Melawan Rasa Takut

Sejatinya saya adalah orang yang sangat penakut, ketika pertama kali dilahirkan saya menangis, merengek kencang ketakutan. Takut kalau-kalau kehidupan di dunia tidak lagi senyaman kehidupan di alam rahim. Takut kalau-kalau kehidupan dunia penuh dengan onak dan duri. Belum lagi beban sosial manusia yang hidup di dunia. Maka benar seseorang yang mengatakan. Beruntunglah dia yang meninggal ketika sejak bayi, karena tidak merasakan beban sosial yang berat ketika hidupnya. Ketika bayi dilahirkan maka sejatinya memang akan menanggung beban sosial yang berat. Kapan merangkak? Kapan bisa jalan?? Kapan Berbicara? Kapan bisa sekolah? Kerja apa? Kapan bisa baca? Kapan menikah? Kapan punya anak? Kapan dan kapan.. Kira-kira seperti itu. Beban-beban sosial itu seperti sebuah beban yang distandarkan oleh sebagian orang yang membuat sebagian kita banyak terbebani.

Ketika sudah bocah, saya bersyukur karena lahir dalam keadaan normal, punya kaki lengkap untuk berjalan, hidung lobangnya dua, mancung pula, mata dan telinga yang sempurna yang bisa digunakan untuk melihat, dan sebagainya. Tetapi kesempurnaan yang dianugerahkan Tuhan itu tidak melulu membuat saya banyak bersyukur ketika itu, saya jadi bocah minderan, takut, pencemas sejati. Ketika bocah saya selalu berlindung di belakang ayah dan bunda, menjadi anak terakhir dari 6 bersaudara membuat saya memang sedikit lebih dimanja. Tetapi hal seperti itu malah membuat saya menjadi seorang penakut, saya menjadi seorang yang sangat takut gelap, terutama karena cerita-cerita mistis mewarnai masa kecil saya ketika itu. Pernah pula melihat sosok berambut putih berada di kamar memanggil-manggil saya. Maka setelah kejadian itu saya seperti paranoid dengan gelap.

Sikap takut itu sejatinya normal, tetapi dilanda ketakutan sepanjang masa adalah kesalahan. Berarti ada yang salah pada diri seseorang ketika dia dilanda ketakutan yang berkepanjangan. Saya mulai membenahi diri ketika masuk Madrasah Aliyah, alhamdulillah melalui pendidikan agama di Madrasah Aliyah dan melalui ikut Pelajar Islam Indonesia saya yang ketika itu sangat penakut akhirnya memberanikan diri, melawan rasa takut. Saya sudah melepaskan diri dari rasa takut termasuk dari kungkungan gelap malam. Ikut pelatihan LDK di PKS (Partai Keadilan Sejahtera) ikut LBT di Pelajar Islam Indonesia dan kegiatan osis di sekolah sedikit banyak membuat berubah pandangan hidup ketika itu. Walau sejatinya ketakutan-ketakutan saya dalam hidup ini belum juga padam. Selalu ada takut-takut lain yang menghantui saya, mungkin juga ketakutan yang menghantui banyak orang, takut gagal, takut kehabisan rezeki, takut menikah, takut ini dan itu. Saya jadi teringat dengan pernyataan seorang teman yang mempunyai rumus jitu dalam melawan rasa takut, dia mempresepsikan rasa takut itu sebagai ilusi, kehidupan dunia juga ilusi, kalau bahasa Al-Quran kehidupan dunia ini adalah senda gurau yang nyata itu akherat, jadi ketakutan-ketakutan yang berupa ilusi itu tidak boleh menghentikan kita, kita tetap harus berjuang, sama seperti berjuangnya seorang bayi untuk belajar merangkak, berjalan, berbicara dan seterusnya. Boleh saja rasa takut itu berada di sanubari, tetapi rasa takut itu tidak boleh mengecilkan tujuan kita untuk berhasil, rasa takut itu tidak boleh mengkerdilkan kita yang mempunyai Iman mempunyai keyakinan terhadap Tuhan. Rasa takut itu tidak boleh membuat kita payah, pesimis dan sikaf negatif lainnya. Maka saya berkeyakinan rasa takut memang fitrah dari DIA tetapi kita selalu punya pilihan untuk diam atau melawan rasa takut. Bukankah manusia memang diciptakan menjadi makhluk pemilih.

Ngomong-ngomong rasa takut, saya dahulu takut banget sama jarum, tetapi sekarang mencoba berdamai dengannya. Saya memberanikan diri buat donor darah, dan sekarang sudah ke 5 kalinya. Melawan rasa takut sejatinya tidak seburuk apa yang kita pikirkan. Kalau Anda merasa takut, rumusnya cuma satu “Lawan” Bukan di hindari. Kalau tidak bisa juga, silahkan minta sama Allah diberi kekuatan untuk melawan rasa takut. Karena sejatinya DIAlah yang menguasai segenap rasa termasuk desiran di hati kita.

Dari seorang hamba yang masih begitu penakut
03 Mei 2016

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s