Kehilangan Ruhiyah

Apa teman-teman pernah melakukan Ibadah hanya sebagai rutinitas saja? Kalo jawabannya pernah maka sungguh saya juga pernah.

Beberapa hari ini saya kehilangan rasa, kehilangan ruhiyah kenikmatan dalam beribadah, malas sekali bangun subuh, boro-boro tahajud. Baca Al-masurat cuma sepotong-sepotong, kehilangan gairah. Mau ini malas, mau itu malas, yang bikin serem ternyata kehilangan ruhiyah ibadah bukan hanya membuat saya malas dalam beribadah saja, lebih parah lagi malah membuat saya merasa kehilangan ruhiyah hidup. Bahaya banget kan kalo gini… Ngelakuin ini itu rasanya malas, dan yang tak kalah gila rasa-rasanya pesimis sekali, seakan-akan melakukan apapun tak ada hasilnya. Payahhh, menjadi seperti looser. Pengecut.

Nah, karena itu hari ini saya ingin memutus mata rantai itu. Bagaimana ya caranya? Hmm… Setelah bertafakur sejenak dan memperhatikan segala aspek tentang asal-muasal bagaimana rasa itu bisa timbul maka yang pertama saya lakukan adalah mengidentifikasinya. Sekiranya Apa dan mengapa ini terjadi? Tentu semua ada sebabnya. Dan Alhamdulillah saya mendapat kesimpulan, tentu atas petunjukNya dengan wasilah beberapa sumber. Saya identifikasikan sebagai berikut:

Mengapa ruhiyah hilang?
Jawab: Ruhiyah beribadah hilang karena kurangnya kesadaran berupa “rasa syukur” atau seolah-olah menyaksikan ketidak ajaiban di hidup kita, dan malah melihat keajaiban pada orang lain, terutama masalah nikmat berupa kelebihan yang diberikanNya kepada orang lian. Maka hal ini seolah-olah kita menjadi merasa terzalimi oleh DIA, hidup jadi tidak beroleh syukur. Dan parahnya lagi timbul pertanyaan konyol “Apa DIA benar-benar Maha Adil?” STOP… pertanyaan konyol itu tiba-tiba muncul tetapi bukan untuk dijawab, hanya sebagai pelampiasan dengan keadaan hidup yang belum stabil. Karena jika tanya keadilan dan nikmatNya siapapun tak akan mampu menjawabnya. Jadi ingat ketika seorang ahli ibadah yang dikisahkan masuk surga karena rahmat dari Allah dan bukan karena dari ibadahnya sepanjang hidup. Dimana ketika ia menuntut meminta dimasukan surga karena amalannya maka ketika itu nikmat sebelah matanya saja ditimbang dan dibandingkan dengan pahala ibadahnya, maka sungguh masih lebih berat nikmat dari Allah yang sebelah matanya sekalipun.

Maka nalar saya mulai meluruskan niat, sadar bahwa diri sedang payah dalam hal syukur membuat saya balik, ingat motivasi-motivasi mengapa sekarang sudah ada pada titik ini, dan sadar betul bahwa hidup memang tidak semulus jalan tol. Ada saja rintangan, atau apapun itu namanya, yang jelas bukan untuk dikeluhkan, tetapi untuk disikapi dengan baik, dan kemudian dicari solusinya. Kalo kata guru saya pernah bilang “Sesuatu yang belum mampu diterima dengan baik biasanya akan terjadi berulang sampai benar-benar mampu diterima dan disikapi dengan baik” Nah, maka dari itu saya sedang belajar untuk menerima semua anugerahNya, baik yang berupa nikmat yang tak terhingga, ataupun dalam bentuk kesulitan yang membuat saya banyak belajar.

Kira-kira apa lagi ya yang membuat ruhiyah itu hilang??

Hm,, ruhiyah beribadah bisa hilang juga karena kecintaan terhadap dunia sehingga kita lalai terhadapNya, salat secepat kilat, buru-buru takut dunia hilang, dan sebagainya, kecintaan dunia itu seakan-akan mengaburkan esensi dari setiap apa yang kita lakukan. Ya, boleh jadi kita makan tapi tanpa esensi, cukup sekedar kenyang. Boleh jadi kita minum hanya sekedar penghilang haus. Apa esensi bahkan dari makan dan minum sekalipun? Pertanyaan ini menjadi menarik jika dipandang dari segi ruhiyah, yaa mau apalagi makan dan minum kecuali atas dasar rasa syukur atas nikmat dariNya. Kodrat manusia memang butuh makan dan minum, maka akan menjadi ibadah jika kita melakukannya sebagai bentuk syukur atas nikmat dariNya. Jadi bisa dibedakankan antara orang yang makan sekedar makan dengan orang yang makan tetapi penuh khidmat, jadi ingat perkataan Buya Hamka “Kalo kerja sekedar kerja maka monyet di hutan juga kerja” Jadi apa maksud Buya Hamka dengan pernyataan seperti itu ya? Silahkan dijawab sendiri.. Hehehee
Kita balik lagi ke pokok awal tentang kehilangan ruhiyah. Jadi kesimpulannya menyadari sesuatu adalah langkah awal untuk mengembalikan ruhiyah ibadah dan ruhiyah hidup. Setelah sadar maka keinginan untuk kembali kepadaNya yang harus ditekadkan dengan sungguh-sungguh. Karena sadar saja belum cukup, kita boleh ingat cerita tentang Iblis yang enggan sujud berlaku hormat kepada Nabi Adam, padahal Iblis sadar bahwa itu adalah perintah Allah Tuhan yang menciptakannya, tetapi kesadaran itu tidak membuat sang Iblis berlaku taat kepada Allah, malah durhaka sampai hari kiamat atau boleh kita lihat kisah seorang Fir’aun yang sadar bahwasanya Tuhan yang paling Haq adalah Tuhannya Musa. Allah Ta’ala. Tetapi kesadaran itu lantas tidak membuat Fir’aun dimasukan golongan orang-orang yang beruntung. Taubatnya tidak diterima. Karena baru sekedar kesadaran belum kepada tekad untuk memperbaiki semuanya. Sayangnya Fir’aun sudah tidak diberikan kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Kita tengok lagi kepada kisah Abu Thalib, paman Nabi yang melindungi Nabi dari masih kecil hingga masa dakwahnya. Abu Thalib sadar betul bahwa risalah yang dibawa keponakannya adalah kebenaran yang haq, tetapi kesadaran itu tidak lantas membuat Abu Thalib bersyahadat sampai akhir hayatnya.

Jadi kesimpulannya kesadaran itu penting dan yang lebih penting lagi adalah tekad untuk kemudian memperbaikinya.
Jadi apa yang saya lakukan setelah sadar sekarang, maka tekad ini semoga Allah teguhkan, memaksakan diri untuk tetap bergerak dalam ruhiyah kebaikan, terus dan terus……

Semoga bermanfaat untuk diri saya pribadi dan yang membacanya…
Cerita sehari-hari dari kehidupan pribadi..

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s