Memperjuangkan Ibu untuk Anakku.

Apa kabar pagi ini nak? Semoga kita semua tetap dalam hidayahNya sehingga bisa menjalankan setiap detik nikmat dariNya dengan kesyukuran yang tiada akhir. Ayah masih bingung menentukan pilihan, apa akan berlaku untuk bekerja lagi atau tetap istiqamah dalam merintis usaha yang sedang di jalankan. Setahun keluar dari pekerjaan terakhir, ayah sudah merintis usaha, dan boleh dibilang berjalan cukup baik, walau tidak bisa dibilang baik. Selama 13 bulan ini ayah pernah menangani proyek besar sekelas di Telkomsel dan Indocement, nilainya masih puluhan juta tapi itu sudah cukup membuat ayah merasa bahwa usaha ini berada di track yang benar. Hm, sampai ketika calon Ibumu sedikit menyadarkan, sampai kapan mau begini terus? Sampai kapan? Hm, saat terakhir bertemu Ayah memang tidak punya proyek apapun. Proyek terakhir yang dikerjakan di rumah artist cokelat Mb Kikan berakhir Zonk. Bahkan Ayah Rugi sekitar 1,2 juta. Ayah anggap itu wajar, karena memang resiko berwirausaha. Tapi dititik ini ayah berpikir, kalo begini, bagaimana Ayah bisa memperjuangkan Ibumu? Duh, menyakitkan sekali rasanya pertanyaan ini nak.

Modal nikah Ayah semua mencakup sekitar 35 juta nak, sementara kalo dihitung secara keseluruhan plus ongkos dan lainnya Ayah butuh 80 juta. Bagaimana Ayah mau berkata kepada Mamak calon Ibumu nak? Yaa Allah, Lahaula walaquwata Illa Billah……….. Dari semua ini ayah dan calon ibumu mengambil kesimpulan, untuk sementara Ayah akan memilih fokus mempersiapkannya semua, dan tidak berkomunikasi secara intens untuk beberapa yang sudah Ayah dan calon Ibumu sepakati. Dan Ayah akan komunikasikan semuanya kepada Mamak calon Ibumu mengenai hal ini. Tidak jadi masalah, Ayah pasrah saja pada Allah. DIA yang menjodohkan dan DIA pula yang punya khendak atas setiap peristiwa. Ayah perjuangkan dan ikhtiari, tapi hasil itu bukan wilayah ayah yang menentukan.

Selain daripada persiapan materi, Ayah juga belajar bagaimana bersikap ketika menjadi suami dan ayah kelak, seorang teman perempuan ayah punya pengalaman menikah dan gagal, katanya “Materi penting, tapi psikologi kesiapan juga penting” Menikah tidak melulu tentang cinta-cintaan, lebih dari itu menikah adalah kesiapan materi dan mental menerima perbedaan. Yaapp, dua orang yang tadinya hidup di lingkungan atau bahkan suku yang berbeda, kemudian dipertemukan dan dipersatukan dalam satu rumah, keluarga, itu tidak mudah, tapi tentu tidak menjadi alasan untuk bersusah-susah atau pisah. Karena inti dari kekeluargaan adalah saling menerima di antara duanya. Jika menerima segala kelebihan maka kamu harus siap menerima pula segala kekurangan. Prinsip itu penting ketika sudah akad berkumandang. Nak, doakan Ayah dan calon Ibumu supaya digigihkan dan dimudahkan jalannya menuju bahligai pernikahan. Dan dengan semua itu Ayah dan Ibumu nanti kelak bisa menjadi keluarga Sakinah Mawaddah Warahhmah yang bisa bahagia dan membahagiakan orang banyak. Aamiin…

Membicarkan tentang calon Ibumu nak, ayah selalu ingin berpanjang-panjang, tidak cukup 500 kata, masih banyak sekali yang ingin ayah ceritakan padamu nak, setidaknya ketika kau lahir dan besar nanti, lihatlah Ayahmu ini pernah memperjuangkan seseorang, Ibu untukmu lahir dari rahimnya..

Akan ayah tulis beberapa cerita selanjutnya di bagian berikutnya…

Dari seorang calon ayah yang merindukanmu nak,..

Iklan

Tentang Irman

Absurd, tapi punya fisik nyata, bisa dilihat, diraba, diplototin, sekaligus bikin ngangenin banyak orang.. Ciyuss
Pos ini dipublikasikan di Curhat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s