Menangisi hal yang salah

Semalam saya bangun tengah malam, perut saya melilit, sakit perut, begah tak tertahankan, dan seperti biasa sosok pertama yang mendengar rintihan saya adalah Ibu, dan kemudian tentu juga bapak. Kerana memang saya di rumah cuma bertiga. Sorenya memang, saya sudah merasakan gejala masuk angin, sehingga sudah minum jamu tolak angin dan dikerok, tetapi ternyata obat tolak angin dan tidur tidak menghilangkan masalah pada perut saya, bangun tengah malam, dan merintih sakit, akhirnya, kaki saya diurut oleh bapak, katanya syaraf yang ada di bagian tubuh kita itu saling berhubungan antara tangan, kaki, dan semua bagian yang ada di tubuh, oleh karenanya bapakpun sigap mengurut kaki saya setelah mendapat komando dari Ibu, tetapi tak ada perkembangan yang berarti setelahnya, perut saya masih terasa perih dan begah, sungguh ketika itu nikmatnya sehat baru terasa sekali kawan, rasa pusing membuat saya bolak-balik keluar masuk rumah, tidur duduk dan gegoseran, sakit…..

Karena tak tahan melihat saya yang kesakitan, ibu saya berinisiatif untuk mengurut seluruh bagian tubuh saya, mengerok dan membaluri dengan minyak bubut hingga lama sekali dan ditambah disediakan air hangat dalam botol untuk ditindih di bagian perut, dan Alhamdulilah setelah itu saya muntah dan rasa sakit perutpun mulai reda perlahan, dan kemudian saya bisa tidur kembali. Alhamdulilah…

Saya jadi teringat dengan kesalahan yang pernah saya lakukan, di usia saya yang ke 25 ini saya pernah pacaran satu kali, yaa cuma satu kali, dan saya merasa sangat bersalah ketika saya banyak mengeluarkan air mata, menangis ketika sosok wanita yang saya cintai itu memilih untuk tidak melanjutkan hubungan, apalagi saya bermaksud serius ingin melamar. Ahh lupakan, saya bukan ingin mengajak fokus pada kisah cinta saya itu, tetapi saya bermaksud mengkritisi diri sendiri, mengapa ketika itu saya menangis sedemikian sedih, ya, boleh dibilang susah move on .. hehehe…

Saya baru tersadar ketika seorang teman dekat saya ditinggal Ibunya meninggal. Hati teman saya itu hancur tak karuan, apalagi ketika ibunya wafat dia sedang bekerja, jadi tak melihat saat-saat terakhir sang Ibu. Susah move on. Yaa mirip dengan saya yang susah move on ditinggal pacar, setiap hari teman saya ini selalu cerita ini itu mengenai ibunya, hidupnya serasa hampa, katanya serasa semangat hidupnya hilang, tak bertuan. Yaa memang susah move onnya saya tidak separah teman saya yang ditinggal ibunya itu tetapi menjatuhkan air mata untuk sosok yang tidak mempedulikan saya adalah sebuah kesalahan, mengingat ketika saya sakit seperti semalam Ibulah yang begitu perhatian dan merawat saya. Sungguh saya menyesal untuk air mata yang pernah jatuh itu tetapi saya alhamdulilah menjadi belajar. Bahwa orang yang paling berhak mendapat air mata kita adalah orang yang melahirkan, merawat dan berkasih sayang dengan tulus. Dan itu bisa kita temukan pada sosok ibu. Sekarang saya bertekad untuk membahagiakan mereka, memberikan yang terbaik dari setiap sisa umur saya. Semoga saya bisa menjadi berkah untuk ibu dan bapak dan juga semua orang yang menyayangi saya.

Saya yakin banyak kisah-kisah keren dari para ibu, kasih ibu sepanjang masa itu benar, karena ibu adalah wakil Tuhan di muka bumi. Saya tidak menceritakan sosok bapak bukan berarti kasih bapak itu kurang tetapi untuk urusan kasih sayang saya mengerti perempuan selalu menjadi pemenangnya.

Cerita pagi, sambil ngopi…

Ibu-Irman
Ibu saya dengan para cucu-cucunya

Iklan

Tentang Irman

Absurd, tapi punya fisik nyata, bisa dilihat, diraba, diplototin, sekaligus bikin ngangenin banyak orang.. Ciyuss
Pos ini dipublikasikan di Curhat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s