Arsip Bulanan: April 2016

Dalam Tanya (sebuah kesedihan)

Masih terdengar jelas jejak-jejak langkahmu di sanubari. Jejak-jejak itu memutus heningnya malam seperti suara-suara yang saling bertautan, satu-satu daun-daun jatuh berserakan ke sana kemari, namun seketika menua, dan menghilang. Brrr…. 

Masih terlihat jelas wajahmu bergulat di depan mata, senyum manis mengikis sedih, adakah yang bisa mengerti tentang perpisahan, perpisahan antara jasad dan ruh. Mungkin ada yang bisa memberi penjelasan? Tentunya selain lantunan ayat-ayat suci yang tegas mengatakan, setiap yang bernapas akan mati, kembali kepada Sang Pencipta. Adakah itu??

Tetapi, tetapi kesedihan ini membuat merubah banyak hal, hatiku mungkin juga hatimu.

Meski, meski aku tidak pernah tahu, apa hatimu masih seperti dulu, selalu berucap perlindungan ketika menjelang mata terpejam, meski itu pejaman mata yang terakhir.

Sudahlah, lepas kesedihanmu itu. Katamu semalam dalam mimpiku. Tapi, tapi aku tidak mampu, bahkan untuk menengok wajahmu kembali malam itu.

Seutai tanya, menusuk dada. Apa kebarsamaan kita sampai di sini? Bolehkah ku titipkan kata tanya itu kepada Tuhan?

Kembalilah sayang untuk malam ini, meski hanya dalam mimpi.

Dalam sedih yang menghujam, dalam titipan tanya untuk Tuhan Semesta Alam.

Iklan

Sebab resign dari tempat kerja

Mengapa resign dari tempat kerja? Ada yang mau bantu saya untuk menjawab? Hahaa…
Jawabannya mau yang relegius atau yang pake logika?

Jadi sebenarnya apa yang kita baca sangat berpengaruh ke dalam alam bawah sadar kita dan sayangnya alam bawah sadar menurut ahli hipnoterapi pengaruhnya bisa sampai 88 % bagi kehidupan nyata kita. Maka bolehlah kita belajar dari Pak Jamil Azzaini, yang katanya dulu, kalau habis subuh kebiasaannya adalah menonton TV, membaca berita ini itu, yang boleh jadi banyak juga berita tak baiknya yang secara tak langsung pasti berpengaruh ke alam bawah sadar. Tetapi sekarang beliau mengatakan lebih memilih menulis atau membaca ayat suci Al-quran kegiatan rutinitas beliau, yang tentu sangat positif dari sekedar menjadi penonton berita. Sehingga boleh kita tengok blognya beliau yang setiap hari selalu di-update, dapat saja inspirasi ceritanya.

Loh, ini saya mau ngomongin apa? Resign apa Hipnoterapi alam bawah sadar ya.. hahaa..
Jadi setelah saya simpulkan ternyata kenapa seseorang resign dari tempat kerja dan memilih menjadi pengusaha adalah karena bacaan-bacaan yang menginspirasi atau boleh jadi dia dijejali dengan workshop-workshop wirausaha yang menjadikan dia memilih jadi pengusaha.

Saya jadi ingat dengan perkataan seorang “Mas Dian Tegal” yang resign dari kerja kantoran dan nekat jadi seorang Internet marketing, yang mengatakan bahwa.

“Resign saja dulu, setelah itu nanti kita bakalan belajar sesuai jalurnya. Persis apa yang dilakukan Tariq bin Ziyad yang membakar kapal perangnya ketika menaklukan Spanyol atau Andalusia.”

Resign aja… nanti belajar, atau terpaksa belajar.. Boleh dibilang begitu… Hahaa…

Secara otak kanan hal seperti itu memang bener banget, kompor yang menjadikan kita beneran nekat buat resign kerja. Tetapi selanjutnya terserah Anda.. Hahahaa, ya bener deh, kita bakalan merasakan pertarungan selanjutnya, memulai menjadi wirausahawan, menyiapkan ini itu. Dan sebagainya. Maka dari itu sebaik-baik pertarungan adalah pertarungan yang dalam pada saat kondisi kita siap. Nah, nekat resign ya silahkan aja, tetapi sebaik-baik resign adalah resign yang direncanakan waktunya, terus kapan dan apa yang dilakukan setelahnya.

Saya sendiri boleh dibilang nekat resign, dan saya jadi belajar deh setelahnya. Tetapi bener juga, teori Tariq Bin Ziyad yang membakar kapal perangnya itu bikin semanget. Sadar betul kalo ngga kerja penghasilan dari mana, maka mau tidak mau saya harus giat belajar buat cari uang, seperti pilihan Tariq Bin Ziyad dan prajuritnya. Mau tak mau harus menang, atau mati sekalian. Karena kapal sudah dibakar, tak ada tempat kembali pulang.
Jadi kesimpulannya boleh dibilang kenapa orang-orang memutuskan resign kebanyakan adalah pengaruh dari kompor-kompor, atau bacaan yang mempengaruhi alam bawah sadarnya yang secara tak langsung kemudian membuat mereka-mereka orang memutuskan berhenti dan berwirausaha.

Kalo menurut Anda bagaimana??

Langkah-langkah memaafkan orang lain atau diri sendiri dari sudut pandang quantum

Ada yang merasa kesulitan untuk memaafkan orang lain? Boleh jadi kita pernah merasa disakiti, merasa dizalimi orang lain. Kemudian respon daripada itu timbullah “kemarahan” di hati.

Apakah boleh kita marah? Tentu sangat manusiawi ketika kita merespon marah sesuatu. Tapi, tapi sampai kapan marah atau perasaan kecewa itu bersemayam di hati? Apakah marah akan menyelesaikan masalah? Hmm… Nyata-nyatanya tidak, tetapi banyak orang yang memilih untuk berlaku marah berhari-hari, berbulan-bulan atau bahkan ada pula yang bilangan tahun. Bagaimana dengan kita? Silahkan dijawab sendiri ya. Heheee…

Boleh jadi kita ingin memaafkan seseorang tetapi belum mampu, karena rasa sakit yang dibuat menjalar ke setiap bagian tubuh, hingga diri kita dikuasai perasaan dendam, dan rasa sakit yang berkepanjangan.
Belajarlah memaafkan, kalau tidak bisa yaa paksakan dek. Sambil pake doa “Allahuma Paksaken”…
Bagaimana sih cara memaafkan seseorang, atau supaya rasa sakit itu tidak kembali menyakiti kita kembali ketika mengingatnya?

Baik kita simak dulu Qoute indah dari para bijak.

“Barangsiapa memaafkan saat dia mampu membalas maka Allah memberinya maaf pada hari kesulitan” (HR Ath-Thabrani)
“Yang lemah tidak pernah bisa memaafkan, pengampunan atau memaafkan adalah atribut orang kuat” Mahatma Gandi

“Ketika Anda memaafkan Anda sama sekali tidak bisa merubah masa lalu, tetapi Anda yakin bisa merubah masa depan” Bernard Meltzer

Memaafkan bukan berarti melupakan masa lalu. Tetapi memaafkan adalah melepas pada setiap buhul-buhulnya perasaan sakit, perasaan kecewa. Sehingga rasa sakit itu boleh jadi menjadi kenangan yang membuat kita tertawa jika mengingatnya.

“Dulu gue pernah begitu lohhhh” Kira-kira begitu dialognya.. Hahaa..

Silahkan dirasakan sendiri nikmatnya kenangan bahkan rasa sakit sekalipun ketika kita sudah melepaskannya. Ingat Forgiven Not Forgotten. Memaafkan bukanlah melupakan.

Baik, saya mau tanya, kira-kira berapa lama Anda bisa memaafkan dalam peristiwa yang menyakiti hati? Sehari? Sebulan? Setahun? Silahkan dijawab sendiri masing-masing ya. 

Kemudian kita coba lihat anak-anak kecil yang bermain, kemudian berantem marah-marahan, kira-kira berapa lama marahnya mereka ya? Heheee …..

Pada umumnya habis nangis saling marah anak-anak kemudian bisa langsung baikan kembali. Kenapa begitu? Karena pemikiran anak-anak simple dan polos sehingga jika mereka marah-marahan kemudian bisa saling memaafkan tanpa beban. Sementara orang dewasa tidak demikian. Pertama ada ego jika seseorang ingin meminta maaf atau memaafkan. Minta maaf adalah perbuatan orang kuat yang berani melawan ego. Dan yang memberinya punya keluasan yang luar biasa yang bisa memaafkan orang yang meminta maaf. Kemudian mana yang lebih utama, meminta maafkah atau memaafkan. Keduanya mulia maka ini dengan dengan istilah saling memaafkan.

Baik sekarang kita fokus ke bagaimana cara memaafkan termasuk memaafkan diri sendiri.
Ada yang merasa kesulitan dalam hal memaafkan?

Berikut saya baru mendapat 3 tips bagaimana cara yang membantu kita untuk memaafkan orang lain atau bahkan diri sendiri.

Pertama dengan teknik Graphotherapy, grapho yang sama-sama kita ketahui adalah tulisan, goresan tangan. Tulisan ternyata bisa dijadikan sarana sebagai therapi yang membantu kita dalam memaafkan orang lain. Maka kita sering mendengar istilah terapi menulis. Nah, kali ini jangan cuma didengar, tapi silahkan dipraktekan kaka…. 
Perlu diketahui cara sederhananya, ketika kita sedang marah baik kepada diri sendiri ataupun ke orang lain, tulislah semua unek-unek kemarahan itu di kertas dan tulislah dengan tekanan yang ringan, setelah puas menulis robek dan buanglah ke tong sampah.

Untuk memaafkan diri sendiri atau orang lain. Coba tulis dengan tekanan yang kuat dan setelah itu letakan tulisan itu di dada sebagai sugesti “Bahwa Saya sudah memaafkan” Untuk lebih melegakan lakukan hal tersebut 21 hari sampai 99 hari.

Dan perlu diketahui pula jika ketika kita menuliskannya tiba-tiba kepala sakit, pusing atau perut mual itu artinya kemarahannya sangat kuat. Cara mengecek seseorang sudha memaafkan atau belum cukup dengan menulis kembali nama dan peristiwa yang membuatnya marah tersebut. Jika tiba-tiba pusing, mual, atau perut sakit itu artinya yang bersangkutan belum memaafkan peristiwa tersebut.

Tetapi jika kita menuliskannya malah tertawa, senyum, mengingat kenangan itu dan malah mendoakan kebaikan itu artinya kita sudah memaafkan.

Teknik kedua adalah dengan Teknik Ilusi Perceptual.

“Hidup yang nyata ini adalah hanya sebuah ilusi, bahkan yang paling jelas sekalipun” Albert Einsten
Sesungguhnya diri kita dan peristiwa yang terjadi pada diri adalah ilusi. Kita tercipta dari berbagai partikel-partikel zat kosong namun mempunyai gelombang elektromagnetik yang saling tarik menarik.

Sesungguhnya diri kita sejati adalah berada di level quantum. Dengan memahami ini kita akan belajar untuk selalu mengakses level quanta dan vibrasi yang selalu bersih. Dalam Islam ini dikenal sebagai Fitrah. Fitrah manusia ya kembali kepadaNya. Cara mengakses level quanta dan vibrasi yang selalu bersih adalah dengan cara menyadari bahwa pikiran adalah cermin yang berarti semua hal yang terjadi, hanyalah pantulan sebuah perantara yang dapat kita lihat, rasakan dan dengarkan. Sehingga kita bisa memisahkan diri dengan apa yang terjadi dan membuat kita tidak mudah larut di dalamnya. Contoh misal kita habis ditolak oleh calon mertua. Kita harus sadari itu hanyalah sebuah ilusi, semua akan berlalu, dan hidup akan tetap berjalan. Menyadari fitrah bahwa kita adalah seorang hamba adalah hal utama lalu kemudian kita bisa berlaku sabar dan syukur dan melakukan hal lainnya di atas lapisan fitrah. Yang menerapkan hal ini dengan sangat berhasil salah satunya adalah anak-anak, karena bagi mereka semua adalah khayalan sehingga ketika mereka saling marah tak lama kemudian langsung saling memaafkan. Bagi anak-anak semua adalah khayalan yang mengasyikan sehingga mereka tidak larut di dalamnya. Itu mengapa anak-anak begitu mudah berubah-ubah.

Apa bahayanya jika kita berlarut-larut dengan sesuatu yang terjadi?

1. Membuang-buang waktu kepada hal yang tidak bermanfaat.
2. Sulit move on, karena seolah-olah apa yang terjadi di masa lalu itu berkelanjutan di masa depan, padahal itu hanyalah ilusi. Maka mengutip kata para ahli vibrasi yang mengatakan “Sesuatu yang belum mampu diterima dengan baik, biasanya akan terjadi berulang-ulang sampai kita paham dan bisa menerimanya dengan baik”
Sesungguhnya kita hidup di alam energi quanta dan vibrasi, sedangkan hukum gravitasi itu adalah energi yang tidak terlihat di alam quanta sehingga bisa menarik ke bawah yaitu berupa kesedihan-kesedihan. Contohnya pada suatu benda yang jatuh, kita bisa melihat bendanya tetapi kita tidak bisa melihat energi yang membuatnya jatuh ke bawah. Kesedihan kita terlihat tetapi energi yang menariknya atau yang membuatnya menjadi sedih itu tidak terlihat, bahkan bisa mengendap ke dalam pikiran bawah sadar. Dan bahayanya pikiran bawah sadar kekuatannya bisa mencapai 88 %

Maka dari itu kita tidak boleh hanyut dalam perasaan kecewa, dendam, dan sebagainya. Boleh jadi di awal ketika peristiwa menyakitkan terjadi respon kita demikian marah, kecewa, dendam dan sebagainya, tetapi selanjutnya kita harus mengendalikan diri kita untuk tidak hanyut dalam perasaan itu. Semua adalah ilusi, peristiwa yang menyakitkan itu adalah ilusi, yang ke depannya akan hilang dan hidup kita akan tetap berjalan.

Closing Appluse
“Tidak perlu membuang energi untuk membalas seseorang yang sudah berbuat salah kepada kita dengan dendam dan kemarahan. Cukup dimaafkan saja, karena memaafkan adalah cara pembalasan terbaik”
Bahasan di grup WhatsApp B Trans semalam, pemateri oleh Ibu Primasari Nafisah T.Z.

Kehilangan Ruhiyah

Apa teman-teman pernah melakukan Ibadah hanya sebagai rutinitas saja? Kalo jawabannya pernah maka sungguh saya juga pernah.

Beberapa hari ini saya kehilangan rasa, kehilangan ruhiyah kenikmatan dalam beribadah, malas sekali bangun subuh, boro-boro tahajud. Baca Al-masurat cuma sepotong-sepotong, kehilangan gairah. Mau ini malas, mau itu malas, yang bikin serem ternyata kehilangan ruhiyah ibadah bukan hanya membuat saya malas dalam beribadah saja, lebih parah lagi malah membuat saya merasa kehilangan ruhiyah hidup. Bahaya banget kan kalo gini… Ngelakuin ini itu rasanya malas, dan yang tak kalah gila rasa-rasanya pesimis sekali, seakan-akan melakukan apapun tak ada hasilnya. Payahhh, menjadi seperti looser. Pengecut.

Nah, karena itu hari ini saya ingin memutus mata rantai itu. Bagaimana ya caranya? Hmm… Setelah bertafakur sejenak dan memperhatikan segala aspek tentang asal-muasal bagaimana rasa itu bisa timbul maka yang pertama saya lakukan adalah mengidentifikasinya. Sekiranya Apa dan mengapa ini terjadi? Tentu semua ada sebabnya. Dan Alhamdulillah saya mendapat kesimpulan, tentu atas petunjukNya dengan wasilah beberapa sumber. Saya identifikasikan sebagai berikut:

Mengapa ruhiyah hilang?
Jawab: Ruhiyah beribadah hilang karena kurangnya kesadaran berupa “rasa syukur” atau seolah-olah menyaksikan ketidak ajaiban di hidup kita, dan malah melihat keajaiban pada orang lain, terutama masalah nikmat berupa kelebihan yang diberikanNya kepada orang lian. Maka hal ini seolah-olah kita menjadi merasa terzalimi oleh DIA, hidup jadi tidak beroleh syukur. Dan parahnya lagi timbul pertanyaan konyol “Apa DIA benar-benar Maha Adil?” STOP… pertanyaan konyol itu tiba-tiba muncul tetapi bukan untuk dijawab, hanya sebagai pelampiasan dengan keadaan hidup yang belum stabil. Karena jika tanya keadilan dan nikmatNya siapapun tak akan mampu menjawabnya. Jadi ingat ketika seorang ahli ibadah yang dikisahkan masuk surga karena rahmat dari Allah dan bukan karena dari ibadahnya sepanjang hidup. Dimana ketika ia menuntut meminta dimasukan surga karena amalannya maka ketika itu nikmat sebelah matanya saja ditimbang dan dibandingkan dengan pahala ibadahnya, maka sungguh masih lebih berat nikmat dari Allah yang sebelah matanya sekalipun.

Maka nalar saya mulai meluruskan niat, sadar bahwa diri sedang payah dalam hal syukur membuat saya balik, ingat motivasi-motivasi mengapa sekarang sudah ada pada titik ini, dan sadar betul bahwa hidup memang tidak semulus jalan tol. Ada saja rintangan, atau apapun itu namanya, yang jelas bukan untuk dikeluhkan, tetapi untuk disikapi dengan baik, dan kemudian dicari solusinya. Kalo kata guru saya pernah bilang “Sesuatu yang belum mampu diterima dengan baik biasanya akan terjadi berulang sampai benar-benar mampu diterima dan disikapi dengan baik” Nah, maka dari itu saya sedang belajar untuk menerima semua anugerahNya, baik yang berupa nikmat yang tak terhingga, ataupun dalam bentuk kesulitan yang membuat saya banyak belajar.

Kira-kira apa lagi ya yang membuat ruhiyah itu hilang??

Hm,, ruhiyah beribadah bisa hilang juga karena kecintaan terhadap dunia sehingga kita lalai terhadapNya, salat secepat kilat, buru-buru takut dunia hilang, dan sebagainya, kecintaan dunia itu seakan-akan mengaburkan esensi dari setiap apa yang kita lakukan. Ya, boleh jadi kita makan tapi tanpa esensi, cukup sekedar kenyang. Boleh jadi kita minum hanya sekedar penghilang haus. Apa esensi bahkan dari makan dan minum sekalipun? Pertanyaan ini menjadi menarik jika dipandang dari segi ruhiyah, yaa mau apalagi makan dan minum kecuali atas dasar rasa syukur atas nikmat dariNya. Kodrat manusia memang butuh makan dan minum, maka akan menjadi ibadah jika kita melakukannya sebagai bentuk syukur atas nikmat dariNya. Jadi bisa dibedakankan antara orang yang makan sekedar makan dengan orang yang makan tetapi penuh khidmat, jadi ingat perkataan Buya Hamka “Kalo kerja sekedar kerja maka monyet di hutan juga kerja” Jadi apa maksud Buya Hamka dengan pernyataan seperti itu ya? Silahkan dijawab sendiri.. Hehehee
Kita balik lagi ke pokok awal tentang kehilangan ruhiyah. Jadi kesimpulannya menyadari sesuatu adalah langkah awal untuk mengembalikan ruhiyah ibadah dan ruhiyah hidup. Setelah sadar maka keinginan untuk kembali kepadaNya yang harus ditekadkan dengan sungguh-sungguh. Karena sadar saja belum cukup, kita boleh ingat cerita tentang Iblis yang enggan sujud berlaku hormat kepada Nabi Adam, padahal Iblis sadar bahwa itu adalah perintah Allah Tuhan yang menciptakannya, tetapi kesadaran itu tidak membuat sang Iblis berlaku taat kepada Allah, malah durhaka sampai hari kiamat atau boleh kita lihat kisah seorang Fir’aun yang sadar bahwasanya Tuhan yang paling Haq adalah Tuhannya Musa. Allah Ta’ala. Tetapi kesadaran itu lantas tidak membuat Fir’aun dimasukan golongan orang-orang yang beruntung. Taubatnya tidak diterima. Karena baru sekedar kesadaran belum kepada tekad untuk memperbaiki semuanya. Sayangnya Fir’aun sudah tidak diberikan kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Kita tengok lagi kepada kisah Abu Thalib, paman Nabi yang melindungi Nabi dari masih kecil hingga masa dakwahnya. Abu Thalib sadar betul bahwa risalah yang dibawa keponakannya adalah kebenaran yang haq, tetapi kesadaran itu tidak lantas membuat Abu Thalib bersyahadat sampai akhir hayatnya.

Jadi kesimpulannya kesadaran itu penting dan yang lebih penting lagi adalah tekad untuk kemudian memperbaikinya.
Jadi apa yang saya lakukan setelah sadar sekarang, maka tekad ini semoga Allah teguhkan, memaksakan diri untuk tetap bergerak dalam ruhiyah kebaikan, terus dan terus……

Semoga bermanfaat untuk diri saya pribadi dan yang membacanya…
Cerita sehari-hari dari kehidupan pribadi..

Blablablaaa

Hujan rintik-rintik sore ini beralun klasik, mengingat masa di mana  sapi mengemuh, kambing mengembik, kuda mengikik, dan kita bersama terseok-seok dalam hati yg tercabik. Di dekapan mimpi yg terusik.

Hujan rintik-rintik sore ini bersamaan Adzan Maghrib, mengingat masa di mana kita berpeluh mengutuki nasib, ketika itu orang-orang sibuk menjejali kebohongan, dengan onar di mata, nanar di wajah, dan umpatan kata hajar yg berdebar. Sayangnya kita hanya diminta banyak bersabar.

Hujan rintik-rintik sore ini kita habiskan untuk berdoa. Seketika terdengar desir suara.
“Berdoalah.. Niscayaku perkenankan”
Apakah itu suara Tuhan?

Dalam rintik..
Menunggu kereta di Statiun Kalibata.

Kebetulan yang tidak kebetulan

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, bahkan daun yang jatuh sekalipun sudah ada catatannya, itulah yang sering kita sebut taqdir. Apa taqdir itu mutlaq atau fleksibel? Pertanyaan ini sudah terlontar dari zaman ke zaman, kita lihat ada yang namanya kaum Jabariyah dan Qadariyah di masa lalu di peradaban Islam. Tetapi saya tidak ingin membahas tentang perbedaan sudut pandang itu. Saya lebih ingin mengajak pembaca menyelami real kehidupan kita sekarang.

Kita tahu, biasanya binatangpun akan berkumpul dengan sesama jenisnya, maksudnya bukan laki sama lelaki, atau perempuan sama perempuan ya..! Tetapi boleh kita lihat pada burung kutilang yang berkumpul dengan jenisnya, yaitu sesama burung kutilang, burung jalak berkumpul sesama burung jalak, dan seterusnya. Maka, boleh jadi kita dipertemukan oleh getaran-getaran atau frekwensi yang sama, sebagaimana frekewensi yang mempertemukan burung kutilang dengan burung kutilang lainnya. Walau boleh jadi sebelumnya sama sekali tidak saling kenal, dan berjauhan, ya mungkin ini pula yang akhirnya disebut jodoh, orang yang seneng ngaji dipertemukan dengan orang yang sama, orang yang suka nulis dipertemukan dan ngumpul dengan orang yang sama, anehnya semua tidak lebih dahulu memandang orang mana, anak siapa dan sebagainya, semua guluy dalam dunianya yang sama, bukan malah mengutuki perbedaan-perbedaan yang ada.

Begitulah konsep taqdir yang saya pahami, bahwa sesungguhnya kita semua bertemu di sebuah komunitas atau di manapun adalah sesuai sunatullahNya, yang awalnya berasal dari getaran frekewensi yang sama. Boleh jadi kesulitan-kusulitan yang selama ini kita dapati pula berasal dari undangan diri kita yang berupa perasaan, perkataan ucapan yang disengaja atau tidak. Maka, konsep berpikir yang baik-baik, merasa yang baik-baik, dan berucap yang baik-baik boleh jadi akan mengundang segala yang baik-baik buat hidup kita.
Kita boleh tengok dengan dunia artis sekarang, banyak artis yang menyanyikan lagu-lagu galau dan pada kenyataan hidupnyapun terjadi demikian. Ay* Tingting pernah nghits dengan lagu Bang Toyibnya yang tidak pulang-pulang dan nyatanya itu terjadi dalam real kehidupannya. Suaminya tidak pulang-pulang. Dan masih banyak lagi contoh real yang silahkan teman-teman amati sendiri dalam hidup ini. Apa temen-temen punya cerita tersendiri mengenai hal-hal yang pernah terjadi dalam hidupnya, yang berawal berupa dari perasaan atau getaran-getaran yang akhirnya menghubungkan dengan kenyataan hidup? Silahkan diselami ya.. Hehehehe..

#Onedayonepost

Jual tutut dan Keong sawah

Anda membutuhkan keong sawah, keong emas dan tutut?

Atau butuh Udang sawah?
Kami siap melayani pemesanan keong emas dan tutut dalam jumlah besar atau sedikit. Minimal pemesanan bisa 5 kilo, bisa kami antar dengan dihitung ongkos kirimnya via GOJEK.
Untuk daerah Depok minimal 100 Kg kami berikan free ongkir (pemesanan kami antar langsung)

Harga 

Tutut Mentah 8000

Tutut sudah dipotong 10.000 

Tutut sudah rebus 13.000 

Tutut siap santap 15.000

Remis 13000

Remis matang 15000

Kijing 8000

Keong sawah 10.000
 Harga belum termasuk ongkir

 

Silahkan hubungi kami langsung untuk pemesanan Tutut
Bisa ke 0857-140-78-512 (SMS/Telpon/Whatsapp

 

keongsawah

Keong emas, atau keong sawah

tutut yang sudah matang tutut yang sudah matang

 

 harga mentah 13.000

tutut yang belum diolah

tutut yang belum diolah

Keong sawah harga 10 ribu

Kijing sawah…

Keong sawah perkilo 10 ribu