​LIDAH TAK BERTULANG

Lidah tak bertulang, begitu peribahasa yang sering kita dengar. Kita sering dengar sebuah ungkapan bijak yang bilang “Keselamatan seorang Insan adalah dari menjaga lidahnya” Berapa banyak orang yang saling berkelahi adu fisik yang berawal dari saling memaki, saling mengumpat, tak mampu menjaga lidahnya. Berapa banyak orang yang malah saling bunuh yang kalo dipikir berawal dari hal dan kata-kata sepele. Dan begitu banyak ini itu yang berawal dari ketidakmampuan menjaga lidah.

Akhir-akhir ini kita semua tahu tentang kasus Pak Ahok, Guberner DKI yang sedang booming dengan kasusnya. Lidah tak bertulang, sepertinya kata-kata itu pantas dinisbatkan dalam kasus ini. Bukan hanya tentang kasus pelecehan agama, Ahok secara pribadi memang dianggap tidak bisa menahan lidahnya. Seorang Ibu pernah dicaci maki di depan publik,yang membuat banyak orang geram. Bahkan disebuah siaran live televisi Ahok pernah menghina dan mengeluarkan kata-kata kotor yang membuat Statiun Tv tersebut terkena teguran dari KPI. 

Lidah tak bertulang, peribahasa itu tidak hanya untuk berlaku untuk satu orang, banyak peristiwa di sekitar kita yang berawal dari ketidakmampuan menjaga lidah. Korbannya bisa siapa saja, bahkan termasuk orang yang tidak bersalah sama sekali. Itu yang menimpa Isan Harianto (alm), warga Prabumulih, Sumatera Selatan, tahun lalu. Sepulang dari berdagang di pasar, Isan hendak menunaikan sholat isya di masjid bersama temannya, Hendri. Karena masjid sedang ramai, mereka memutuskan untuk pulang. Ketika Isan sedang mengeluarkan sepeda motor Hendri dari halaman masjid, terdengar teriakan, ”Pencuri, pencuri…” Spontan massa berdatangan, mengeroyok dua sahabat ini. Upaya Hendri menunjukkan STNK dan SIM miliknya sia-sia. Massa kian beringas. Sepeda motor hangus terbakar, Hendri terluka parah, dan nyawa Isan tak tertolong. 

Isan memang terbukti tak bersalah, tapi nyawanya tak bisa dikembalikan. Begitu keluar melewati dua bibir kita, kata-kata bisa berubah menjadi deskripsi, persuasi, agitasi, atau provokasi. Repotnya, dampak dari ucapan tak sepenuhnya bisa direvisi. 

Ketika sadar bahwa kata-kata kita menyinggung perasaan orang, kita memang bisa mengatakan, ”Maafkan saya.” Dia mungkin akan memaafkan, tapi sakit hatinya sulit diobati secepat itu. Ketika ditanya siapa dan apakah sudah memaafkan orang yang menggulingkannya ketika menjadi presiden gusdur pernah bilang “Saya maafkan, tapi belum bisa melupakan” 

Alkisah, seorang anak yang selalu marah-marah tiap hari telah menyusahkan banyak orang. Sang Bapak yang bijak mencoba mengatasinya. 

”Anakku, lampiaskanlah kemarahanmu dengan menancapkan paku di kamarmu,” kata sang Bapak. Anak itu mematuhinya. Pada hari dia marah, dia tancapkan satu paku di kamarnya. Bagitu seterusnya, hingga kamarnya penuh dengan paku. ”Nak, sakarang belajarlah mengendalikan amarah,” kata sang Bapak. ”Pada hari kau berhasil mengendalikan amarahmu, cabutlah satu paku yang tertancap kamarmu.” Sekali lagi anak itu menurut. Dia sungguh-sungguh berupaya mengendalikan amarah. 

Dia berhasil. Satu hari tidak marah, satu paku dicabutnya. Begitu seterusnya, hingga semua paku lenyap dari kamarnya. Bapaknya tersenyum, bangga. ”Nak, kau telah berhasil mengendalikan dirimu,” pujinya. ”Paku-paku itu telah hilang dari kamarmu. Tapi lihatlah, bekas-bekasnya tak bisa kau hilangkan.”

Bapak bijak itu ingin mengajarkan pada anaknya, bahwa selalu ada dampak dari setiap tindakan. ”Kau memang telah memperbaiki sikapmu, tapi akibatnya pada orang lain tak bisa kau hilangkan.” Memang, maaf tak menyembuhkan luka. ”To forgive but not to forget,” kata orang Inggris. Kita dapat memaafkan kesalahan orang lain, tetapi tak dapat melupakannya.
Disadur dari Buku *Lidah tak bertulang karya Pak Edi 

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke ​LIDAH TAK BERTULANG

  1. Ida Raihan berkata:

    Kasihan amat Isan dan Hendri. Itulah kalo masyarakat suka bertindak sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s