Arsip Bulanan: Maret 2016

Cara Menanam Rumput Gajah Mini Cara Menanam Rumput Gajah Mini

http://tamanhijau.com/?m=6&id=1&i=Cara%20Menanam%20Rumput%20Gajah%20Mini

Iklan

Membaca kehidupan seorang disable (Art Rodhi)

image

Dalam hidup ini kita memang diberi kemampuan belajar dan membaca. Membaca sesuatu yang bisa dibaca, baik itu dalam bentuk tulisan, pengalaman, perasaan atau apapun dari obyek yang kita bisa dengar, lihat atau bahkan rasakan. Jadi ternyata membaca bisa diartikan dengan sangat luas, tidak hanya membaca sesuatu yang berbentuk tulisan saja. Ada banyak hidup orang lain yang tak berbentuk tulisan bisa kita lihat atau mungkin rasakan ketika emosinya yang bercerita ini itu.

Hidup selalu memberi kesempatan untuk siapapun untuk berguru dan belajar ke sesama. Siapapun itu. Saya teringat perkataan seorang Prie GS yang pernah mengatakan. Setiap orang pada hakekatnya adalah buku yang berjalan. Jadi bagaimana kisah catatan buku hidupmu sekarang? Hmm, saya pribadi masih banyak kekurangannya. Tetapi kita semua mengerti tidak ada sesuatu yang sempurna. Dengan kekurangan itulah kita bisa belajar untuk memperbaiki.

Kali ini saya ingin bercerita tentang seorang teman, yang sekaligus guru kehidupan buat saya. Dialah Art Rodhi alias Rodhi Mafhtur. Dilahirkan dalam keadaan sempurna pada tahun 1989. Rodhi kecil adalah anak biasa, tidak ada yang menarik untuk diceritakan tentang sosoknya. Atau kalaupun ada, mungkin sisi “menarik” itu cukup menjadi kenangan di memori otaknya saja. Kehidupannya berubah drastis ketika malaikat maut hampir merenggut nyawanya ketika umur 14 tahun. Di usia ABG itu Rodhi berjuang antara hidup dan mati. Rodhi mengalami kecelakaan parah, berhari-hari koma tak sadarkan diri. Tulang belakang dan tulang ekor Rodhi patah. Rodhi lumpuh. Bukan hanya itu, kecelakaan tersebut menyebabkan luka di bagian perut sehingga “maaf” untuk buang air kecil pun terpaksa memakai selang. Beruntunglah Malaikat Maut hanya menggoda Rodhi saja, belum menuntaskan tugasnya mencabut nyawa. Delapan tahun lebih Rodhi hidup dalam derita, hari-harinya diisi dengan ratapan dan penyesalan. Ibunya setia menemani di sisi Rodhi, tentu dengan kesedihan yang sama, bahkan lebih. Mereka bukanlah keluarga kaya raya yang tinggal di kota besar. Rodhi bangkit. Delapan tahun dalam derita tidak membuatnya patah harapan. Api kecil semangat itu tumbuh. Doa-doa yang dipanjatkan orang tuanya mulai menunjukkan hasil. Rodhi berlatih melukis secara otodidak. Entah bagaimana caranya seseorang yang tidak bisa bangkit dari tempat tidur bisa melukis. Entah seberapa sakitnya yang dirasakan Rodhi ketika menggerakkan tubuhnya untuk melukis. Entah bagaimana pula pemuda yang kini tidak memiliki kaki itu mendapat ilham untuk berlatih melukis. Melakukannya berkali-kali. Terus dan terus. Kiranya mungkin hanya itu pilihan yang bisa Rodhi lakukan. Melakukan sesuatu dengan tekad luar biasa, atau tetap terkapar seperti pecundang. Rodhi berhati baja. Tuhan Mahabesar. Rodhi hanya membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk melukis dengan cukup baik. Setidaknya untuk kualitas orang yang melukis otodidak dengan teknik apa saja yang bisa dia lakukan. Satu hal yang mungkin bisa dia lakukan tapi belum bisa dilakukan pelukis amatir adalah melukis dengan hati. Seakan-akan semua kepedihan hatinya hilang ketika ia melukis, tenggelam dalam lukisan-lukisannya. Dengan melukis Rodhi bisa tersenyum. Penulis bisa merasakan getaran keceriaan dan kepolosan Rodhi ketika berbicara lewat telepon. Rodhi telah berhasil lepas dari jeratan maut depresi. Rodhi bangkit dan berlari mengejar harapan baru. Rodhi kini seorang pelukis. Rodhi bukanlah Van Gogh atau Basuki Abdullah. Rodhi hanyalah pemuda tanpa kaki yang tergolek di tempat tidur dengan kaleng cat minyak yang berserakan. Ketika Van Gogh dan Basuki Abdullah berjalan-jalan lintas benua untuk melukis, berdiskusi-berdebat dengan pelukis lainnya, dan melukis di tempat-tempat terindah di dunia, Rodhi tetap berada di kamarnya. Pikiran dan perasaannya yang melayang-layang mengangkasa hingga ke Paris atau berimajinasi tentang sungai dan ikan koi.

image

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, begitupun pertemuan Saya dengan Rodhi. Mengenal dan mengamatinya secara lebih dalam membuat saya belajar bagaimana arti ketegaran hidup, bagaimana menjalaninya dengan api semangat. Pertama kali bertemu dengan Rodhi sudah membuat saya geleng-geleng kepala. Bagaimana mungkin seorang pasein rumah sakit malah minta janjian ketemuan di Masjid supaya sekalian shalat maghrib jamaah. Saya benar-benar terkejut waktu itu ketika Rodhi datang dengan kursi Roda sendiri dengan gesitnya. Menggunakan kursi rodanya dengan lincah, atau bahkan kadang seakan-akan dia beratraksi seperti jumping, padahal Rodhi waktu itu sedang masa pemulihan Operasi perut.

Rodhi memang bangkit tetapi yang menjadikannya bangkit tidak lain dan tidak bukan adalah wasilah kesabaran dan ketegaran Sang Bunda. Ibu Siti Musa’adah seorang Ibu yang luar biasa yang membentuk Rodhi menjadi seorang yang luar biasa, tentu dengan do’a-do’a panjangnya. Setelah berkunjung ke rumah kontrakannya beberapa waktu yang lalu, saya tahu bahwa Rodhi akan menjadi nothing tanpa sosok Sang Bunda yang menemaninya ke manapun. Tidak ada yang bisa menandingi kasih seorang Ibu kecuali kasih Tuhan. Dan akhirnya doa-doa Sang Bundapun terpanjatkan. Rodhi yang sekarang sungguh menginspirasi banyak orang. Dan membuat saya berkaca-kaca, bagaimana bentuk rasa syukur saya selama ini. Mengeluhi kekurangan atau malah memanfaatkan apa yang sudah diberikan oleh Tuhan?

Untuk teman-teman yang ingin mengenal Rodhi lebih jauh bisa mengAdd facebooknya di sini

Beliau juga bisa melukis sketsa wajah, bisa pesan langsung ke beliau, karena sehari-hari beliau sekarang adalah melukis sebagai mata pencaharian sekaligus hobinya.

image

Cerita Rodhi di atas saya nukil pula dari cerita Mas Andra di Kompasiana.
#Onedayonepost

Gerhana dari berbagai sudut pandang

“Boleh jadi suatu benda berada di tempat yang sama tetapi tergantung dari sudut mana kita memandangnya”

image

Sumber gambar: Grup Gerhana Matahari

Sudut pandang menjadikan semuanya berbeda, kita lihat gerhana matahari kemarin yang ramai di mana-mana, dari media televisi, radio sampai media online. Tetapi dari sudut mana kita memandang peristiwa langka ini? Di kampung saya dahulu orang tua bilang kalo ada gerhana wanita hamil ngumpet di bawah kolong tempat tidur, sementara yang lain katanya memukul kentongan sebagai wujud rasa takut, ya mungkin orang dahulu percaya betul kalo matahari ketika gerhana itu di makan raksasa, sehingga secara arti kentongan itu membuat raksasanya takut. Tetapi itu dahulu, sekarang bahkan di kampung saya orang sudah tak percaya lagi begituan.

Coba kita lihat sekarang apa yang terjadi dengan fenomena gerhana matahari ini? Mungkin memang masih banyak orang yang melakukan khurafat seperti di atas, tetapi lebih banyak lagi yang berduyun-duyun untuk melihat gerhananya langsung, lewat perayaan hiburan, dangdutan, joged-joged tak karuan. Yaa, itulah yang terjadi kemarin. Entah perayaan apa yang membuat semuanya menjadi begitu dinanti. Dahulu begitu ditakuti sehingga tak ada yang berani keluar rumah sekalipun. Sekarang malah berduyun-duyun, seakan-akan ini hanya fenoma alam yang tak perlu ditakuti. Tidakkah kita menjadi sangat berlebihan dalam menyikapi satu persoalan?

Saya jadi teringat dengan hadist Nabi yang bilang “Sesungguhnya gerhana matahari dan bulan terjadi bukan karena hidup dan meninggalnya seseorang tetapi keduanya adalah tanda dari kebesaran Allah. Apabila kamu melihatnya, maka berdirilah untuk mengerjakan shalat gerhana” (Bukhari Muslim)

Jadi sejak zaman Nabi yang 14 abad lalu Islam sudah menjelaskan melalui Nabinya mengenai peristiwa gerhana yang merupakan tanda-tanda kebesaran Allah taala, bukan dimakan raksasa, atau pula yang lainnya. Bahkan nabi membantah khurafat yang mengatakan bahwa gerhana terjadi karena kematian seseorang. Dan maka dari itu kita dianjurkan untuk Shalat, seraya banyak berdoa dan beristighfar menyebut kebesaranNya. Bukan malah dangdutan dan senang gembira yang berlebihan dalam memaknai gerhana.

Lalu bagaimana kemarin kita menyikapinya?? Silahkan dijawab sendiri di dalam hati masing-masing, jikalau serasa berlebihan silahkan beristighfar meminta ampun padaNya.

Oh iya tanggal 23 maret besok menurut prediksi dan hitungan hisab para ahli ada lagi gerhana bulan penumbra yang bisa kita lihat lagi bersama. Semoga apapun yang terjadi di hidup kita akan malah membuat kita makin taqwa dan bukan sebaliknya.

Wallahualam…..
#One day One Post

Sejarah Kopi Cap Teko

Ada yang pernah nonton Film Filosofi Kopi? Benaran ada yang pernah nonton? Hehehee… Saya sendiri belum pernah, hahaha.. Tetapi kali ini saya akan membahas tentang kopi, tetapi bukan film Filosofi Kopi ya… Tetapi Kopi yang ada di bawah ini..

kopi cap teko (gambar diambil dari fjb.kaskus.co.id)

kopi cap teko (gambar diambil dari fjb.kaskus.co.id)

Toko Agus Kopi Cap teko. Dikemas dengan sangat sederhana dengan menggunakan kertas kecoklatan, wanginya harum sekali, khas kopi hitam. Rasanya luar biasa, lekat gurih dan pahit manis yang khas. Kopi ini sudah sangat fenomenal di daerah saya. Parung Kabupaten Bogor. Dari orang hajatan sampai orang tahlilan selalu ada kopi yang dikemas kertas kecoklatan ini. Walaupun sudah menjamur kopi-kopi lain yang banyak di-iklan-iklankan, kopi ini tetap tak terkalahkan. Terutama untuk kalangan orang tua yang memang sudah gandrum dengan kopi ini. Apakah seiring waktu kopi ini akan mampu untuk bertahan? Hm, hanya waktu yang dapat menjawabnya yaa…

Sejak saya masih kecil banget, ketika badan masih ceking dan hitam legam, kopi ini sudah mewarnai warga kampung, entah sejak kapan saya tak pernah mendapat jawaban yang memuaskan untuk informasi itu. Boleh jadi kopi cap teko ini sudah jauh lebih dahulu tinggal dan gandrum di kampung saya. Hahaa.. Kalo di rumah ada Bapak saya penikmatnya, sementara saya masih malu-malu kalo menikmati kopi hitam legam, soalnya mirip-mirip dengan kulit saya. Upss jangan bilang siapa-siapa ya..

Nah, karena penasaran sayapun coba browsing-browsing di Mbah Google, dan ternyata.. Jrengg.. jreng… jreengg.. Hasilnya nihil, tak ada info lebih dari Mbah Google mengenai kopi ini, yang ada hanya orang-orang yang menjual kopi ini di kaskus, di blognya atau lainnya. Satu-satunya yang saya tahu adalah kopi ini dijual di Toko Agus yang beralamat Jalan Pedati Nomor 27, dan itu memang sudah terlihat jelas pada kemasan kopinya. Coba kalian lihat baik-baik gambar kopi di atas. Sayangnya saya terlalu sok sibuk untuk menelusuri jalan pedati no. 27 itu. Huhuuu… Hmm… Mungkin ada teman yang tahu jalan pedati nomor 27 di bogor itu deket mana, atau bahkan apa ada teman yang lebih tahu tentang kopi cap teko ini? Boleh dong dishare ke saya.. Hahaaa….
#BayarhutangOnedayonepost
Sambil lanjut menyeruput kopi… Hmm.. Ajibbb…

Aku Mencintaimu

Aku mencintaimu…
Tidak peduli gerhana itu datang..
Tidak peduli kerumunan orang itu menuju ke mana?
Tidak peduli…

Aku mencintaimu…
Kata itu tersemat di kala hujan
Di setiap tetesan yang jatuh membasahi

Daun-daun berguguran, tak kuat menahan batasan dari Tuhan.
Ulat-ulat bersuka riang, karena tahu daun muda akan segara tumbuh mewarnai.
Aku masih duduk di sini sambil berucap puisi itu lagi..

Entah sampai kapan…

Aku mencintaimu…
Cinta yang membuatku tentram
Sehinggaku makin mengagumi segala bentuk penciptaan..

Sejatinya, cinta adalah runtutan rasa syukur yang dijewantahkan dengan perasaan penuh kasih sayang.

Mencintaimu, di kala terik dan hujan.

Dalam bayang-bayang…

Apa kabarmu sayang?

image

Kebetulan yang tidak kebetulan

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, bahkan daun yang jatuh sekalipun sudah ada catatannya, itulah yang sering kita sebut taqdir. Apa taqdir itu mutlaq atau fleksibel? Pertanyaan ini sudah terlontar dari zaman ke zaman, kita lihat ada yang namanya kaum Jabariyah dan Qadariyah di masa lalu di peradaban Islam. Tetapi saya tidak ingin membahas tentang perbedaan sudut pandang itu. Saya lebih ingin mengajak pembaca menyelami real kehidupan kita sekarang.

Kita tahu, biasanya binatangpun akan berkumpul dengan sesama jenisnya, maksudnya bukan laki sama lelaki, atau perempuan sama perempuan ya..! Tetapi boleh kita lihat pada burung kutilang yang berkumpul dengan jenisnya, yaitu sesama burung kutilang, burung jalak berkumpul sesama burung jalak, dan seterusnya. Maka, boleh jadi kita dipertemukan oleh getaran-getaran atau frekwensi yang sama, sebagaimana frekewensi yang mempertemukan burung kutilang dengan burung kutilang lainnya. Walau boleh jadi sebelumnya sama sekali tidak saling kenal, dan berjauhan, ya mungkin ini pula yang akhirnya disebut jodoh, orang yang seneng ngaji dipertemukan dengan orang yang sama, orang yang suka nulis dipertemukan dan ngumpul dengan orang yang sama, anehnya semua tidak lebih dahulu memandang orang mana, anak siapa dan sebagainya, semua guluy dalam dunianya yang sama, bukan malah mengutuki perbedaan-perbedaan yang ada.

Begitulah konsep taqdir yang saya pahami, bahwa sesungguhnya kita semua bertemu di sebuah komunitas atau di manapun adalah sesuai sunatullahNya, yang awalnya berasal dari getaran frekewensi yang sama. Boleh jadi kesulitan-kusulitan yang selama ini kita dapati pula berasal dari undangan diri kita yang berupa perasaan, perkataan ucapan yang disengaja atau tidak. Maka, konsep berpikir yang baik-baik, merasa yang baik-baik, dan berucap yang baik-baik boleh jadi akan mengundang segala yang baik-baik buat hidup kita.
Kita boleh tengok dengan dunia artis sekarang, banyak artis yang menyanyikan lagu-lagu galau dan pada kenyataan hidupnyapun terjadi demikian. Ay* Tingting pernah nghits dengan lagu Bang Toyibnya yang tidak pulang-pulang dan nyatanya itu terjadi dalam real kehidupannya. Suaminya tidak pulang-pulang. Dan masih banyak lagi contoh real yang silahkan teman-teman amati sendiri dalam hidup ini. Apa temen-temen punya cerita tersendiri mengenai hal-hal yang pernah terjadi dalam hidupnya, yang berawal berupa dari perasaan atau getaran-getaran yang akhirnya menghubungkan dengan kenyataan hidup? Silahkan diselami ya.. Hehehehe..

#Onedayonepost

Cinta……

Cinta semestinya bukan melayani.
Tetapi cinta adalah ketulusan hati untuk saling memberi.

Jika belum apa-apa sudah berani maki-maki, apakah cinta menjadi alasan perbuatan yang menyakiti.

Ketertarikan kita adalah ketertarikan hati,
Saling memuji di kala sepi
Dan berintropeksi untuk memperbaiki diri.

Kita dipertemukan dalam cinta lautan Illahi..
Dalam kodrat Aku sebagai lelaki dan kau sebagai wanita yang dicintai.

Adakah yang lebih indah ketika dua insan diliputi perasaan kodrati, saling tertarik berkirim senyum berlimpah di kala terik melampaui

Adakah perasaan itu, menyusupi dada hingga membuat tak mampu berkata apapun jua.

Semua karena cinta, dalam perasaan yang tiada hingga, dalam bisik-bisik perasaan yang tak henti.

Daun jatuh seakan berbisik, suara anginpun berdesik, bahkan bunyi sendal jepitpun seakan bersuara, menyebut namamu sang dambaan yang selalu di nanti.

Tidak ada yang lebih gila ketika seseorang dihinggapi perasaan cinta, tidak ada yang lebih gila kecuali puisi-puisi yang mewarnai dua insan yang saling mengagumi.

Pada akhirnya begitulah cinta suci yang berawal dari sebuah akad jalan Illahi, jalan halal yang ditempuh dua hati untuk mengabdikan diri kepada Sang Pencipta Yang Maha Abadi.

Cinta……

#Onedayonepost

image