ketika sedang datang bulan. Jadi tahu sendiri kan seperti apa. Heheee..

Dan untuk laki-laki (saya juga lelaki) maka menjaga pandangan adalah menjaga hati, ya selama sadar bahwa itu menjaga hati semoga bisa diminimalisir sebisa mungkin, walau hampir tidak mungkin melihat kehidupan di kota-kota besar, tetapi yang penting supaya ada kesan tak ada hasrat yang terlintas dari pandangan maka saya pribadi lebih memilih banyak beristighfar jika melihat hal-hal yang diharamkan.

Dan semoga Istighfar itu menjadi penghapus dosa dari setiap pandangan yg tak sengaja tertangkap dengan atas nama kenormalan sebagai seorang laki-laki. Semoga ..
Jika ada yang salah, silahkan boleh diralat di komentar ya..

Salam…
Irman

Belajar lagi dari seorang kakek

Sesampainya saya di statiun kereta tujuan, pas pulang tadi saya tergoda untuk makan siomay dulu, padahal biasanya sih langsung cabut ajah ke penitipan motor, maklum sayah termasuk bocah yang jarang jajan walau berat badan sekarang 70 kilogram (Upppss maluuuu)…

Setelah bayar siomay baru deh saya menuju penitipan motor, panasin motor sebentar dan jrengg.. hajar behh…

Tak jauh dari situ saya melihat kakek-kakek sedang berjalan sendirian, saya inisiatif aja ajak boncengan sama saya, ehh dia mau.. yaa syukur..

Terus, teruss itu kakek-kakek cerita katanya sambil jalan tadi dia sedang berdoa semoga ada orang yang ngajak dia naik motor yang searah rumahnya..

Saya tertegun sejenak, berpikir.. Yaa Allah, jadi ini mengapa hari ini saya tergoda buat makan siomay dulu kisaran 10 menitan, ternyata saya mau dipertemukan sama kakek ini, saya dijadikan bagian dari terkabulnya doa beliau.

Sebenarnya rumahnya dengan rumah saya tidak searah, tetapi setelah cerita demikian sayapun inisiatif untuk mengantarkannya sampai rumah.. Dan Alhamdulilah dapet doa dan ucapan terima kasih yang bercucuran dari beliau.

“Kadang kita menganggap sesuatu itu kecil seperti senyuman atau sekedar tumpangan, tetapi bagi yang menerima sering kali itu amat berharga”

Jadi kali ini izinkan saya melihat senyum Anda setelah membaca ini… Hehehehe