Sosok itu Bernama ODOP

Februari adalah bulan yang luar biasa buat saya. Pertama pada bulan inilah saya memilih resign dari pekerjaan yang selama hampir 4 tahun ini saya geluti. Terus saya ngapain? Yaa, sekarang saya adalah pengangguran, pengangguran yang tidak benar-benar menganggur, karena ternyata begitu banyak pekerjaan pribadi yang harus diselesaikan, termasuk postingan ini.

Berawal dari sebuah komunitas kepenulisan, info itu terpampang jelas. Sebuah tantangan yang cukup menantang “One Day One Post” atau disingkat ODOP, saya coba membaca semua penjelasan dari Bang Syaiha di blognya mengenai itu, dan saya terhentak ketika membaca tagline di gambar bagian awal “Bergaullah dengan orang yang punya kegemaran yang sama, maka semangat kita akan terjaga” Hm, seperti sebuah cahaya hidayah yang menaungi saya seketika itu, hati saya terperanjat, keinginan bergabungpun begitu kuat.

“Saya harus bergabung di komunitas ini” Pikir saya..

Tetapi ternyata saya butuh waktu beberapa hari kemudian untuk melangkah lebih jauh, terutama begitu banyak pertanyaan kepada diri saya sendiri “Bisakah saya berkomitmen kepada diri sendiri untuk melakukannya” Dan akhirnya komitmen itupun terucap, mungkin persis bagaimana ketika teman-teman dihadapan seorang calon mempelai untuk ijab qabul di depan banyak orang. “Saya terima nikahnya…..” Akhirnya sayapun mentasbihkan diri, saya kontak Mb Maya selaku admin di ODOP. Itu artinya kini saya sudah berkomitman sudah menikahi ODOP, yang artinya saya harus posting satu hari satu pos, seperti surat peraturan yang saya anggap surat pernikahan itu. Hmm, Saya jadi Baper ingin menikahi gadis yang sebenarnya. Yaa Allah, pengandaian ini membuat hamba beneran Baper.. Hehehehe..

Baik, lupakan tentang menikah, kali ini saya ingin bercerita tentang menulis. Suatu kata yang pernah ada dibenak saya dulu, menjadi penulis sungguhan dan membuat buku ini itu, tetapi saya sadar butuh waktu dan proses untuk semua itu. Dan komitmen untuk bergabung dan menikahi ODOP pun adalah suatu jalan, bagian dari proses itu, walau saya yakin, untuk orang yang sering menunda ini itu, saya harus tertatih-tatih untuk mengikutinya.

Sebagai seorang yang sama sekali tidak mempunyai darah kepenulisan saya sadar betul saya yang bocah kampung ini sedang memperbaiki peradaban, melalui menulis tentang apapun, tentang orang di sekitar, tentang semua kejadian. Karena dengan ini itu artinya saya punya sedikit catatan kehidupan yang bisa dibaca anak cucu saya kelak, bahwa kakeknya pernah menjadi bagian gerakan kepenulisan dan mengabadikannya melalui tulisan-tulisan.

Saya memang terlahir di sebuah keluarga yang sangat sederhana, Ibu saya termasuk yang tidak bisa membaca sama sekali, sementara bapak bisa membaca secara mengeja, itu karena dulu beliau pernah menjadi ketua RT yang akhirnya memaksa diri sendiri untuk belajar otodidak, dan kali ini sayapun begitu. Sedang memaksa diri sendiri untuk menjadi lebih baik, untuk peradaban, untuk anak cucu kelak. Karena hal yang besar selalu dimulai dari hal yang kecil.

Saya ambil taglinenya Bang Syaiha “Menulis untuk keabadian” dan saya kutip dari puisinya Chairil Anwar. “Aku ingin hidup 1000 tahun lagi” Yaaa, saya juga ingin hidup seribu tahun lagi, melalui karya, bukan fisik yang fana.
Akhirnya sosok itu adalah ODOP, terima kasih kawan-kawan semua, secara khusus terima kasih Bang Syaiha yang membuat komunitas ini sehingga banyak anak muda yang bergairah untuk mencatat tentang hidupnya.

Irman 01 Maret 2016 #OneDayOnePost

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di Curhat. Tandai permalink.

5 Balasan ke Sosok itu Bernama ODOP

  1. Veniy Andriyani berkata:

    Bahasa tulisannya mengalir. Sy merasa enjoy membacanya. Semoga ini menjadi batu loncatan untuk menjadi seperti apa yang dicitakan.

    Salam kenal. sy Veniy dr grup ODOP 🙂

  2. Kemaren kerja apa, Kak? Kok resign?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s