Jalan Kaki Menuju 135 kilo Tajurhalang-Bandung

Perjalanan ini sebenarnya sudah kami sebut-sebut sebulan sebelumnya, tetapi karena posisi Syafe’i teman seperjalanan saya mengajar sekolah maka diputuskan untuk waktu belum bisa diperkirakan, kemungkinan saat itu adalah Januari 2017, karena pas dengan momen liburan anak sekolah. Tetapi sekonyong-konyong pada hari rabu 07 Desember Syafe’i mengirimkan pesan WA ke Saya yang intinya kalo dia siap jalan hari Jumat tanggal 09 Desember. Dan tanpa berpikir panjang sayapun langsung mengiyakan.

Mengawali perjalanan dengan bismillah

Mengawali perjalanan dengan bismillah

Hari pertama perjalanan kami berangkat jam 08:00 pagi, tidak ada yang istimewa kecuali perasaan bahagia di hati, seumur-umur rasa-rasanya baru melakukan perjalanan jauh, itu perasaan yang membuncah. Sampai daerah tonjong malah kami nyasar ke sana sini, lewat sawah, lewat rumah-rumah dan akhirnya tembus juga di jalan raya Kemang. Kesadaran yang menghantam ketika sampai Yasmin adalah ternyata kalo jalan kaki itu capek, panas dan waktu berjalan seakan-akan lamban, dan ini menjadi lebih menarik, ketika kau bisa memperhatikan sesuatu dengan lebih detail, pelan dan tak terburu-buru, semua serasa menyejukan. Semut yang saling bersalaman di jalanpun bisa terlihat jelas, gerimis-gerimis penghujan serasa titik kesejukan, dan bunga yang kuncup bermekaran menjadi pemandangan keajaiban. Heey….” Yaaa Ampyun… Sudah berapa lama kamu tidak memperhatikan detail-detail kecil dalam kehidupan?” Pekik saya dalam hati…

Daerah Pasar selasa tajurhalang

Daerah Pasar selasa tajurhalang

Sawah daerah tonjong kemang

Sawah daerah tonjong kemang

Titik pemberhentian pertama adalah di daerah Atang Sanjaya di sebuah masjid kami istirahat dan shalat dhuha, beli air dan kemudian jalan lagi. Hari semakin siang, tentu menjadi semakin panas dan satu lagi… Lapeeerr… Yaa… Laperrr, sekitar jam 11 saya makan ketoprak sambil ngobrol sama Ibu-Ibu yang jualan. Katanya kemarin ada tawuran anak-anak SMA yang pakai celurit sampai bacok-bacokan, gak lama Ibu-Ibu cerita, ehhh ada tawuran di seberang jalan, anak SMP maen kejar-kejaran. Disabet-sabetin sama tukang matrial supaya pada bubar, dan memang terlihat pada bubar. Daerah Atang sanjaya sampai Yasmin sini memang sering ada bocah-bocah pada tawuran, mengenaskan ya, kondisi para penerus bangsa sekarang, jika diisi dengan ribut-ribut ngga karuan. Dan anehnya saya malah asik makan, tidak peduli dengan hal demikian. Jadi mana yang lebih miris??

di jalan kemang atang sanjaya

di jalan kemang atang sanjaya

saya-di-jalan-kemang

Lupakan tentang tawuran, saya buru-buru mencari masjid terdekat, karena ini hampir waktu jumatan, dapatlah Masjid di daerah Kedung Waringin. Maklumat diperdengarkan tanda hampir masuk waktu Shalat Jumat,. Bahasa Sunda, tentu saya tidak begitu familiar apalagi buat  mengerti. Kosakata bahasa sunda saya cuma sedikit doang, itupun cuma denger dari teman yang kebetulan orang Jawa Barat. Ohh iya, saya juga orang Jawa Barat, tepatnya kabupaten bogor Tajurhalang, hanya saja kalo melihat kesukuan di tempat saya lebih kepada betawi pinggiran, mungkin ini yang disebut betawi Parung. Hehehee.. Pernah denger?? Hayoo mending kita kenalan…

Di daerah atangsanjaya

Di daerah atangsanjaya

Setelah shalat Jumat saya dan Syafei tidur-tiduran, dan diajak ngobrol DKM setempat, dikasih air dan pisang. Dulu katanya masjid ini didirikan tahun 65, lama kali ya… Hm, dan perbaikan pada tahun 85, katanya yang bantu perbaikan adalah orang tahanan yang dikerahkan sama tentara dan kepolisian. Dan tahanan itu kebanyakan adalah tahanan yang tersangkut kasus PKI. Terakhir kami dapat wejengan dari DKM Masjid, sambil jalan disuruh dzikir terus, sebagaimana para malaikat pemanggul arasy. Dan kamipun mengiyakan, dan salam sebagai tanda perpisahan. Terima kasih pak, saya belajar..

Jam 01 siang perjalanan kami lanjutkan. Siang yang panas, godaan es dawet mengelegar di dada, tetapi saya memilih beli gorengan karena masih lapar. Makan ketoprak di Yasmin sepertinya harus dipikirkan ulang, karena ketopraknya sedikit dan perut saya besar, hahaha… Pas lewat warung nasi rasanya ingin mampir lagi, tetapi itu semua saya kesampingkan. Waktunya berjalan selangkah demi langkah. Sampai di daerah cimanggu jalan tentara pelajar saya dapet foto ini..

Bocah

Bocah

 

Bocah ini larak lirik ke saya beberapa kali, tetapi saya cuek cuma ambil gambar. Hm….

Perjalanan terus dilanjutkan, pemberhentian berikutnya adalah di waktu Ashar, dapatlah di sebuah masjid di daerah Paledang, saya Shalat, numpang mandi dan kemudian caw, cabut lagi lewat tanjakan empang. Saya belum pernah masuk berziarah ke dalamnya, dan niat hati sekalian ziarah tapi Syafei bilang nanti saja, kita akhirnya melanjutkan perjalanan, melewati rel kereta yang ke arah Sukabumi. Nah ini gambarnya….

Rel Paledang dekat tanjakan empang

Rel Paledang dekat tanjakan empang

 

Begitu banyak anak-anak yang main layang-layang, atau ada yang sekedar nongkrong duduk-duduk manis di rel, kalo saya ngeri, loh ini kan rel kereta aktif. Syafei bilang mungkin penduduk sekitar tahu waktu kapan kereta lewat, dan saya cuma mampu mengiyakan, hehehe… Atau mungkin ada pertanda lain? Saya tidak tahu…

Melewati tanjakan empang, di sini banyak wajah-wajah timur tengah, ganteng dan cantik-cantik  ya mereka ini, rata-rata mereka punya usaha dagang macam-macam, ada minyak wangi sampai toko herbal, semangat berdagangnya patut di contoh, terutama buat pribumi kita sendiri yang kebanyakan hanya menjadi penonton, atau pembeli konsumtif tanpa produktif, hehehee… Yaa sudahlah… Mari lanjutkan perjalanan… Ambil pelajaran, ambil pelajaran, ambil pelajaran…

Jalan kembali lanjut ke Batu Tulis, sebenarnya penasaran gimana si aslinya bentuk batu tulis itu, selama ini cuma tahu lihat di google, hehehe… Sayangnya pas di sana juga tidak menuju situsnya, kami memilih melanjutkan perjalanan. Dan sampai maghrib di Tajur, inaplah kita di sebuah masjid, izin ke DKM, dan ngobrol ini itu, katanya kalo ke Bandung jaraknya masih 100 kiloan lagi. Hmm… berarti jauh banget… Saya pikir apa bisa sampai hari minggu. Kayanya ngga mungkin.

Dan setelahnya kamipun lelap dalam tidur…..

 

Lanjut cerita ke bagian 2 ya…

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s