Ulasan Novel Rindu (Tere Liye)

Judul: Rindu
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Dimensi: ii + 544 hlm; 13,5 x 20,5 cm; cetakan XL oktober 2016
ISBN: 978 602 8997 90 4

Saya nyaris saja terjebak dari judul novel ini. Rindu, saya kira novel ini akan bercerita sepenuhnya tentang romantika antara pasangan, cinta-cintaan. Tapi nyatanya tidak, buku ini menyajikan lebih dari itu. Memang, ada cerita sosok ambu uleng dan Mbah Kakung yang berhubungan dengan romantika. Tapi inti dari Rindu di buku ini melebihi dari sekedar hubungan cinta antara laki-laki dan perempuan.
Bersetting di kapal laut BLITAR HOLLAND, kapal yang diperuntukan untuk mengantar Ibadah Haji oleh pemerintah Hindia Belanda ketika itu. Buku ini tidak hanya sedang menceritakan perjalanan haji. Tapi lebih besar lagi, buku ini sedang menceritakan perjalanan hidup dan pertanyaan-pertanyaan besar di dalamnya.
Berikut kutipan-kutipan yang saya rangkum dari buku ini.
“Setiap perjalanan selalu disertai oleh pertanyaan-pertanyaan…

Sayangnya, lazimnya sebuah pertanyaan, maka tidak otomatis selalu ada jawabannya. Terkadang, tidak ada jawabannya. Pun penjelasannya.” (Hlm. 222)
“Tapi kembali lagi ke soal taqdir tadi, mulailah menerimanya dengan lapang hati. Karena kita mau menerima atau menolaknya, dia tetep terjadi. Taqdir tidak pernah bertanya apa perasaan kita, apakah kita bahagia, apakah kita tidak suka. Taqdir bahkan basa basi menyapa pun tidak. Tidak peduli. Kabar baiknya, karena kita tidak bisa mengendalikan nya, bukan berarti kita menjadi mahkluk tidak berdaya. Kita tetap bisa mengendalikan diri sendiri bagaimana menyikapinya. Apakah bersedia menerima, atau malah mendustakannya.” (hlm 471)
“Perjalanan hidupmu boleh jadi jauh sekali. Hari demi hari, hanyalah pemberhentian kecil. Bulan demi bulan, itu pun sekadar pelabuhan sedang. Pun tahun demi tahun, mungkin bisa kita sebut dermaga transit besar. Tapi, itu semua sifatnya adalah pemberhentian. Dengan segera, kapal kita berangkat kembali, menuju tujuan yang paling hakiki. Maka jangan pernah merusak diri sendiri. Jangan rusak kapal kehidupan milikmu, hingga ia tiba di pelabuhan terakhirnya.” (Hlm. 284)
“Lihatlah seorang yang selalu pandai menjawab pertanyaan orang lain, tapi dia tidak pernah bisa menjawab pertanyaannya sendiri. Lihatlah seorang yang selalu punya kata bijak untuk orang lain, tapi dia tak pernah bisa bijak untuk dirinya sendiri. Sungguh boleh jadi dialah orang paling munafik…” (Hlm 316)
“Selalu menyakitkan saat kita membenci sesuatu. Apalagi jika itu ternyata membenci orang yang seharusnya kita sayangi. Ada orang-orang yang kita benci. Ada pula orang-orang yang kita sukai. Hilir mudik datang dalam kehidupan kita. Ketahuilah, Nak, saat kita memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah dan kita benar. Apakah orang itu jahat atau tidak. Bukan itu. Tetapi kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian dalam hati.” (hlm 372)
“Wahai laut yang temaram, apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami? 
Wahai laut yang lengang, apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan? 
Wahai laut yang sunyi, apalah arti cinta, ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami tertunduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tak menuntut apa pun? 
Wahai laut yang gelap, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.” (hlm 494)
“Perjalanan haji adalah perjalanan penuh kerinduan, Ambo. Berjuta orang pernah melakukannya. Dan besok lusa, berjuta orang lagi akan terus melakukannya. Menunaikan perintah agama sekaligus mencoba memahami kehidupan lewat cara terbaiknya.”
Novel yang menggugah, membaca novel ini membuat ghirah kemerdekaan sekaligus kerinduan akan tanah suci itu berdebam, menelusuri setiap relung hati, berdesir menghujami setiap aliran darah. Membaca novel ini saya dibuat menangis karena kerinduan, tersenyum akan banyak pemahaman baik, dan berdebar akan perjuangan. Novel yang mengesankan…
Secara keseluruhan novel ini bercerita tentang perjalanan haji dengan kapal laut di tahun 1937 an di mana perjalanan itu melahirkan lima pertanyaan besar dalam hidup, yang masing-masing dibawakan lima tokoh dengan masa lalu yang berbeda. Bonda Upe, dengan masa lalunya yang kelam. Daeng Andipati, dengan kebenciannya yang mendalam pada ayahnya. Mbah kakung, dengan kehilangan kekasih hati. Ambo Uleng, dengan melepaskan cinta sejati. Terakhir Gurutta Ahmad Karaeng, dengan pergumulan batinnya akan dakwahnya dan kemunafikan. Lima kisah, lima pertanyaan, dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan… menuju rumah Allah. Berlatar belakang tahun-tahun pergolakan dan perjuangan kemerdekaan…
Novel tere liye, selalu punya pesan pemahaman baik dalam prinsip-prinsip hidup. 

Rekomen buat dibaca untuk generasi muda yang lebih baik.
Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

Iklan

Tentang Irman

Absurd, tapi punya fisik nyata, bisa dilihat, diraba, diplototin, sekaligus bikin ngangenin banyak orang.. Ciyuss
Pos ini dipublikasikan di Review Buku. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s