Memutuskan Resign

Ketika ramai-ramai dunia pekerja dengan isu PHK di mana-mana saya malah mengajukan penguduran diri, melawan rasa takut yang selama ini mengerogoti, berlaku jujur kalo-kalo sudah merasa jenuh dengan rutinitas kerja.

“Loh Kenapa memangnya?” Kata bos saya waktu surat pengajuan pengunduran diri itu dilayangkan.

Sayapun jawab dengan ketenangan, kalo-kalo saya mau di rumah, ingin membangun sesuatu, membangun harapan baru, membuat usaha online yang memang sudah lama saya gadang-gadang, saya impikan, terlebih lagi pertemanan facebook saya yang diisi banyak internet marketing yang sering pamer, sungguh saya tergoda untuk mencoba, mulai dari scrennshoot earning yang lumayan, sampai pada transfer ilmu lewat status-status yang bergelimpangan, saya mengaku tergoda, terpanggil rasanya jiwa, akhirnya diputuskanlah 16 Januari 2016 saya ngomong langsung ke atasan, dan beliaupun membolehkan saya keluar, sampai dengan ketika sudah ada orang lagi yang memegang kerjaan saya saat itu.

Saya sungguh kaget ketika tanggal akhir februari yang sudah diinfokan sebelumnya oleh atasan sebagai akhir masa kerja saya, ternyata malah dipercepat menjadi tanggal 10 februari, sungguh itu momentum yang sangat pas buat saya, karena hari itu adalah hari kelahiran saya, hari di mana saya berulang tahun yang ke 26, di titik itulah saya berhenti menjadi karyawan, mungkin seumur hidup itu menjadi hal yang sangat tidak terlupakan, Tuhan sungguh sedang menggariskan sesuatu untuk saya, ulang tahun bercampur hari terakhir menjadi karyawan. Sungguh itu sangat dan amat berkesan kawan.

Ketika hari itu tiba, 10 Februari 2016, saya diajak makan-makan di Pejaten Village oleh bos saya, makan-makan berlangsung khidmat dengan cerita-cerita menarik selama saya berada di sana, sebuah penerbitan indie yang lumayan besar, karena sudah menerbitkan ratusan buku, dan bangga sekali rasanya saya, pernah membantu banyak penulis untuk menerbitkan bukunya di sana. Banyak kisah menarik selama saya dan Dapurbuku bersama, dari mulai penulis yang marah-marah sampai kepada penulis yang tersenyum karena bukunya mejeng di Gramedia, itu pengalaman yang tak terlupakan kawan. Saya kembali kaget ketika bos atasan saya mengeluarkan sesuatu untuk kenang-kenangan, sebuah tablet Lenovo yang memang pasti saya butuhkan untuk aktivitas bisnis online, sungguh saya sangat berterima kasih untuk itu. Perpisahan yang manis ditambah hadiah kenang-kenangan yang semakin rasa hati dramatis. Mengharukan sekali kawan.

Hari pertama resign saya banyak membereskan kamar, dan merenungi kehidupan. Saya mau ke mana? Mau apa? Dan begitu banyak pertanyaan di benak, dan hari keduanya saya kaget, ketika di facebook sangat dan amat ramai taggin ke nama saya, ohw ternyata keputusan resign saya diulas habis oleh bos saya di fanspage facebooknya yang ramai, sayapun seakan-akan jadi artis dipuji pengabdiannya, dan sungguh saya amat terharu, ketika saya dianggap sebagai karyawan terbaiknya selama ini. Itu sungguh membuat saya serasa sedih dengan perpisahan ini, walau memang hidup memang demikian, pertemuan dan perpisahan adalah menu yang memang harus manusia dapati seperti kehadiran siang dan malam yang silih berganti.

Mengenai catatan beliau tentang saya bisa dilihat di sini saya amat dan sangat berterima kasih kepada beliau yang sudah memberi kesempatan saya selama ini, dari saya yang bocah ingusan dan tidak mengerti apapun tentang dunia penerbitan buku sampai menjadi seseorang yang bisa diandalkan dikemudian.

Buat saya Dapurbuku tidak sekedar tempat mencari uang, tetapi lebih kepadaย  Universitas kehidupan tempat saya belajar hidup, dan kini saya sudah lulus, waktunya saya menghadapi hidup yang sebenarnya, tentang mimpi-mimpi, tentang cinta dan tentang penghasilan yang akan saya rangkai satu persatu. Sungguh bukan karena tidak cinta saya meninggalkan Dapurbuku, tetapi lebih kepada pilihan hidup, pilihan hidup saya ke depan.

Semoga dengan begini saya akan semakin taqwa, semakin dekat ke Sang Pencipta. Seperti motto yang selama ini saya dengung-dengungkan, sesungguhnya pilihan ini adalah aksi di mana saya sedang menantang diri sendiri untuk menjadi lebih baik. Sukses untuk Dapurbuku. Sukses untuk kita semua. Suksesmulia

Di kala hujan yang sejuk, tanggal 24 februari 2016
Irman seorang mantan karyawan.

image

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di Curhat dan tag , . Tandai permalink.

14 Balasan ke Memutuskan Resign

  1. Fasya El-Syahid berkata:

    oh,, ternyata itu kamu kang.. widih keren…

    • Irman berkata:

      Iya Kang Fasya, itu saya, hehee… Jadi inget ketemu kang Fasya waktu intermediete PII di Sekolah Sahid kalo ga salah..

      • Fasya El-Syahid berkata:

        hahah.. dah lama banget kita ga pernah jumpa, selalu jumpanya di dunia maya aja, ga d fb ga di blog. hehehe..
        oh ternyata akang tech kerja bareng sama bang jonru.. brrti dah nulis buku banyak donk ya

      • Irman berkata:

        Iya, waktu itu Kang Fasya jadi instruktur basic dan saya peserta intermediete instrukturnya Kanda Didi Mardiono. ๐Ÿ˜€

  2. afikaar berkata:

    Jonru? Wow, hebat Pak!

  3. Lussy Albayinnah berkata:

    Kesungguhan dan keyakinan pada tujuan hidup sangat penting untuk diingat kembali di saat saat yang berat. Hhe.

  4. Yesi andriyes berkata:

    Keputusan yang besar. Semoga sukses dan berkah terus ke depannya. Semangat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s