Membaca kehidupan seorang disable (Art Rodhi)

image

Dalam hidup ini kita memang diberi kemampuan belajar dan membaca. Membaca sesuatu yang bisa dibaca, baik itu dalam bentuk tulisan, pengalaman, perasaan atau apapun dari obyek yang kita bisa dengar, lihat atau bahkan rasakan. Jadi ternyata membaca bisa diartikan dengan sangat luas, tidak hanya membaca sesuatu yang berbentuk tulisan saja. Ada banyak hidup orang lain yang tak berbentuk tulisan bisa kita lihat atau mungkin rasakan ketika emosinya yang bercerita ini itu.

Hidup selalu memberi kesempatan untuk siapapun untuk berguru dan belajar ke sesama. Siapapun itu. Saya teringat perkataan seorang Prie GS yang pernah mengatakan. Setiap orang pada hakekatnya adalah buku yang berjalan. Jadi bagaimana kisah catatan buku hidupmu sekarang? Hmm, saya pribadi masih banyak kekurangannya. Tetapi kita semua mengerti tidak ada sesuatu yang sempurna. Dengan kekurangan itulah kita bisa belajar untuk memperbaiki.

Kali ini saya ingin bercerita tentang seorang teman, yang sekaligus guru kehidupan buat saya. Dialah Art Rodhi alias Rodhi Mafhtur. Dilahirkan dalam keadaan sempurna pada tahun 1989. Rodhi kecil adalah anak biasa, tidak ada yang menarik untuk diceritakan tentang sosoknya. Atau kalaupun ada, mungkin sisi “menarik” itu cukup menjadi kenangan di memori otaknya saja. Kehidupannya berubah drastis ketika malaikat maut hampir merenggut nyawanya ketika umur 14 tahun. Di usia ABG itu Rodhi berjuang antara hidup dan mati. Rodhi mengalami kecelakaan parah, berhari-hari koma tak sadarkan diri. Tulang belakang dan tulang ekor Rodhi patah. Rodhi lumpuh. Bukan hanya itu, kecelakaan tersebut menyebabkan luka di bagian perut sehingga “maaf” untuk buang air kecil pun terpaksa memakai selang. Beruntunglah Malaikat Maut hanya menggoda Rodhi saja, belum menuntaskan tugasnya mencabut nyawa. Delapan tahun lebih Rodhi hidup dalam derita, hari-harinya diisi dengan ratapan dan penyesalan. Ibunya setia menemani di sisi Rodhi, tentu dengan kesedihan yang sama, bahkan lebih. Mereka bukanlah keluarga kaya raya yang tinggal di kota besar. Rodhi bangkit. Delapan tahun dalam derita tidak membuatnya patah harapan. Api kecil semangat itu tumbuh. Doa-doa yang dipanjatkan orang tuanya mulai menunjukkan hasil. Rodhi berlatih melukis secara otodidak. Entah bagaimana caranya seseorang yang tidak bisa bangkit dari tempat tidur bisa melukis. Entah seberapa sakitnya yang dirasakan Rodhi ketika menggerakkan tubuhnya untuk melukis. Entah bagaimana pula pemuda yang kini tidak memiliki kaki itu mendapat ilham untuk berlatih melukis. Melakukannya berkali-kali. Terus dan terus. Kiranya mungkin hanya itu pilihan yang bisa Rodhi lakukan. Melakukan sesuatu dengan tekad luar biasa, atau tetap terkapar seperti pecundang. Rodhi berhati baja. Tuhan Mahabesar. Rodhi hanya membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk melukis dengan cukup baik. Setidaknya untuk kualitas orang yang melukis otodidak dengan teknik apa saja yang bisa dia lakukan. Satu hal yang mungkin bisa dia lakukan tapi belum bisa dilakukan pelukis amatir adalah melukis dengan hati. Seakan-akan semua kepedihan hatinya hilang ketika ia melukis, tenggelam dalam lukisan-lukisannya. Dengan melukis Rodhi bisa tersenyum. Penulis bisa merasakan getaran keceriaan dan kepolosan Rodhi ketika berbicara lewat telepon. Rodhi telah berhasil lepas dari jeratan maut depresi. Rodhi bangkit dan berlari mengejar harapan baru. Rodhi kini seorang pelukis. Rodhi bukanlah Van Gogh atau Basuki Abdullah. Rodhi hanyalah pemuda tanpa kaki yang tergolek di tempat tidur dengan kaleng cat minyak yang berserakan. Ketika Van Gogh dan Basuki Abdullah berjalan-jalan lintas benua untuk melukis, berdiskusi-berdebat dengan pelukis lainnya, dan melukis di tempat-tempat terindah di dunia, Rodhi tetap berada di kamarnya. Pikiran dan perasaannya yang melayang-layang mengangkasa hingga ke Paris atau berimajinasi tentang sungai dan ikan koi.

image

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, begitupun pertemuan Saya dengan Rodhi. Mengenal dan mengamatinya secara lebih dalam membuat saya belajar bagaimana arti ketegaran hidup, bagaimana menjalaninya dengan api semangat. Pertama kali bertemu dengan Rodhi sudah membuat saya geleng-geleng kepala. Bagaimana mungkin seorang pasein rumah sakit malah minta janjian ketemuan di Masjid supaya sekalian shalat maghrib jamaah. Saya benar-benar terkejut waktu itu ketika Rodhi datang dengan kursi Roda sendiri dengan gesitnya. Menggunakan kursi rodanya dengan lincah, atau bahkan kadang seakan-akan dia beratraksi seperti jumping, padahal Rodhi waktu itu sedang masa pemulihan Operasi perut.

Rodhi memang bangkit tetapi yang menjadikannya bangkit tidak lain dan tidak bukan adalah wasilah kesabaran dan ketegaran Sang Bunda. Ibu Siti Musa’adah seorang Ibu yang luar biasa yang membentuk Rodhi menjadi seorang yang luar biasa, tentu dengan do’a-do’a panjangnya. Setelah berkunjung ke rumah kontrakannya beberapa waktu yang lalu, saya tahu bahwa Rodhi akan menjadi nothing tanpa sosok Sang Bunda yang menemaninya ke manapun. Tidak ada yang bisa menandingi kasih seorang Ibu kecuali kasih Tuhan. Dan akhirnya doa-doa Sang Bundapun terpanjatkan. Rodhi yang sekarang sungguh menginspirasi banyak orang. Dan membuat saya berkaca-kaca, bagaimana bentuk rasa syukur saya selama ini. Mengeluhi kekurangan atau malah memanfaatkan apa yang sudah diberikan oleh Tuhan?

Untuk teman-teman yang ingin mengenal Rodhi lebih jauh bisa mengAdd facebooknya di sini

Beliau juga bisa melukis sketsa wajah, bisa pesan langsung ke beliau, karena sehari-hari beliau sekarang adalah melukis sebagai mata pencaharian sekaligus hobinya.

image

Cerita Rodhi di atas saya nukil pula dari cerita Mas Andra di Kompasiana.
#Onedayonepost

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

11 Balasan ke Membaca kehidupan seorang disable (Art Rodhi)

  1. Sasmitha A. Lia berkata:

    Kereeennn… inspiratif sekali mas irman.. semoga kita bisa memaksimalkan seluruh kemampuan yang diberikan Tuhan kepada kita..^_^

  2. afikaar berkata:

    Orang-orang seperti itu membuat kita lebih bersyukur… dan berhasil membuat kita malu jika masih sering mengeluh – mengeluh – mengeluh.. 😥

    Kereen! Keep stronger Mas Rodhi!

    Bapak juga, keep stronger! 😀

  3. Rina adriana berkata:

    Tulisannya menginspirasi. Makasih mas Irman.

  4. Khair berkata:

    bagiku, orang yang seperti mengajarkan kita untuk terus bersyukur

  5. MAS DARSONO berkata:

    wah.. ruarrrr biasa..
    inspiratif mas broh postingannya 🙂

  6. Endang Ermanto berkata:

    Masyaallah, terimakasih mas Imran yang sudah mengingatkan kita, tentang nikmat yang mungkin sering kita lupakan

  7. tukangtamandepok berkata:

    Terima kasih mas irman, sangat dan amat mengispirasiginspirasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s