Surat untuk calon Anakku.

Heyy, apa kabar nak kau hari ini? Semoga Allah selalu melimpahkan rahmatNya untukmu dan untuk kita semua. Sebenarnya pagi ini, ayah merindukanmu, atau lebih tepatnya di kepala ayah bertanya-tanya, sedang apa kau di alam sana? Kapan waktu tepat untuk kau berada di sini? Di pangkuan Ayah.  Hm, Ayahmu ini sedang memperjuangkan calon Ibumu nak, doakan dari alam sana, supaya Ayah dan calon Ibumu ini berjodoh dan dari rahimnyalah kau bisa lahir. Kau mau kenal dengan calon Ibumu nak? Baiklah, ayah akan ceritakan. Calon Ibumu adalah sosok luarbiasa, dia lahir dan besar di Batangtoru medan sana nak. Umurnya lebih muda 2 tahun dari ayah, Calon Ibumu ini besar di pesantren dari Mts sampai MA, lalu kemudian merantau menjadi anak kuliahan di UIN Ciputat.  Namanya F….., tapi baiklah, kita tidak sedang membicarakan sebuah nama. Jika Ayah ini belum pernah kemana-mana, Ibumu itu sudah 3 kali ke Mekkah nak, kota suci, mungkin di alam sana kau mendapat cerita tentang kota ini? Kota penegakan kalimat tauhid pertama dalam agama kita nak. Kau pasti mengerti sekali tentang tauhid, karena di alam sana, semua masih murni, tidak tercampur dengan sesuatu apapun. Jadi, setidaknya ayah bisa menerka dari surat Al-araf ini nak.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS. Al-A’raf : 172)

Nanti, ketika sudah besar kau harus berpegang teguh dengan kalimat tauhid ini ya nak. Kembali tentang calon ibumu nak, ayah sedang memperjuangkannya, bermaksud hati untuk meminangnya. Ayah punya alasan kuat mengapa memilih calon ibumu ini. Dia secara wawasan bahkan di atas ayah nak, pernah ke Tiongkok, Malaysia, 3 kali ke Mekkah, mengerti dunia pengembangan diri. Mengerti dunia parenting, dan ayah percaya, akan ada sosok ibu yang luarbiasa untuk seorang anak yang luarbiasa. Dan itu mengapa Ayah sedang memperjuangkannya nak. Oke, baik ayah akan meneruskan cerita tentang calon ibumu ini nak, pertemuan terakhir kemarin kami berdua bersepakat untuk tidak berkomunikasi secara intens seperti sebelumnya, kami berdua sedang meluruskan niat, menguatkan segala niat baik. Bahwa untuk menikah memang butuh persiapan lahir batinnya, secara lahir kondisi ayah sekarang yang merintis usaha belum bisa dikatakan mapan. Secara batin, kami berdua sedang meluruskan niat, semoga Lillah, karena Allah, bersandar kepada Allah dari apa yang akan terjadi. Calon ibumu dilahirkan pada keluarga yang memegang adat kuat, dan biasanya untuk sebuah pernikahan di daerah Ibumu bisa menghabiskan biaya sekitar 100 juta, dan ayahmu ini sedang diminta oleh mamak calon ibumu 60% nya. Ayah sedang memperjuangkan itu nak, doakan dari sana ya. Ayah yakin Allah yang mempunyai segenap perbendaharaan, dan keyakinan ini yang sedang Ayah perjuangkan, sebagaimana perjuangan Siti Hajar ketika mencari air untuk Isma’il di antara bukit Shafa dan Marwa. Semoga demikian ya nak….

Jika bercerita tentang calon Ibumu, ayah tentu saja selalu ingin berpanjang-panjang, tidak ingin berhenti menceritakannya padamu. Tapi akan ayah lanjutkan di bagian selanjutnya.

Kutunggu kau lahir nak, dari sosok yang tepat yang menjadikanmu menjadi manusia seutuhnya. Salam sayang untukmu nak,…

Dari seorang Ayah yang sedang memperjuangkan Ibu untuk anak-anaknya.

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di Curhat. Tandai permalink.

2 Balasan ke Surat untuk calon Anakku.

  1. Afika AR berkata:

    Alhamdulillah. Semoga dimudahkan Pak. Aamiin 😊 Semoga saya juga segera dipertemukan ama calon bapak dari calon anak sy nanti ya 😊😊😊

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s