Menerima Takdir Langit

“Jika kondisinya adalah sebuah pilihan, maka kamu tidak perlu memilihku untuk itu”

Kata-kata itu meluncur begitu saja, mudah sekali mulut ini mengatakannya. Kondisinya memang benar adanya. Jika seseorang disuruh memilih di antara keduanya. Ibu atau laki-laki pilihannya, maka saya katakan pilihlah ibunya. Itu terjadi kepada saya, atau lebih tepatnya ke satu sosok yang memperjuangkan laki-laki untuk dijadikan suaminya. Kondisinya jelas, saya ditolak karena berasal dari suku betawi yang dicap negatif oleh orang-orang di luar suku itu. F namanya, seorang wanita kelahiran batak. “Keputusan mama sudah final mas” Katanya lesu…

Saya yang membaca pesannya mencoba memberikan emood lucu, pura-pura tegar, walau hati serasa ditarik keubun-ubun. Sakit, menusuk sanubari.

“Tidak, apa-apa, kita sudah berjuang sejauh ini, seperti yang aku katakan sebelumnya. Jika kondisinya adalah sebuah pilihan, maka kamu tidak perlu memilihku” Jawabku bijak, mungkin tepatnya pura-pura bijak.

“Jika ada satu sosok yang akan menemanimu kelak, tolong infokan ke aku, supaya aku tau bagaimana caranya berhenti berharap” Katanya lagi melanjutkan.

Saya terdiam, hati serasa dihantam godam yang paling perih. Sungguh itu adalah pesan yang menyakitkan, sampai tulisan ini ditulis, saya tidak menjawabnya, biarkan saja, ini sudah benar adanya. Hati saya menyakinkan diri, mencubit pipi kiri kanan. Ini nyata…

Bapak saya sudah banyak bicara, dan mempersiapkan banyak hal untuk hal ini, mamanya sudah ke rumah, kita sudah bertemu antar keluarga, tapi Allah yang menetapkan segala perkara, apa yang harus saya lakukan, selain menerimanya. Ini menyakitkan tapi saya yakin ini adalah kebaikan, jika tidak untuk dua insan yang mencintai, maka ini adalah kebaikan untuk kemaslahatan dua keluarga. Tidak mengapa, yaap.. Tidak mengapa, meski hati ini terasa lumpuh, sakit sekali rasanya kawan. Maka setalah salat lohor tadi saya coba adzamkan untuk salat taubat 2 rakaat. Mohon ampun kepada Allah, atas seganap rasa cinta yang berlebihan, dan doa kebaikan kepada kami berdua, supaya bisa menerima atas perkara yang memang Allah tetapkan ini.

“Terima kasih untuk semua. Kamu sudah berjuang sejauh ini, itu luar biasa” Kataku lagi mengakhir percakapan.

 

Saya tidak tahu siapa jodoh saya, saya tidak tahu takdir apa yang Allah tetapkan selanjutnya, dalam perjuangan ini akhirnya pelajaran yang saya ambil adalah bahwa saya harus intropeksi. Bukan di luar kita yang salah, tapi kitanya saja yang belum siap. InshaAllah, Allah akan tetapkan kebaikan kepada hati masing-masing kita. Fu, siapapun jodohmu nanti, semoga bertujuan Lillah, karena Allah, dan begitupun jodohku kelak. Ingat pesan ketika umar mengadu kepada Nabi soal Jainab.

“Wahai Umar, sesungguhnya Usman akan menikah dengan seseorang yang lebih baik dari Jainab, dan Jainab akan menikah dengan seseorang yang lebih baik dari Usman”

Kenyataannya, Usman menikah dengan Ruqoyah putri Nabi, dan Jainab menikah dengan Nabi.

Jodoh memang misteri, Yaa Allah pertemukan kami dengan jodoh yang memang engkau tetapkan.

Pesan whatsapp dari F yang akhirnya saya publish juga.

“Assalamu’alaikum Mas
Maaf aku menghubungimu sekarang. Aku gak tahu ini waktu yang tepat atau tidak. Namun, aku tidak mau menggantungmu dan menggantung harapan orgtuamu.
Kemarin keputusan mama sudah final. Mama tidak Ridho kalau kita melanjutkan hubungan ini k arah yang lebih serius.
Aku sebagai anak hanya bisa manut. Aku marah, kesal dan ingin menyalahkan namun aku sadar posisi. Keluargaku agak keberetan dengan hubungan kita.
Aku ingin menyampaikan ini pd tanggal yg sdh kita tentutkan tp aku merasa sangat jahat karena seolah2 aku tetap memberimu harapan. Aku tidak ingin bangkit sendiri, aku juga ingin kamu bangkit. Allah yang menakdirkan kita bertemu, Allah yg menitipkan perasaan yakin dan Allah juga yg perlahan memperlihatkan jalannya.
Kalo aku bilang, aku ikhlas kamu cari calon istri yg baru, itu pasti bohong. Namun kita harus sama sama paham bahwa terkadang apa yg kita inginkan bisa tidak sesuai dengan keinginan Allah.
Terlepas dengan siapa kelak kita akan menikah, aku mau kita sama sama mencoba untuk ikhlas. Allah yg kuasa atas hati kita. Hasbunallah wa ni’mal wakiil.
Bukan kamu yg tidak pantas utkku tpi aku yg Tdk pantas untuk kamu. Kamu orang baik Mas, insha Allah akan bertemu dengan wanita baik juga 😇
Sampaikan salam dan permintaan maafku kepada Ibu dan Bapak. Mereka orangtua yang baik, semoga Allah menganugerahi mereka menanti yg baik pula. Aamiin
Tolong kabari aku jika kamu sudah punya calon istri yah agar aku tahu kapan waktunya berhenti berharap.
Semua kembali kepada Allah. Allah yg berkuasa dan kita tidak kuasa. Aku sedang meyakinkan diriku sendiri Allah sdng menuliskan takdir terbaik untuk kita berdua, apapun itu takdirnya.
Terima Kasih atas semua kebaikan yg Mas berikan. Semoga Allah membalas dengan kebaikan yang berlipat-lipat.

Selamat menjemput takdir selanjutnya Mas :)”

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di Curhat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s