Belajar dari Haji Yaqub

H. Yakub

Namanya Haji Yaqub, seorang pedagang kripik, makroni dan jajanan lainnya. Beliau menggunakan keranjang untuk membawa dagangannya, hampir setiap pagi saya bisa menemukan beliau yang mangkal di depan statiun kalibata, dekat pangkalan ojek. Rumahnya yang cukup jauh yaitu di Poman Bogor tidak menyurutkan beliau untuk berdagang. Saya sempat menyapa beliau, orangnya asik, ramah dan sangat terbuka. Dari mulai nama dan tempat tinggal beliaupun bercerita bagaimana tingkah para pembeli, ada yang baik banget, ada juga yang cuma lihat-lihat ngga jadi beli. Kalo lihat secara fisik beliau ini boleh jadi umurnya sudah 70 atau 80 tahunan, cukup tua ya, yaa walau saya ngga pernah nanyain umurnya ke beliau. Umur yang sudah cukup tua untuk melakukan aktivitas berdagang yang lumayan jauh dari bogor ke jakarta. Saya jadi tertampar, karena banyak mengeluh terutama dalam hal jarak tempat kerja dari rumah, padahal saya bekerja di ruangan ber AC ngga kepanasan, coba kalo beliau, kepanasan dan umurnya sudah sangat dan amat senja untuk melakukan aktivitas itu. Nah, ketampar sendiri deh saya… Kita memang selalu bisa belajar dari pengalaman orang lain… hehehee

Ohw iya, padahal ngga jauh dari beliau mangkal juga loh seorang kakek, ya mungkin seumuran tapi kakek ini mangkal buat mengemis bukan berdagang, makin salutkan saya sama pak haji Yaqub ini.

Nah, kalo temen-temen berkesempatan di pagi hari naik KRL pas turun di Kalibata, bolehlah beli keripik atau apapun jualan Pak Haji Yaqub, cukup beli saja, bukan dengan memberi uang cuma-cuma, karena beliau sedang jualan bukan sedang mengemis. Tetapi, jika memang sedang ada uang lebih, silahkan membeli sambil memberi. Seperti orang yang saya temui tadi, beliau membeli satu makroni yang harganya Rp 6 ribu perak, dan menyerahkan uang 10 ribunya kepada Si Bapak, ketika SI Bapak menyerahkan kembaliannya, beliaupun menolak. Yaa, Si Bapakpun mengucapkan terima kasih sambil tersenyum. Yaa memang sesederhana itulah kebaikan…

Yaa.. Apa salahnya berbagi sedikit kebahagian…

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s