Arsip Bulanan: Januari 2016

Memoar, Life story

Dilahirkan bulan februari tahun 1990. Katanya waktu itu bertepatan dengan isu gerhana bulan, coba deh searching tentang gerhana bulan di februari tahun 90an. Hehehee… Makanya kini dia jadi lain dari yang lain. Apa coba? Punya kekuatan kaya sinetron gerhana, film masa-masa kita bocah? Hahaha… Ngga ding, bukan, bukan itu. Tapi dia jadi berkulit hitam legam. Hehehee… yang pernah ketemu pasti percaya yah? Hahaa

Merupakan anak ke 6 dari 6 bersaudara dan laki-laki satu-satunya.

Bapa dan ibunya tidak pernah menyicipi bangku sekolah, dulu katanya di daerah saya belum ada sekolah, bahkan kapan lahirnya saja bapak dan ibunya tidak tercatat, jadi tidak tahu umurnya berapa. Syukurnya bapaknya pernah menjadi ketua RT jadi ketika itu mau tidak mau belajar membaca secara otodidak.

Dilahirkan dari rahim seorang ibu yang teramat penyayang. Dulu ketika ibunya mengandung dalam usia 7 bulan, pernah suatu ketika di malam yang gelap, belum ada listrik pula, di bawah kolong tempat tidur ada suara aneh yang setelah dicek oleh ibu saya dengan menggunakan pelita ternyata itu adalah suara ular yang sedang diserang oleh 2 ekor kucing. Nah, 2 ekor kucing inilah yang menjadi wasilah menyelamatkan sang ibu dan bayi yang di kandungnya. Dan karena kejadian itu satu ekor kucing mati, digigit sama ularnya dan satu ekor lagi matanya jadi beda sebelah karena terkena semburan racun ular.

Beruntungnya kucing yang matanya menjadi berbeda sebelah itu berumur panjang, hingga menjadikan bayi yang berada di dalam kandungan itu bisa melihatnya sampai ketika umurnya 11 tahun.

Waktu SD tepatnya MI (Madrasah Ibtidaiyah) ia merupakan murid yang sangat biasa dari segi prestasi, paling bagus dapet peringkat 2, yang menarik adalah dari kelas satu sampai kelas 6 dia duduk bertiga dengan temannya, persahabatan itu sampai kini rasanya belum pernah usai walau sudah banyak yang berubah. Hehehe..

Dia juga sering ikut bapaknya dagang apa saja, kadang rambutan, kadang pisang yang dibawa ke pasar parung. Kadang juga ikut kaka iparnya yang jualan bubur ayam ketika ia libur. Sayangnya masa-masa ikut jualan itu sirna ketika ia menginjak SMP, alasannya malu kalo ketemu teman sekolah, yaa udah pas SMP benar-benar berhenti ikut jualan. Tapi pas SMA dia malah jualan sendiri, jualan pisang, singkong, dan buahan apa aja yang ditaruh di keranjang terus dipikul deh.. Ada pergeseran mindset kayanya deh waktu itu. Hehehe…
Kelas 2 SMA dia jadi marbot masjid, jadi tukang adzan sambil bersih-bersih masjid setiap pulang sekola, dia masih ingat betul, gajih pertamanya adalah 40 ribu sebulan.. Hehehe, kalo tidak salah sampai setahun naik jadi 60 ribuan. Yaahh lumayan buat bantu bayar LKS dan uang jajan.

Kelas 3 SMA dia bantu-bantu ngajar TPA saudaranya, ngajarin iqro walau dia sendiri belum begitu lancar. Hehee… Belajar sambil mengajar..
Setelah lulus sekolah, masih ingat banget, pengen banget kuliah di UIN Jakarta, ehh tapi saya terlalu takut waktu itu untuk memperjuangkannya. Dan ada wacana saudara ngajak pesantren, tapi akhirnya gagal karena orang tua ga izinin, sungguh ketika itu dia amat sangat bersedih. Nangis di kamar mandi. Hihiiii…

Akhirnya masuklah dunia kerja, pertama masuk kerja pada toko baby and kids, ya pokonya perlengkapan bayi dan anak gitu deh, daerah ciputat, 3 bulan pertama jadi SPB (Sales Promotion Boy) ehh pas 3 bulan dia diinterview dan diajak buat masuk back office, jadi deh itu hari-hari pembelajaran buat dia, pertama buat belajar ngoperasiin komputer. Jadilah dia staff HRD, jadi tukang manggilin orang di telpon, interview calon SPG/SPB dan bikin form penilaian karyawan ngisi database karyawan dan sebagainya. Sekitar satu tahunan dia malah disuruh jadi kepala toko, waktu itu ditempatkan daerah Tiptop pondok bambu. Nah, di situ dah dia mulai ngga betah jadi kepala toko, terutama mikirin omset yang kadang bikin ketar ketir juga, dan yang ribet karena toko di dalam toko tepatnya toko di dalam Tiptop banyak barang yang dilarang buat jualan oleh pihak Tiptopnya. Berhentilah dia dari situ, dan melamar pekerjaan di tempat lain dapet di bimbingan belajar, sayangnya itu juga tak lama, akhirnya dia terjebak dunia SATPAM, masuk SATPAM di PT Sepatu Bata yang kantornya di daerah Fatmawati. Hehehhe… BT jadi SATPAM akhirnya dia jadi kerjaan lagi, dapetlah di Dapurbuku, dunia penerbitan buku. yaa, sampai sekarang udah sekitar 3 tahun. Staff umum, kerjaannya kadang design layout, cover, kadang urus ISBN kadang jadi EO buat adain Workshop dan lain-lain. Oh iya, dia juga pernah kuliah walau akhirnya berhenti di STKIP (Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan).

Sosok Dia adalah saya, dan saya adalah dia. Dua sosok yang berbeda yang berada dalam satu fisik.

Memoar 26 Januari 2016 (Setelah Life Story di grup sensing)

Iklan

Memutus Mata Rantai Gajah

 

Sumber gambar (pamongreaders.com)

Sumber gambar (pamongreaders.com)

Gajah liar pintar mencari makan, gagah dan berani bagai petarung sejati. Lalu bagaimana jika gajah ditangkap pemburu? Biasanya pemburu atau kita sebut saja pawang gajah menembak dengan obat bius yang ketika terkena pada tubuh, sang gajahpun akan tertidur pulas. Dan ketika bangun jadilah gajah sadar kalo dia sedang dirantai, berontaklah dia. Tapi sayang rantai terlalu kuat bahkan untuk gajah liar sekalipun. Lapar, yaa itu pasti. Sang gajah kembali berontak berkali-kali karena merasa lapar, datanglah sang pawang gajah membawa makanan, sang gajahpun menjadi tenang, karena diberi makan, maka kebiasaan memberontaknyapun mulai hilang, makin jinaklah si gajah dan berubahlah mindset dalam hidupnya, kalo diam saja dikasih makan ngapain segala susah-susah cari dan lama-kelamaan gajahpun akan semakin jinak dan menurunlah sedikit demi sedikit kemampuannya dalam mencari makan dan bertahan hidup,  karena memang menjadi terbiasa menunggu dikasih makan dari sang pawang.

Tanpa sadar kebanyakan kita terjebak dalam pola seperti itu, pola rantai gajah, menjadi karyawan, berada di zona nyaman membuat kita keenakan, merasa punya gajih bulanan membuat kita memilih menghindari resiko menjadi seorang pengusaha. Tetapi ada masa ketika kita berada di titik jenuh, sehingga hidup terkesan monoton begitu-gitu saja, pulang pergi kantor, dan serasa hidup cuma rentetan rutinitas yang tidak menyenangkan. Bagaiamana menyikapinya?? Hmm…

Pilihannya ada dua pertama ubah sudut pandang, jadikan rutinitas itu sebagai hobi, kita tahukan, melakukan hobi adalah hal yang sangat menyenangkan apalagi jika dibayar, kita lihat saja para pemain sepakbola professional, mereka melakukan sesuatu sepenuh hati sehingga menjadi maksimal dalam pencapaiannya. Bagaimana jika tidak bisa menyenangi suatu pekerjaan? Pilihan ada di tangan kita bukan? Hehehe… Baik kita lanjut ke yang kedua

Pilihan yang kedua adalah keluar, resign memang langkah yang cukup buat jantung dagdigdug, daripada tidak merasa betah di suatu tempat yaa lebih baik mengundurkan diri secara baik-baik kemudian terserah Anda, mau melamar kerja lagi atau menjadi pengusaha. Ingat jika melamar kerja kembali pilihlah yang memang menurut Anda bisa dijadikan hobi jika tidak bisa maka silahkan kerjakan hobi Anda sendiri di rumah, yaa jadilah pengusaha. Hehehe…

Ingat pola rantai gajah di atas… Gajah butuh keberanian dan kekuatan untuk memutus rantai di atas, begitupun kita.. Pilihan ada di tangan kita lagi.. Hehehee

Yang perlu diingat hidup yang begitu-begitu saja adalah hidup yang sama sekali tidak menyenangkan, menjadi orang kebanyakan, pulang pergi kantor tidur, makan dan tua pensiun, lalu mati selesai. Nah, lagi-lagi pilihan ada di tangan Anda  yaa…

Saya jadi ingat teori bakal kapalnya Tariq Bin Ziyad yang menaklukan Andalusia ketika itu, beliau memilih membakar kapalnya lalu kemudian berpidato di depan para pasukannya. Memilih mati syahid, perang melawan musuh atau memilih lari dan mati konyol tenggelam di lautan, karena kapal sudah tak ada lagi, habis dibakar. Apa perlu kita membakar kapal kita? Untuk mengetahui seberapa tangguhnya kita dalam mengarumi hidup sama seperti Tariq Bin Ziyad yang membakar kapal-kapalnya untuk mengobarkan semangat pasukannya. Lagi-lagi itu pilihan… Hehhee

Sebenarnya ini bukan lagi pada ranah hobi atau bukan hobi tetapi lebih kepada pilihan hidup. Mau sampai kapan Anda begini terus? Mau sampai kapan gundah gulana atau mengeluhi pekerjaan terus? Hayolah hidup terlalu mahal untuk dihabiskan untuk mengeluh ini itu, tapi mari kita menjadi lebih baik entah itu yang bekerja atau yang memilih memberanikan diri untuk menjadi seorang pengusaha. Hehehe

 

Nasehat kepada diri sendiri yang mulai merasakan kejenuhan akut dalam bekerja dan sedang mengumpulkan keberanian untuk resign dan memulai usaha sendiri. Mohon doanya…

Bismillah…