Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Rembulan-tenggelam di wajahmu

Rembulan-tenggelam di wajahmu

Yaa Ampun, rasa-rasanya wajah saya ikut tenggelam bersama rembulan dan sosok Rey malam ini.
Bagaimana jika dalam hidup ini kita diberi kesempatan untuk mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan besar yang selama ini menjadi sesuatu yang amat kita pertanyakan dalam hidup?

Ray (tokoh utama) mendapat kesempatan itu, memperoleh jawaban-jawaban dari pertanyaan besarnya mengenai hidup. Adilkah hidup ini buat seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan yang pengurus pantinya adalah seorang yang dikenal sok suci? Hey, sudah berapa lama pertanyaan itu terus dilantunkan Ray? Seumur hidup, dan ketika umurnya mencapai 60 tahun Ray mendapatkan kesempatan yang amat hebat itu. Sosok orang yang mempunyai wajah menyenangkan datang dan menjelaskan banyak hal, tentang pertanyaan-pertanyaan dalam hidupnya. Ada 5 pertanyaan besar yang mengendap di pikiran Ray, dan secara terang benerang terjawab ketika masa-masa menjelang akhir hayatnya. Bagaimana bisa Ray mendapat kesempatan yang amat menakjubkan itu? Yaa, itu semua karena rembulan, rembulan yang ketika ia memandang maka membuatnya penuh syukur, memuji Tuhan. Bahwa selalu ada kepingan lain dalam hidup yang bisa untuk dinikmati. Sesederhana memandang rembulan.

Membaca novel ini membuat perasaan berkecamuk, terobrak-abrik emosi. Terkagum-kagum dengan kata-kata bijaknya, terinspirasi dan pemahaman yang membumi. Bahwa sesungguhnya kehidupan ini begitu sederhana, sesederhana garis-garis yang pada akhirnya membentuk sebuah lingkaran, saling berhubungan, saling berpengaruh satu sama lain. Pemahaman hukum sebab akibat yang mencerahkan.

“Bagi manusia, hidup itu juga sebab-akibat, Ray. Bedanya, bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi, kemudian entah pada siklus yang keberapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu…. Saling mempengaruhi, saling berinteraksi…. Sungguh kalau kulukiskan peta itu maka ia bagai bola raksasa dengan benang jutaan warna yang saling melilit, saling menjalin, lingkar-melingkar. Indah. Sungguh indah. Sama sekali tidak rumit.”

Pertanyaan-pertanyaan besar di novel ini bukan hanya menjawab pertanyaan Ray seorang. Tetapi pertanyaan orang kebanyakan. Saya, Anda, semua pasti pernah punya pikiran tentang “Adilkah hidup ini?” pertanyaan besar yang akhirnya terjawab, untuk Ray, dan untuk pembaca sekaligus.

“Begitulah kehidupan, Ada yang kita tahu, ada pula yang tidak kita tahu. Yakinlah, dengan ketidak-tahuan itu bukan berarti Tuhan berbuat jahat kepada kita. Mungkin saja Tuhan sengaja melindungi kita dari tahu itu sendiri.”
Sebenarnya pada saat pertama membaca saya agak kebingungan mencerna tentang sosok Rinai, yang akhirnya terjawab di akhir cerita. Siapa bocah umur 6 tahun yang sedang berada di ayunan sambil menangis itu? Nah, di saat yang sama Ray sedang koma di rumah sakit. Dan memang, kisah ini seperti sebuah gambaran besar kehidupan. Semua saling terkait, seperti sebuah peta yang terlihat rumit namun jika dilihat secara universal terlihat indah, saling membentuk satu sama lain. Hukum sebab akibat yang mencengangkan. Bahwa sesungguhnya memang tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua sudah digariskan oleh Tuhan. Takdir seseorang akan berpengaruh kepada takdir orang lain. Semua dikemas dengan sangat baik oleh Tere Liye. Pesan-pesan yang luar biasa. Setelah membaca buku ini jadi berkaca. Heyy? Apa pertanyaan besar dalam hidupmu? Sudah terjawabkah? Jika belum hayo mencari jawaban atasnya. Atau setidaknya bacalah buku ini, niscaya pola pikirmu akan semakin baik.

Saya kutip sebuah perumpamaan yang paling mengesankan dari novel ini.

Bayangkanlah sebuah kolam luas,
Kolam itu tenang,
saking tenangnya terlihat bak kaca.

Tiba-tiba hujan deras turun..
Bayangkan,
ada berjuta bulir air hujan yang jatuh di atas air kolam, membuat riak..
Jutaan rintik air yang terus-menerus berdatangan, membentuk riak, kecil-kecil memenuhi seluruh permukaan kolam…

Begitulah kehidupan ini,
bagai sebuah kolam raksasa.
Dan manusia bagai air hujan yang berdatangan terus-menerus, membuat riak..
Riak itu adalah gambaran kehidupannya.

Siapa yang peduli dengan sebuah bulir air hujan yang jatuh ke kolam, menit sekian, detik sekian? Ada jutaan bulir air hujan lain, bahkan dalam sekejap riak yang ditimbulkan tetes hujan barusan sudah hilang, terlupakan, tak tercatat dalam sejarah…

Siapa yang peduli dengan anak manusia yang lahir tahun sekian, bulan sekian, tanggal sekian, jam sekian, menit sekian, detik sekian? Ada miliaran manusia, dan bahkan dalam sekejap, nama, wajah, dan apalah darinya segera lenyap dari muka bumi! Ada seribu kelahiran dalam setiap detik, siapa yang peduli?
Itu jika engkau memandang kehidupan dari sisi yang amat negatif..

Kalau engkau memahaminya dari sisi positif,
maka kau akan mengerti ada yang peduli atas bermiliar-miliar bulir air yang membuat riak tersebut,
Peduli atas riak-riak yang kau timbulkan di atas kolam, sekecil atau sekejap apapun riak itu..

Dan saat kau menyadari ada yang peduli,
maka kau akan selalu memikirkan dengan baik semua keputusan yang akan kau ambil..
Sekecil apapun itu, setiap perbuatan kita memiliki sebab-akibat..

Siklus sebab-akibat itu sudah ditentukan..
Tak ada yang bisa mengubahnya, kecuali satu!
Yaitu Kebaikan..
Kebaikan bisa mengubah takdir..
Nanti engkau akan mengerti, betapa banyak kebaikan yang kau lakukan tanpa sengaja telah merubah siklus sebab-akibat milikmu..
Apalagi kebaikan-kebaikan yang memang dilakukan dengan sengaja..

Seseorang yang memahami siklus sebab-akibat itu,
Seseorang yang tahu bahwa kebaikan bisa mengubah siklusnya,
Maka dia akan selalu mengisi kehidupannya dengan perbuatan baik..
Mungkin semua apa yang dilakukannya terlihat sia-sia,
Mungkin apa yang dilakukannya terlihat tidak ada harganya bagi orang lain,
Tapi dia tetap mengisi sebaik mungkin…

Rekomendasi bagi buat teman-teman yang ingin mengenal lagi hidup, bahagia, kesedihan, kehilangan dan sebagainya.

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di Review Buku dan tag , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Rembulan Tenggelam di Wajahmu

  1. tamanhijau90 berkata:

    Kerenn mas… Hehehee

  2. Fasya El-Syahid berkata:

    pinjam novelnya… hehehe

  3. Irma Susanti berkata:

    Novel ini memang bagus. Menghipnotis saya untuk tidak berhenti membacanya. Alurnya membuat pembaca menjadi penasaran. Bang Tere liye memang luar biasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s