Diujung Tanduk

Saya harus berlaku lapang, ini sudah mulai kurang baik menurut saya. Si F, sebut saja begitu, sempat kesel dengan mamanya, dan ngomong ke saya kalo dia rasa-rasanya pengen kawin lari, sebel dengan sikap orangtuanya yang rasis akan kesukuan. Beranggapan suku batak adalah suku paling beradab sedangkan suku lainnya jeleeekk. Saya yang kelahiran betawi ini tentu sangat menyayangkan sikap rasis calon mertua saya itu. Dia tidak setuju jika anaknya saya nikahi hanya karena saya seorang yang lahir di tanah betawi.

Sebel dan kesel awalnya, tapi setelahnya saya kemudian berkaca, intropeksi dengan semua yang terjadi. Mungkin, bukan f jodoh saya, wallahualam. Saya harus mengukur diri saya pribadi dalam hal ini. Si f sosok mandiri dan berkarakter, cocok banget dijadikan seorang ibu untuk calon anak-anak saya kelak. Terlepas dari kesukuan saya merasa amat cocok dengan dia.

Saya ingat seorang teman yang bilang, mungkin kita yang belum siap, coba intropeksi diri, kitanya yang harus memperbaiki diri. Tidak mengapa, setelah ini saya jadi berkaca, banyak hal yang harus saya perbaiki. Terutama banyak hal, keterampilan hidup yang saya harus kuasai.

Terima kasih F, saya jadi belajar.

Berikut pesan saya ke mama si f yang tak kunjung dibalas, ohh baik saya memang tidak perlu balasan atas pesan saya ini. Saya sudah berusaha, mama si f malah sudah berkunjung ke rumah saya. Tadi saya telpon mamanya tapi tak kunjung dijawab, dan akhirnya pesan ini saya lancarkan saja ke mamanya, entah dibaca atau tidak, saya tidak tahu.
Pertama saya mohon maaf, atas kesalahan saya gara2 saya hubungan mama dan f jadi begini. Saling tegang berkepanjangan.
Yang kedua, saya mau tanya, intinya mama mau seperti apa? Apa ingin saya menjauh dari f? Kalo iya, saya akan ikuti, tapi beri saya alasan, supaya saya bisa terima.
Kemarin f sempet cerita kalo dia bilang kalo saya mau kuliah lagi. Itu semua wacana f, saya pribadi gak ada niatan buat kuliah lagi, kondisi saya sekarang adalah pedagang, usaha dengan jalur online, saya seneng belajar, tapi tidak untuk kuliah lagi. Saya lebih seneng belajar dengan mengikuti workshop atau yang sesuai dgn apa yg sedang saya tekuni sekarang. Bukan kuliah.
Anggapan keluarga mama yang bilang kalo saya cuma parasit yg numpang hidup, yang katanya nanti f yg akan malah bekerja keras, itu saya rasanya kok kesel yaa.. Saya laki-laki, dan tanggung jawab ekonomi ada di saya. Memang pendapatan saya belum besar, tapi InshaAllah cukup untuk hidup. Saya harus luruskan, tidak ada niat sama sekali buat numpang hidup ke f, atau kalo memamg f gak kerja lagi InshaAllah saya siap kok. 
Maa, saya lahir di suku dan orangtua sekarang, gak pernah pesen minta sama Allah, sama halnya mama juga gak pernah minta untuk dilahirin di suku batak. Saya tidak bisa menyalahkan Allah, untuk hal ini yang menjadikan saya lahir di suku dan org tua yg sekarang saya hidup. Ini adalah takdir yang harus saya terima dan jalani sama halnya mama menerima kalo mama lahir di suku batak. 
Jadi atas semua itu, saya gak mau membuang energi mama, membuang energi f, membuang energi kita semua atas semua ini. Karena terakhir f mengaku lelah, atas semua ini, pusing dan merasa bersalah karena didiemin berlama2. Kita gak perlu diem2an atau marahan untuk semua ini kan, Kita cukup ngomong dengan apa yang terjadi dan persepsi kita selama ini. Dan kiranya apa yang diinginkan? Terutama mama, apa yang mama inginkan. Saya rasa kita sudah dewasa untuk semua hal ini. 
Saya kira jika memang mama ingin saya dan f pisah, itu memang menjadi jawaban atas istikharah saya dan f dan mungkin juga mama, atas semua ini. Yang menitipkan rasa dan perasaan itu semua Allah, dan atas Khendak Allah juga semua terjadi. Jadi dalam urusan ini, saya sudah berusaha, mama sudah kenal saya, bahkan sudah mengunjungi rumah saya. Itu suatu penghargaan buat saya.

Dan saya minta mama mengambil kejelasan atas hubungan ini, supaya f bisa baik lagi ke mama. Saya tidak sedang mengambil anak org, f anak mama, tentu mama yg berhak untuk mengambil keputusan atas dia.
Terima kasih

Irman 

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di Curhat. Tandai permalink.

5 Balasan ke Diujung Tanduk

  1. Jejak Parmantos berkata:

    Semoga dimudahkan bang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s