Arsip Bulanan: Mei 2016

Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Rembulan-tenggelam di wajahmu

Rembulan-tenggelam di wajahmu

Yaa Ampun, rasa-rasanya wajah saya ikut tenggelam bersama rembulan dan sosok Rey malam ini.
Bagaimana jika dalam hidup ini kita diberi kesempatan untuk mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan besar yang selama ini menjadi sesuatu yang amat kita pertanyakan dalam hidup?

Ray (tokoh utama) mendapat kesempatan itu, memperoleh jawaban-jawaban dari pertanyaan besarnya mengenai hidup. Adilkah hidup ini buat seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan yang pengurus pantinya adalah seorang yang dikenal sok suci? Hey, sudah berapa lama pertanyaan itu terus dilantunkan Ray? Seumur hidup, dan ketika umurnya mencapai 60 tahun Ray mendapatkan kesempatan yang amat hebat itu. Sosok orang yang mempunyai wajah menyenangkan datang dan menjelaskan banyak hal, tentang pertanyaan-pertanyaan dalam hidupnya. Ada 5 pertanyaan besar yang mengendap di pikiran Ray, dan secara terang benerang terjawab ketika masa-masa menjelang akhir hayatnya. Bagaimana bisa Ray mendapat kesempatan yang amat menakjubkan itu? Yaa, itu semua karena rembulan, rembulan yang ketika ia memandang maka membuatnya penuh syukur, memuji Tuhan. Bahwa selalu ada kepingan lain dalam hidup yang bisa untuk dinikmati. Sesederhana memandang rembulan.

Membaca novel ini membuat perasaan berkecamuk, terobrak-abrik emosi. Terkagum-kagum dengan kata-kata bijaknya, terinspirasi dan pemahaman yang membumi. Bahwa sesungguhnya kehidupan ini begitu sederhana, sesederhana garis-garis yang pada akhirnya membentuk sebuah lingkaran, saling berhubungan, saling berpengaruh satu sama lain. Pemahaman hukum sebab akibat yang mencerahkan.

“Bagi manusia, hidup itu juga sebab-akibat, Ray. Bedanya, bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi, kemudian entah pada siklus yang keberapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu…. Saling mempengaruhi, saling berinteraksi…. Sungguh kalau kulukiskan peta itu maka ia bagai bola raksasa dengan benang jutaan warna yang saling melilit, saling menjalin, lingkar-melingkar. Indah. Sungguh indah. Sama sekali tidak rumit.”

Pertanyaan-pertanyaan besar di novel ini bukan hanya menjawab pertanyaan Ray seorang. Tetapi pertanyaan orang kebanyakan. Saya, Anda, semua pasti pernah punya pikiran tentang “Adilkah hidup ini?” pertanyaan besar yang akhirnya terjawab, untuk Ray, dan untuk pembaca sekaligus.

“Begitulah kehidupan, Ada yang kita tahu, ada pula yang tidak kita tahu. Yakinlah, dengan ketidak-tahuan itu bukan berarti Tuhan berbuat jahat kepada kita. Mungkin saja Tuhan sengaja melindungi kita dari tahu itu sendiri.”
Sebenarnya pada saat pertama membaca saya agak kebingungan mencerna tentang sosok Rinai, yang akhirnya terjawab di akhir cerita. Siapa bocah umur 6 tahun yang sedang berada di ayunan sambil menangis itu? Nah, di saat yang sama Ray sedang koma di rumah sakit. Dan memang, kisah ini seperti sebuah gambaran besar kehidupan. Semua saling terkait, seperti sebuah peta yang terlihat rumit namun jika dilihat secara universal terlihat indah, saling membentuk satu sama lain. Hukum sebab akibat yang mencengangkan. Bahwa sesungguhnya memang tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua sudah digariskan oleh Tuhan. Takdir seseorang akan berpengaruh kepada takdir orang lain. Semua dikemas dengan sangat baik oleh Tere Liye. Pesan-pesan yang luar biasa. Setelah membaca buku ini jadi berkaca. Heyy? Apa pertanyaan besar dalam hidupmu? Sudah terjawabkah? Jika belum hayo mencari jawaban atasnya. Atau setidaknya bacalah buku ini, niscaya pola pikirmu akan semakin baik.

Saya kutip sebuah perumpamaan yang paling mengesankan dari novel ini.

Bayangkanlah sebuah kolam luas,
Kolam itu tenang,
saking tenangnya terlihat bak kaca.

Tiba-tiba hujan deras turun..
Bayangkan,
ada berjuta bulir air hujan yang jatuh di atas air kolam, membuat riak..
Jutaan rintik air yang terus-menerus berdatangan, membentuk riak, kecil-kecil memenuhi seluruh permukaan kolam…

Begitulah kehidupan ini,
bagai sebuah kolam raksasa.
Dan manusia bagai air hujan yang berdatangan terus-menerus, membuat riak..
Riak itu adalah gambaran kehidupannya.

Siapa yang peduli dengan sebuah bulir air hujan yang jatuh ke kolam, menit sekian, detik sekian? Ada jutaan bulir air hujan lain, bahkan dalam sekejap riak yang ditimbulkan tetes hujan barusan sudah hilang, terlupakan, tak tercatat dalam sejarah…

Siapa yang peduli dengan anak manusia yang lahir tahun sekian, bulan sekian, tanggal sekian, jam sekian, menit sekian, detik sekian? Ada miliaran manusia, dan bahkan dalam sekejap, nama, wajah, dan apalah darinya segera lenyap dari muka bumi! Ada seribu kelahiran dalam setiap detik, siapa yang peduli?
Itu jika engkau memandang kehidupan dari sisi yang amat negatif..

Kalau engkau memahaminya dari sisi positif,
maka kau akan mengerti ada yang peduli atas bermiliar-miliar bulir air yang membuat riak tersebut,
Peduli atas riak-riak yang kau timbulkan di atas kolam, sekecil atau sekejap apapun riak itu..

Dan saat kau menyadari ada yang peduli,
maka kau akan selalu memikirkan dengan baik semua keputusan yang akan kau ambil..
Sekecil apapun itu, setiap perbuatan kita memiliki sebab-akibat..

Siklus sebab-akibat itu sudah ditentukan..
Tak ada yang bisa mengubahnya, kecuali satu!
Yaitu Kebaikan..
Kebaikan bisa mengubah takdir..
Nanti engkau akan mengerti, betapa banyak kebaikan yang kau lakukan tanpa sengaja telah merubah siklus sebab-akibat milikmu..
Apalagi kebaikan-kebaikan yang memang dilakukan dengan sengaja..

Seseorang yang memahami siklus sebab-akibat itu,
Seseorang yang tahu bahwa kebaikan bisa mengubah siklusnya,
Maka dia akan selalu mengisi kehidupannya dengan perbuatan baik..
Mungkin semua apa yang dilakukannya terlihat sia-sia,
Mungkin apa yang dilakukannya terlihat tidak ada harganya bagi orang lain,
Tapi dia tetap mengisi sebaik mungkin…

Rekomendasi bagi buat teman-teman yang ingin mengenal lagi hidup, bahagia, kesedihan, kehilangan dan sebagainya.

Iklan

Ada yang berbeda rasanya

Ada yang berbeda rasanya, berdesir hati, ketika yang like statusku itu kamu.

Ya kamu, ingin sekali menyapa, bercerita banyak hal, tentang hujan atau hanya sekedar menanyakan kabar.

Ada yang berbeda rasanya, berjuta di hati, ketika yang memberikan jempol di statusku itu kamu.

Mungkin biasa saja, apalah arti sebuah like, hanya saja itu membuatku bersangka-sangka, menebak ke sana ke mari, tentu hati makin berbunga-bunga, seakan semua mempesona.

Tetapi, tetapi semakin kutebak semakin Aku tak berani, jantung serasa berhenti berdetak, gugup tak karuan, itu terjadi ketika kita sedang duduk bersebelahan, walau dalam sebuah sesi yang kebetulan, dan tak ada sapa atau kata hai. Sungguh itu pertama kalinya kita bertemu, setidaknya ketika umurmu mencapai 20an.

Ada yang berbeda rasanya, di hujan rintik, ketika malam-malam terselimuti gelap. Apakah kau mempunyai rasa yang sama, berharap hati bertautan dalam sebuah ikatan?

Maka malam ini kucoba pecahkan rasa penasaran itu. Dan heeeyy Apa kabar??

Doa, ucapan, pikiran dan perasaan

Apa yang terjadi pada diri kita sekarang adalah hasil repetisi doa-doa kita di masa lalu.

Doa yang dalam arti bukan hanya dari ucapan atau permintaan kita kepada Tuhan setelah melaksanakan Ibadah, tetapi tentang apa yang sering kita ucapkan, rasakan, atau berada di lintas pikiran dan juga perbuatan.

Semua tanpa kita sadari mewujud menjadi doa yang kemudian mengundang apa-apa yang ada pada diri kita sekarang.

Kita bisa tengok artis yang melantunkan lagu dangdut Bang Toyib nyata2 itu malah terjadi di kehidupannya. Tak pulang-pulang..

Apa itu sebuah kebetulan? Saya rasa tidak.

Jadi berhati2 lah dengan apa yang kita ucap, dengar, rasakan atau lakukan.

Maka konsep mendengarkan yg baik-baik berucap yg baik merasakan yg baik-baik melakukan yg baik-baik akan mengundang segala yg baik-baik kini tak terbantahkan.

Awas loh anak muda, jangan kebanyakan dengerin lagu galau.

Melawan Rasa Takut

Sejatinya saya adalah orang yang sangat penakut, ketika pertama kali dilahirkan saya menangis, merengek kencang ketakutan. Takut kalau-kalau kehidupan di dunia tidak lagi senyaman kehidupan di alam rahim. Takut kalau-kalau kehidupan dunia penuh dengan onak dan duri. Belum lagi beban sosial manusia yang hidup di dunia. Maka benar seseorang yang mengatakan. Beruntunglah dia yang meninggal ketika sejak bayi, karena tidak merasakan beban sosial yang berat ketika hidupnya. Ketika bayi dilahirkan maka sejatinya memang akan menanggung beban sosial yang berat. Kapan merangkak? Kapan bisa jalan?? Kapan Berbicara? Kapan bisa sekolah? Kerja apa? Kapan bisa baca? Kapan menikah? Kapan punya anak? Kapan dan kapan.. Kira-kira seperti itu. Beban-beban sosial itu seperti sebuah beban yang distandarkan oleh sebagian orang yang membuat sebagian kita banyak terbebani.

Ketika sudah bocah, saya bersyukur karena lahir dalam keadaan normal, punya kaki lengkap untuk berjalan, hidung lobangnya dua, mancung pula, mata dan telinga yang sempurna yang bisa digunakan untuk melihat, dan sebagainya. Tetapi kesempurnaan yang dianugerahkan Tuhan itu tidak melulu membuat saya banyak bersyukur ketika itu, saya jadi bocah minderan, takut, pencemas sejati. Ketika bocah saya selalu berlindung di belakang ayah dan bunda, menjadi anak terakhir dari 6 bersaudara membuat saya memang sedikit lebih dimanja. Tetapi hal seperti itu malah membuat saya menjadi seorang penakut, saya menjadi seorang yang sangat takut gelap, terutama karena cerita-cerita mistis mewarnai masa kecil saya ketika itu. Pernah pula melihat sosok berambut putih berada di kamar memanggil-manggil saya. Maka setelah kejadian itu saya seperti paranoid dengan gelap.

Sikap takut itu sejatinya normal, tetapi dilanda ketakutan sepanjang masa adalah kesalahan. Berarti ada yang salah pada diri seseorang ketika dia dilanda ketakutan yang berkepanjangan. Saya mulai membenahi diri ketika masuk Madrasah Aliyah, alhamdulillah melalui pendidikan agama di Madrasah Aliyah dan melalui ikut Pelajar Islam Indonesia saya yang ketika itu sangat penakut akhirnya memberanikan diri, melawan rasa takut. Saya sudah melepaskan diri dari rasa takut termasuk dari kungkungan gelap malam. Ikut pelatihan LDK di PKS (Partai Keadilan Sejahtera) ikut LBT di Pelajar Islam Indonesia dan kegiatan osis di sekolah sedikit banyak membuat berubah pandangan hidup ketika itu. Walau sejatinya ketakutan-ketakutan saya dalam hidup ini belum juga padam. Selalu ada takut-takut lain yang menghantui saya, mungkin juga ketakutan yang menghantui banyak orang, takut gagal, takut kehabisan rezeki, takut menikah, takut ini dan itu. Saya jadi teringat dengan pernyataan seorang teman yang mempunyai rumus jitu dalam melawan rasa takut, dia mempresepsikan rasa takut itu sebagai ilusi, kehidupan dunia juga ilusi, kalau bahasa Al-Quran kehidupan dunia ini adalah senda gurau yang nyata itu akherat, jadi ketakutan-ketakutan yang berupa ilusi itu tidak boleh menghentikan kita, kita tetap harus berjuang, sama seperti berjuangnya seorang bayi untuk belajar merangkak, berjalan, berbicara dan seterusnya. Boleh saja rasa takut itu berada di sanubari, tetapi rasa takut itu tidak boleh mengecilkan tujuan kita untuk berhasil, rasa takut itu tidak boleh mengkerdilkan kita yang mempunyai Iman mempunyai keyakinan terhadap Tuhan. Rasa takut itu tidak boleh membuat kita payah, pesimis dan sikaf negatif lainnya. Maka saya berkeyakinan rasa takut memang fitrah dari DIA tetapi kita selalu punya pilihan untuk diam atau melawan rasa takut. Bukankah manusia memang diciptakan menjadi makhluk pemilih.

Ngomong-ngomong rasa takut, saya dahulu takut banget sama jarum, tetapi sekarang mencoba berdamai dengannya. Saya memberanikan diri buat donor darah, dan sekarang sudah ke 5 kalinya. Melawan rasa takut sejatinya tidak seburuk apa yang kita pikirkan. Kalau Anda merasa takut, rumusnya cuma satu “Lawan” Bukan di hindari. Kalau tidak bisa juga, silahkan minta sama Allah diberi kekuatan untuk melawan rasa takut. Karena sejatinya DIAlah yang menguasai segenap rasa termasuk desiran di hati kita.

Dari seorang hamba yang masih begitu penakut
03 Mei 2016