Gerhana dari berbagai sudut pandang

“Boleh jadi suatu benda berada di tempat yang sama tetapi tergantung dari sudut mana kita memandangnya”

image

Sumber gambar: Grup Gerhana Matahari

Sudut pandang menjadikan semuanya berbeda, kita lihat gerhana matahari kemarin yang ramai di mana-mana, dari media televisi, radio sampai media online. Tetapi dari sudut mana kita memandang peristiwa langka ini? Di kampung saya dahulu orang tua bilang kalo ada gerhana wanita hamil ngumpet di bawah kolong tempat tidur, sementara yang lain katanya memukul kentongan sebagai wujud rasa takut, ya mungkin orang dahulu percaya betul kalo matahari ketika gerhana itu di makan raksasa, sehingga secara arti kentongan itu membuat raksasanya takut. Tetapi itu dahulu, sekarang bahkan di kampung saya orang sudah tak percaya lagi begituan.

Coba kita lihat sekarang apa yang terjadi dengan fenomena gerhana matahari ini? Mungkin memang masih banyak orang yang melakukan khurafat seperti di atas, tetapi lebih banyak lagi yang berduyun-duyun untuk melihat gerhananya langsung, lewat perayaan hiburan, dangdutan, joged-joged tak karuan. Yaa, itulah yang terjadi kemarin. Entah perayaan apa yang membuat semuanya menjadi begitu dinanti. Dahulu begitu ditakuti sehingga tak ada yang berani keluar rumah sekalipun. Sekarang malah berduyun-duyun, seakan-akan ini hanya fenoma alam yang tak perlu ditakuti. Tidakkah kita menjadi sangat berlebihan dalam menyikapi satu persoalan?

Saya jadi teringat dengan hadist Nabi yang bilang “Sesungguhnya gerhana matahari dan bulan terjadi bukan karena hidup dan meninggalnya seseorang tetapi keduanya adalah tanda dari kebesaran Allah. Apabila kamu melihatnya, maka berdirilah untuk mengerjakan shalat gerhana” (Bukhari Muslim)

Jadi sejak zaman Nabi yang 14 abad lalu Islam sudah menjelaskan melalui Nabinya mengenai peristiwa gerhana yang merupakan tanda-tanda kebesaran Allah taala, bukan dimakan raksasa, atau pula yang lainnya. Bahkan nabi membantah khurafat yang mengatakan bahwa gerhana terjadi karena kematian seseorang. Dan maka dari itu kita dianjurkan untuk Shalat, seraya banyak berdoa dan beristighfar menyebut kebesaranNya. Bukan malah dangdutan dan senang gembira yang berlebihan dalam memaknai gerhana.

Lalu bagaimana kemarin kita menyikapinya?? Silahkan dijawab sendiri di dalam hati masing-masing, jikalau serasa berlebihan silahkan beristighfar meminta ampun padaNya.

Oh iya tanggal 23 maret besok menurut prediksi dan hitungan hisab para ahli ada lagi gerhana bulan penumbra yang bisa kita lihat lagi bersama. Semoga apapun yang terjadi di hidup kita akan malah membuat kita makin taqwa dan bukan sebaliknya.

Wallahualam…..
#One day One Post

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

8 Balasan ke Gerhana dari berbagai sudut pandang

  1. Yesi andriyes berkata:

    Aamiin Aamiin. Semoga meningkatkan ketakwaan ^^. Makasih ilmunya

  2. denik berkata:

    Ya benar. Semua itu untuk menambah ketaqwaan kita.

  3. Sasmitha A. Lia berkata:

    Aamiin… kerenn.. bahasanya ringan, isinya berat!^_^

  4. sitijaniah berkata:

    Aamiin..
    Smoga dg kjadian tsb, nmbah keyakinan kita pada Allah, Pencipta langit, bumi dan alam semesta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s